Review Film ‘Beast’: Perjalanan Keluarga yang Berujung Petaka

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sebuah perjalanan keluarga seharusnya menjadi momen yang menyenangkan dan tidak terlupakan. Namun, perjalanan keluarga dalam film ‘Beast’ justru menjadi mala petaka bagi keluarga kecil tersebut.

Film besutan Baltasar Komakur ini menggaet Idris Elba sebagai pemeran utama dengan memerankan karakter Dr. Nate Daniels yang merupakan seorang ayah dari dua anak perempuan, sekaligus peneliti.

Dalam cerita film ‘Beast’ Dr. Daniels harus menghadapi tantangan sebagai seorang ayah tunggal lantaran hubungannya dengan kedua putrinya menjadi kurang baik usai istrinya meninggal dunia.

Untuk memperbaiki hubungan, ia pun lantas berinisiatif mengajak kedua putrinya berlibur ke Mopane, sebuah cagar alam di Afrika Selatan yang dikelola oleh temannya Martin Battles (Shartlo Copley).

Tempat tersebut dipilihnya bukan tanpa alasan, melainkan karena Mopane merupakan tempatnya bertemu dengan sang istri untuk pertama kalinya.

Namun, perjalanan tersebut nyatanya menjadi sebuah mimpi buruk untuk keluarga kecil tersebut. Saat bersafari dan mengunjungi sebuah desa yang berada di dekat cagar alam tersebut dengan didampingi Martin Battles, Dr. Daniels dan kedua putrinya melihat warga desa tersebut tewas mengenaskan.

Mereka pun bertemu salah satu pria yang sekarat dan mengaku bahwa ia diserang oleh ‘diabolo’ yang berarti iblis.

Dr. Daniels dan Martin pun terkejut karena keduanya belum pernah melihat peristiwa serupa. Dengan keraguan, mereka menduga bahwa itu adalah ulah raja hutan. Namun, seekor singa biasanya tidak meninggalkan korban dalam kondisi masih hidup.

Dugaan mereka pun ternyata benar saat melihat dengan mata kepala sendiri seekor singa dengan ukuran yang cukup besar datang dan mencoba menerkam. Kisah mencekam dan teror dari seekor singa yang murka lantaran kawanannya diburu pun dimulai.

Film ‘Beast’ ini memiliki alur yang sangat cepat karena durasi filmnya yang sangat pendek yakni 1 jam 33 menit.

Namun, dalam durasi pendek itu penonton akan dibuat penasaran dan ikut merasakan ketegangan Dr. Daniels dan kedua putrinya yang harus berhadapan langsung dengan seekor singa.

Tidak hanya ikut merasakan ketegangan, penonton juga akan dibuat terenyuh dengan sikap Dr. Daniels yang begitu berusaha melindungi kedua putrinya hingga mengorbankan dirinya tercabik-cabik oleh singa tersebut.

Film yang diproduksi oleh Universal Pictures ini telah tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 24 Agustus 2022.

Film: Beast

Genre: Adventure, Drama, Thriller

Sutradara: Baltasar Kormakur

Produser: Bernard Bellew, Jaime Primak Sullivan

Penulis: Jaime Primak Sullivan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini