Review Film ‘The Ambush’: Kisah Nyata yang Mengangkat Ketegangan Perang Antara Houthi dan Pasukan Uni Emirat Arab

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Di Yaman, ada pemberontak pemerintah yang dinamakan Houthi. Sekutunya, Uni Emirat Arab (UEA), memberikan bantuan pasukan militer ke Yaman pada 2015.

Kisah nyata peperangan antara pasukan militer dengan Houthi ini pun diangkat menjadi film aksi yang bertajuk ‘The Ambush’. Filmnya mengambil plot cerita dari kejadian serangan pada 2018.

Para pasukan militer UEA memiliki markas sendiri di daerah Yaman. Mereka selalu berpatroli untuk menetralisir serangan pemberontak pemerintah Yaman atau biasa disebut sebagai Houthi.

Namun ternyata pasukan Houthi telah mempersiapkan jebakan untuk menyerang militer UEA. Peperangan pun terjadi antara pasukan militer UEA dan Houthi.

Anggota militer UEA yang terjebak dalam serangan Houthi pun meminta bantuan pada markas pusat di Yaman. Banyak anggota militer UEA yang alami luka-luka dan bahkan ada yang gugur.

Hingga akhirnya militer UEA berhasil lolos dari serangan sengit Houthi dan semua anggotanya berhasil kembali ke markas.

‘The Ambush’ merupakan film aksi yang mengambil kisah nyata di medan perang di Yaman. Filmnya menampilkan visual effect yang detail sampai ketegangan filmnya terasa nyata.

Film: ‘The Ambush’

Sutradara: Pierre Morel.

Penulis: Brandon Birtell dan Kurtis Birtell.

Pemain: Omar Bin Haider, Marwan Abdullah, Mohammed Ahmed, Mansoor Al-Fili, Khalifa Albahri, Hassan Yousuf Alblooshi.

Film ini akan segera hadir di seluruh bioskop Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini