Soal dan Jawaban Materi Pancasila 4-6 SD di TVRI 17 November 2020

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Program Belajar dari Rumah TVRI hingga kini masih terus berlanjut di masa new normal corona (covid-19).

Berikut soal dan kunci jawaban materi ‘Pancasila’ di TVRI untuk kelas 4-6 SD pada Selasa, 17 November 2020, dilansir dari Kemdikbud :

1. Siapakah yang merancang lambang negara Indonesia? Lalu kapan diresmikannya garuda sebagai lambang negara?
Lambang negara Indonesia dirancang oleh Sultan Hamid II dengan nama lengkap Syarif Abdul Hamid Alkadrie dari Pontianak.
Kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat tanggal 11 Februari 1950.

2. Jelaskan nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam pancasila!
1). Nilai Ketuhanan.
2). Nilai Kemanusiaan.
3). Nilai Persatuan.
4). Nilai Kerakyatan.
5). Nilai Keadilan.

Berikut penjelasannya:
1). Sila ke 1 Pancasila memiliki Nilai Ketuhanan, bermakna bahwa Indonesia mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa. Bermakna juga bahwa setiap warga negara diberikan kebebasan dalam beribadah dengan caranya masing–masing tanpa mendapat paksaan dari pihak manapun.

2). Sila ke 2 Pancasila memiliki Nilai Kemanusiaan, bermakna bahwa setiap tatanan masyarakat tidak terbatas kepada Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan wajib bersikap dan berperilaku sesuai norma dan adat istiadat yang berlaku, serta berhak mendapatkan persamaan derajat guna menciptakan keadilan dalam kemanusiaan.

3). Sila ke 3 Pancasila memiliki Nilai Persatuan, bermakna bahwa walaupun masyarakat Indonesia terdiri dari beragam pulau, etnis, suku, bahasa daerah, agama, warna kulit, dsb, namun tetap wajib mendapat persamaan kedudukan, serta persamaan kesejahteraan dibawah naungan pemerintah guna menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

4). Sila ke 4 Pancasila memiliki Nilai Kerakyatan, bermakna bahwa dalam tatanan bernegara di Indonesia perlu dilakukan secara demokrasi. Demokrasi yang berasalkan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat guna mencapai mufakat melalui lembaga–lembaga perwakilan.

5). Sila ke 5 Pancasila memiliki Nilai Keadilan, bermakna bahwa setiap lini maupun tingkatan masyarakat berhak mendapatkan kesamaan kesejahteraan dimana hal ini merupakan tujuan dasar bangsa Indonesia untuk mensejahterakan seluruh rakyatnya.

3. Jelaskan bagaimana bentuk pengamalan nilai-nilai pancasila di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat!
1). Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa

> Di Lingkungan Keluarga
– Berusaha menjadi anak yang shalih shalihah atau menjadi anak yang dekat kepada agama serta berbakti kepada ke dua orangtua.
– Mengajarkan nilai-nilai religius akan Ketuhanan Yang Esa.

> Di Lingkungan Sekolah
– Mengajak teman untuk shalat berjamaah.
– Saling menghormati teman yang berbeda agama.

> Di Lingkungan Masyarakat
– Saling menghargai antar teman yang berbeda agama.
– Mengajak teman seiman untuk berhijrah menjadi lebih baik.

2). Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

> Di Lingkungan Keluarga
– Tidak bersikap sewenang-wenang terhadap adik sendiri.
– Bertingkah penuh sopan dan santun terhadap orangtua.

> Di Lingkungan Sekolah
– Gemar membantu teman-temannya yang berada dalam kesusahan.
– Mentraktir teman untuk makan di kantin.

> Di Lingkungan Masyarakat
– Bermain bersama teman dengan penuh adab, tata krama, dan sopan santun.
– Tidak memanggil teman dengan sebutan yang buruk.

3). Sila 3: nilai Persatuan Indonesia

> Di Lingkungan Keluarga
– Tidak mudah bertengkar di dalam rumah.
– Senantiasa menjaga amarah dan emosi.

> Di Lingkungan Sekolah
– Berteman dengan siapa saja.
– Menghindari perbuatan tawuran antar sekolah.

> Di Lingkungan Masyarakat
– Menghindari perkelahian dengan teman.
– Menjaga hubungan silaturahmi dengan teman.

4). Sila 4: Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.

> Di Lingkungan Keluarga
– Tidak memaksakan anggota keluarga yang lain untuk berperilaku di luar kemampuannya.
– Menjadi kepala keluarga yang penuh tanggung jawab dan kasih sayang.

> Di Lingkungan Sekolah
– Melakukan musyawarah OSIS dengan musyawarah.
– Memilih pengurus-pengurus kelas secara arif.

> Di Lingkungan Masyarakat
– Bersama-sama menentukan formasi terbaik untuk bertanding dalam permainan sepak bola.
– Berunding untuk menentukan siapa yang berhak bermain pertama.

5). Sila 5: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

> Di Lingkungan Keluarga
– Menghargai seluruh hak-hak setiap komponen keluarga.
– Menjalankan kewajiban di rumah sebaik mungkin.

> Di Lingkungan Sekolah
– Menjadi ketua kelas yang amanah dalam mengemban tugas.
– Bersikap adil terhadap junior kelas.

> Di Lingkungan Masyarakat
– Tidak bermain permainan yang hanya menguntungkan diri sendiri.
– Tidak sombong terhadap teman apabila memenangkan permainan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini