Pro dan Kontra Menikah karena Dijodohkan, Kamu Tim Mana?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Selama berabad-abad, perjodohan menjadi hal yang lumrah. Di mana dua orang yang tak saling mengenal dituntut untuk menikah. Belakangan, nikah karena perjodohan menuai pro dan kontra.

Bagi sebagian orang, ini bukanlah hal yang mudah jika kita tak memahami dengan baik. Namun, menikah karena perjodohan tidak sepenuuhnya buruk ya.

Sebagian orang menilai menikah karena perjodohan tak memiliki banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Sebab menurut “tim” ini, mengenal lebih dalam pun tak menjami bahagia saat menikah nanti, apalagi hanya mengenal sekadarnya!

Melansir Times of India, berikut pro dan kontra dari pasangan yang menikah karena dijodohkan atau tanpa berkencan.

Tim Pro yang menikah karena dijodohkan

Mereka yang mempercayai keputusan orang tua untuk menikahkan mereka dengan keluarga yang terhormat dan baik, tidak memiliki masalah dalam menyesuaikan diri dengan seseorang yang tidak dikenalnya.

Pasangan seperti itu sangat menjunjung tinggi prinsip, agama, etika, serta cenderung memiliki kepribadian yang lebih tegas dan tenang. Mereka memercayai keputusan orang yang lebih tua dan dengan cepat belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Fokus pada saat ini dan masa depan

Seperti yang kita semua tahu, masa lalu tidak memiliki arti penting dalam cinta, kehidupan, dan hubungan karena sekarang dan masa depan adalah yang terpenting. Jadi, jika Anda tidak mengenal orang yang akan Anda nikahi, Anda selalu bisa fokus untuk mengenal mereka lebih baik di masa depan.

Meningkatkan status sosial

Setiap orang tua selalu mencari pasangan yang berasal dari keluarga terpandang dan terhormat. Menikah dengan keluarga yang memiliki status sosial yang tinggi memastikan kualitas hidup bagi pasangan yang baru menikah dan generasi yang akan datang.

Kesamaan budaya

Budaya dan agama memainkan peran besar dalam menentukan individu yang tepat untuk menikah. Menikah dengan orang yang memiliki nilai dan kepercayaan budaya yang sama memudahkan pasangan untuk berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat baru mereka. Ini akan mencegah konflik di masa mendatang.

Keputusan rasional

Perjodohan dianggap sebagai keputusan rasional, bukan keputusan emosional. Dalam contoh seperti itu, orang dapat mengevaluasi semua faktor termasuk faktor bahaya dan melihat keputusan untuk menikah dari sudut pandang yang objektif.

Tim Kontra yang menikah karena dijodohkan

Tidak cocok satu sama lain

Karena kurangnya waktu, pasangan yang sudah menikah tersebut tidak saling mengenal dan sering kali mengetahui bahwa mereka berdua tidak benar-benar cocok. Hal ini menyebabkan perselisihan dan perkelahian yang serius. Meski begitu, beberapa saat kemudian, orang hanya tunduk pada keinginan pasangannya untuk menghindari pertengkaran.

Kurangnya kepercayaan di awal

Pasangan yang sama sekali tidak mengenal satu sama lain, saat menikah akan menghadapi masalah terkait kepercayaan. Kurangnya kepercayaan yang signifikan pada pengantin baru bisa menjadi sangat sulit, yang dapat menyebabkan masalah di masa depan. Ketidakpercayaan dan komunikasi yang kabur adalah salah satu penyebab utama perceraian di antara pasangan.

Masalah keluarga

Kurangnya komunikasi yang tepat dan kepercayaan antara pasangan memainkan kerugian besar di antara keluarga mereka juga, karena perselisihan antara pasangan berubah menjadi perselisihan rumah tangga dalam waktu singkat. Mertua cenderung ikut campur dalam masalah pernikahan yang lambat laun bisa berubah menjadi racun dalam jangka panjang.

Tidak ada pilihan pribadi

Seringkali, orang tidak memiliki suara dalam pernikahan mereka sendiri, meskipun pilihan pribadi terkait pernikahan dianggap sebagai hak asasi manusia. Para sesepuh dan orang tua memiliki keunggulan dalam pernikahan semacam itu. Pasangan yang terpilih tidak akan punya pilihan selain menerima lamaran pernikahan, meski mereka sama sekali tidak tertarik dengan calon mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG sebagai Pilar Strategis Mewujudkan Generasi Emas Indonesia

Oleh: Dewi Puteri Lestari* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto merupakan langkah visioner yang menegaskan keberpihakan negara terhadap masa depan generasi muda. Kebijakan ini tidak dapat dipandang secarasempit sebagai program distribusi makanan semata, melainkan sebagai strategi besar pembangunan sumber daya manusia yang dirancang secara sistematis, terukur, dan berorientasi jangka panjang. Dalam konteks persaingan global yang semakin kompetitif, kualitas manusia menjadi faktor penentu daya saing bangsa. Karena itu, intervensi negara pada aspek gizi anak sekolah merupakan keputusanstrategis yang mencerminkan kepemimpinan yang berpandangan jauh ke depan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa MBG tidak mengurangiprogram maupun anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan tetap berada pada porsi 20 persen APBN dengan nilai Rp 769,1 triliun, sesuai amanat konstitusi. Seluruh program pendidikan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bahkanmengalami penguatan. Penegasan ini menunjukkan bahwa pemerintah bekerjadengan perencanaan fiskal yang matang, berbasis data, serta melalui koordinasiintensif dengan DPR. Dengan fondasi anggaran yang kokoh dan legitimasi politikyang kuat, MBG hadir sebagai penguat ekosistem pendidikan nasional. Dukungan parlemen terhadap MBG juga memperlihatkan kesadaran kolektif bahwainvestasi pada generasi muda harus ditempatkan sebagai prioritas utama. KetuaBadan Anggaran DPR RI...
- Advertisement -

Baca berita yang ini