Tatapan Ji Chang Wook Dan Won Jin Ah Dalam Teaser “Melting Me Softly” Bisa Bikin ‘Meleleh’

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Drama Korea “Melting Me Softly” yang dibintangi Ji Chang Wook dan Won Jin Ah, telah merilis trailer terbaru.

Dalam trailer tesebut menunjukkan bagaimana kesulitan PD Ma Dong Chan (Ji Chang Wook) dan karyawan paruh waktu Go Mi Ran (Won Jin Ah) menemukan diri mereka. Keduanya tampak memakai jam tangan yang memantau suhu tubuh mereka.

Ma Dong Chan melangkah ke lift yang penuh dengan orang dan memeriksa suhu tubuhnya. Karakternya menceritakan, “Saya membeku, jadi suhu tubuh saya tidak bisa naik di atas 33 derajat celcius.” Ia berdiri di hadapan Go Mi Ran, yang juga di lift, mengenakan jam tangan yang sama.

Bahkan ketika semua orang keluar, keduanya tetap berada pada jarak yang aman dari satu sama lain, meskipun mereka tidak dapat menyembunyikan senyum di wajah mereka.

Drama ini bergenre komedi romantis tentang seorang pria dan wanita yang berpartisipasi dalam sebuah proyek di mana mereka akan dibekukan selama 24 jam. Tetapi karena skema misterius, mereka akhirnya bangun 20 tahun kemudian.

Sebagai efek samping dari pembekuan 20 tahun, keduanya harus mempertahankan suhu tubuh inti di bawah 33 derajat Celcius (sekitar 91,4 derajat Fahrenheit) untuk bertahan hidup, tetapi ketika tubuh mereka memanas dari ketertarikan romantis, mereka menemukan bahwa ada lebih dari cinta pada garis.

Melting Me Softly” perdana 28 September pukul 9 malam KST dan akan tersedia di Viki dengan teks bahasa Inggris.

Tonton trailer terbaru mereka di bawah ini!

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini