Rock dan Dangdut, Berawal dari Perseteruan Kini Berkolaborasi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Perseteruan pernah terjadi antara Jerinx, drummer band beraliran rock Superman Is Dead (SID) dengan penyanyi dangdut terkenal Via Vallen, Perseturuan dipicu oleh salah satu penampilan Via Vallen di sebuah acara yang membawakan lagu dari SID berjudul ‘Sunset di Tanah Anarki’.

Jerinx mempermasalahkan Via karena tidak izin membawakan lagunya. Bukan hanya itu Jerinx menilai Via tidak mengerti pesan atau ‘ruh’ dari lagu tersebut.

Nama Via Vallen melejit berkat lagunya yang berjudul ‘Sayang’. Penyanyi yang menjadi pengisi dari pembukaan acara Asian Games 2018 itu, sudah biasa membawakan lagu-lagu dari band/musisi lain, dan Via menyanyikannya dengan gaya sendiri yaitu dangdut. Selain menganggap bahwa Via tidak peduli dengan pesan dari sebuah lagu, Jerinx menganggap bahwa Via tidak punya kontribusi terhadap gerakan sosial.

Ternyata perselisihan antara musisi rock dan dangdut pernah terjadi juga sebelumnya. Sekitar tahun 1970an, keributan sering kali terjadi antara penonton dangdut dan penonton rock. Benny Soebardja, pentolan dari grup band Giant Step yang beraliran hard rock, menghina musik dangdut dengan sebutan musik ecek-ecek yang kastanya jauh di bawah rock. Rhoma Irama yang merupakan penyanyi dangdut terkenal, pada saat itu marah dan mengatakan bahwa rock adalah musik terompet setan.

Dangdut merupakan salah satu genre musik yang paling disukai di Indonesia. Music dangdut memiliki karakter dan jiwa yang dekat dengan masyarakat kelas bawah. Mereka yang terpinggirkan menemukan ekspresi kebebasan saat bunyi suara tabla atau gendang yang membahana. Rasa penat dan lelah seketika hilang begitu saja dan tanpa perintah, tubuh turut mengimbagi ritme dengan berjoget.

Kehadiran Rhoma Irama merupakan salah satu anugerah bagi pecinta musik Indonesia. Rhoma Irama berhasil memasukkan unsur-unsur dari genre musik yang lain seperti pop dan rock ke dalam lagu-lagunya. Rhoma Irama juga membuat lagu-lagu dangdut yang bernuansa kritik sosial dan dakwah agama.

Berjalannya waktu, perseturuan antara rock dan dangdut lambat laun menurun, puncaknya pada 31 Desember 1977, di mana para pendukung musik dangdut dan rock bersatu dalam sebuah acara tahun baru. Penyebab bersatunya penonton tersebut adalah karena kolaborasi penampilan dari raja dangdut Rhoma Irama dan penyanyi rock Ahmad Albar. Pertama kalinya dalam sejarah, Soneta Grup orkes dangdut besutan Rhoma Irama sepanggung dengan God Bless.

Setelah itu, beberapa kali Soneta Grup dan God Bless berduet. Akhirnya terbukalah keran perdamaian dan persahabatan antara rock dan dangdut. Banyak kolaborasi yang terjadi setelahnya, antara penyanyi dangdut dan penyanyi rock. Seperti Benny Soebardja yang berkolaborasi dengan penyanyi dangdut Lies Saodah.

Perkembangan musik dangdut semakin terlihat, terlebih dengan munculnya aliran dangdut koplo. Era saat ini hampir semua lagu yang beraliran selain dangdut bisa dinyanyikan dengan gaya koplo, seperti lagu ‘Sunset di Tanah Anarki’ yang dibawakan oleh Via Vallen.

 

Reporter: Ananda Salsabila Nadira

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG dan Komitmen Pemerintah dalam Transparansi Anggaran Jaminan Gizi Berkualitas

Oleh: Dhita Karuniawati )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus diperkuat dari sisitata kelola anggaran agar pelaksanaannya berjalan transparan, akuntabel, dan tepatsasaran. Pemerintah menegaskan bahwa setiap komponen pembiayaan dalamprogram ini telah diatur secara ketat dan harus mengikuti standar yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa manfaat program benar-benar dirasakanoleh masyarakat, terutama anak-anak sebagai penerima utama program. Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalampelaksanaan MBG menegaskan bahwa anggaran untuk bahan makanan dalamprogram tersebut telah ditentukan secara jelas. Besaran anggaran tersebut beradapada kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi makanan, bukan Rp15.000 sepertiyang sempat beredar di masyarakat. Kebijakan ini ditetapkan agar penyedia makanandapat memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang bagi para penerima manfaat tanpamengabaikan prinsip efisiensi anggaran negara. Wakil Kepala Badan Bidang Komunikasi dan Investigasi BGN, Nanik S. Deyang, mengatakan bahwa angka Rp13.000–Rp15.000 yang muncul di beberapa sumber tidakmurni untuk bahan makanan, melainkan sudah termasuk biaya operasional, insentifmitra pelaksana, serta kebutuhan pendukung lain. BGN menegaskan bahwa semua penerima manfaat tetap akan memperoleh makananyang bergizi dan aman dikonsumsi. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wajib mengawasi kualitas bahan makanan, memastikan menu sesuai standar gizi yang ditetapkan. Nanik mengatakan Program MBG tetap memperhatikan kelompok prioritas seperti ibuhamil, ibu menyusui, dan balita usia 6–59 bulan. Kualitas makanan menjadi prioritasutama agar tujuan gizi masyarakat tercapai secara optimal. Masyarakat juga diberikan ruang untuk melaporkan dugaan penyimpangan dalam menu MBG. BGN memastikan setiap laporan akan ditindaklanjuti sesuai prosedur yang berlaku, demi menjaga transparansi dan akuntabilitas program. Dengan penegasan ini, BGN berharap publik memahami bahwa anggaran untuk bahanmakanan MBG tetap sesuai aturan Rp8.000–Rp10.000, dan setiap penerima manfaattetap memperoleh makanan bergizi tanpa mengurangi kualitas. Selain pengaturan standar anggaran, pemerintah juga memperkuat aspek transparansimelalui pengembangan sistem pelaporan keuangan yang terintegrasi. Upaya inidilakukan untuk memastikan bahwa seluruh proses pengelolaan dana dalam program MBG dapat dipantau dan diaudit dengan lebih mudah. Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Keuangan(Kemenkeu) meluncurkan E-Learning Penyusunan Laporan Keuangan pada SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta Aplikasi Pelaporan Keuangan SPPG. Hal itusesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan negaradan peraturan menteri keuangan nomor 168/ PMK.05/ 2015 sttd. PMK 173/PMK.05/2016 dan PMK...
- Advertisement -

Baca berita yang ini