Selain Langsung Dikonsumsi, Kurma Bisa Diolah Jadi Minuman, Ini Tipsnya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kurma terdiri dari dua varian yaitu kering dan basah. Jika kering, kurma mengandung sedikit air dibandingkan yang basah. Di Indonesia pun, kurma kerap menjadi suguhan sebagai sajian takjil atau pembuka puasa.

Namun ada juga yang memilih untuk mengonsumsi kurma dalam bentuk minuman hangat atau dingin. Hal ini umumnya dilakukan oleh orang yang tidak terlalu menyukai manis legit kurma. Maka, ada beberapa cara untuk mengolah kurma supaya bisa menjadi sajian minuman.

Pertama, untuk mengolah minuman sari kurma asli, bisa menggunakan kurma berjenis basah. Menurut FB Captain eL Hotel Royale Yogyakarta, Alfian Saktyawan, kurma basa kebih manis dan mudah dihaluskan.

Kedua, jika ingin membuat milkshake dari kurma, hal utama yang perlu dilakukan adalah memisahkan daging kurma dengan bijinya. Kupas juga kulit terluarnya, karena ketika dihaluskan menggunakan blender, kulit tersebut tidak akan halus sempurna.

Ketiga, mengingat kurma sudah mengandung banyak kadar gula maka cukup campurkan dengan fresh milk dan blender hingga halus. Jika masih kurang manis, bisa menambahkan brown sugar khusus untuk sajian hangat dan simple sirup untuk sajian dingin.

Keempat, khusus untuk minuman hangat bisa dengan memadukan kurma dengan rempah-rempah seperti jahe, kapulaga, sereh, daun pandan, cengkih juga kayu manis. Caranya dengan merebus rempah terlebih dulu kemudian disaring airnya. Lalu blender kurma dan campurkan dengan air rebusan rempah.

Terakhir, kurma kering juga bisa digunakan untuk topping. Baik untuk minuman atau topping pudding dan cake. Cukup mengiris kurma kecil-kecil kemudian taburkan ke dalam sajian.

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini