Sebelum Rilis Album Baru 5 November, Yuk Kenali Sejarah ‘ABBA’

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – ABBA atau dikenal dengan sebutan Eybibi’e kembali merilis album terbaru setelah hampir 40 tahun vakum di dunia tarik suara.

Grup yang terkenal melalui lagunya yang berjudul ‘Dancing Queen’ ini akan merilis album barunya bertajuk ‘Voyage’ pada 5 November mendatang.

Grup musik asal Swedia ini juga mengumumkan akan menggelar konser virtual yang berlangsung di kota London, Inggris pada tahun depan.

Konser ini mempersembahkan penampilan avatar digital berteknologi tinggi dari para musisi yang nantinya akan diputar di sebuah teater London dengan teknik motion-capture.

Konser Voyage ini diadakan di Queen Elizabeth Olympic Park, London, Inggris yang memiliki kapasitas penonton hingga 3.000 orang.
Grup ini beranggotakan 4 orang, yaitu Bjorn Ulvaeus, Benny Andersson, Agnetha Faltskog dan Anni-Frid Lyngstad. ABBA adalah akronim dari huruf pertama masing-masing anggotanya.

Grup bergenre pop-rock ini dibentuk pada tahun 1973. ABBA mulai menduduki tingkat popularitas saat mereka tampil dalam sebuah kontes Eurovision. Pada kontes tersebut, mereka menampilkan sebuah lagu berjudul ‘Ring’ dan menduduki peringkat ketiga. Lagu ini menjadi hits dan diminati oleh para penggemar.

Tahun selanjutanya mereka mencoba kembali di Eurovision dan hasilnya sangat mengejutkan. ABBA berhasil meraih posisi pertama dengan lagu berjudul ‘Waterloo’. Berkat kemenangannya pada kontes Eurovision tersebut, popularitas grup ABBA semakin menanjak hingga ke seluruh dunia.

Pada tahun 1977, ABBA membuat film berjudul ‘ABBA: The Movie’. ABBA telah melahirkan lagu-lagu popular tak lekang oleh waktu yang pernah menempati posisi pertama di tangga lagu berbagai negara, seperti ‘Waterloo’, ‘Mamma Mia’, ‘Dancing Queen’, dan ‘Chiquitita’.

Reporter: Shafira Annisa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini