Selain Dikta, Ini Deretan Artis yang Jadi Korban Body Shaming

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dikta baru-baru ini menuliskan pesan panjang lebar dalam postingan di Instagram yang menjelaskan soal perubahan penampilannya.

Vokalis Yovie & Nuno itu secara terang-terangan ‘memanggil’ orang-orang yang sering mengomentari perubahan fisiknya belakangan. Dikta menulis dirinya dibilang pakai narkoba hingga dekil oleh netizen.

“Kurus dibilang narkoba. Kulit iteman dibilang dekil ga keurus. Gondrong dibilang kayak orang sakit. Endingnya ‘nikah gih biar ada yang ngurus'” tulis pemilik nama lengkap Pradikta Wicaksono tersebut.

Karena banyaknya komentar kurang menyenangkan seperti tiu, Dikta pun menjelaskan alasan di balik perkataan-perkataan netizen. Pria 35 tahun itu mengatakan bahwa ia memang sengaja membuatnya tubuhnya lebih kurus dan karena olahraga freedive.

Meski terkesan sepele, tapi aksi body shaming inni bisa sangat menyakiti korbannya loh, termasuk bagi para artis.

Lantas siapa saja artis yang jadi korban body shaming? Bagaimana dengan reaksinya, mari kita simak :

  1. Ricky Cuaca

Jauh sebelum penyanyi Dikta dituduh kurus lantaran narkoba, Ricky Cuaca sudah mendapatkan tudingan itu dari netizen. Hal tersebut terlihat dalam Instagram miliknya.

Ricky Cuaca akhirnya angkat bicara. Ia pun kesal mendengar tudingan yang dilontarkan kepadanya.

“Netizen aku kadang capek lo denger omongan kalian yang sok tau tentang aku….Aku tuh sebenarnya mencoba cuek aja, cuma ai kan manusia juga, dinilai atau dikomen brutal sama kalian enek juga lama-lama, aku begini tuh capek lo,” kata Ricky Cuaca dalam Instagram miliknya.

Ricky Cuaca juga menambahkan dirinya selama ini tidak pernah membuat sesuatu sensasi yang membuat kekesalan kepada banyak orang.

  1. Tasya Kamila

Shafa Tasya Kamila atau Tasya  pernah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan hati, tudingan ini Tasya dapatkan dari para netizen yang tidak Tasya kenali. Karena dinulai terlalu memiliki badan yang gemuk dan sampai ada yang mengatakan bahwa Tasya sedang dalam keadaan hamil. Tasya ternyata tidak gegabah dalam menanggapi hal ini, ia menggunggah kejadian ini ke insta story melalui akun instagram resminya. Dengan cara menycreem shoot dan melingkari komentar pedas tersebut.

  1. Nagita Slavina

Pernyataan kurang mengenakan datang dari ayah Ayu Ting Ting. Hal ini berawal karena Ayu di anggap menjadi seorang plagit gaya busana dan style dari Nagita.

Karena merasa tak terima Ayah Rozak membela sang anak dan diklaim bahwa Ayu Ting Ting memang memiliki Korean Style, menyatakan juga bahwa Ayu memilki badan yang bagus dan paras yang cantik. Dari hal tersebut Nagita tidak terlalu ambil pusing, Ia berusaha untuk tidak membaca komen dari para netizen perihal kasus ini.

  1. Raisa Andriana

Siapa sangka, artis cantik Raisa Andriana juga menjadi salah satu korban body shaming. Kalau itu, tidak lama setelah menikah, Raisa mengunggah foto dirinya dengan sang suami. Dari foto tersebut lah muncul berbagai komentar termasuk body shaming ya mengatakan bahwa pelantun lagu Terjebak Nostalgia ini terlihat kurus dan tidak secantik biasanya.

Tidak nyaman dengan komentar tersebut, sang suami Hamish Daud akhirnya menambahkam komentar bahwa dirinya mencintai sang istri dan yang ia tahu, Raisa adalah wanita yang paling cantik.

  1. Putri Titian

Putri Titian pernah dapat cibiran dari netizen. Istri Junior Liem disebut memiliki badan yang gemuk bahkan tak segan-segan oleh netizen Putri Titian disuruh untuk melakukan diet. Tidak mengambil banyak respon, Putri Titian hanya mengatakan untuk perihal badan dan kegemukan bukanlah urusan netizen.

Reporter: Widya Nurazizah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini