Milenial Wajib Tahu, Begini Sejarah Hari Radio Nasional

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Radio menjadi salah satu media massa yang masih bertahan di era digital. Eksistensinya masih terjaga, meski tidak se-populer zamannya.

Meski begitu, radio selalu menjadi bagian dari kehidupan. Untuk itu, selalu diperingati Hari Radio Nasional pada 11 September 2021.

Lantas, bagaimana sejarah Hari Radio Nasional?

Dalam acara I-Tems di Mata Milenial Indonesia TV, membahas tentang sejarah dari Hari Radio Nasional.

Peringatan Hari Radio Nasional bersamaan dengan berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945. Pada awalnya, perkembangan radio di Indonesia dimulai oleh Batavia Radio Vereniging (BRV) pada 16 Juni 1925 di Batavia atau Jakarta.

Dari situ, radio pun terus berkembang dengan konsep serupa. Hingga hadirnya radio Nirom.

Selain untuk menyebarkan informasi, radio pada saat itu juga digunakan untuk sebagai alat propaganda Jepang untuk Indonesia. Tak hanya itu, radio juga menjadi saksi sejarah dalam menyebarkan momentum proklamasi kemerdekaan.

Mengapa 11 September?

Tanggal tersebut dipilih sebagai Hari Radio Nasional, mengapa? Pada tanggal 11 September 1945, delegasi radio berkumpul di bekas gedung Raad Van Indje Pejambon.

Pertemuan itu dihadiri oleh wakil-wakil dari delapan bekas radio Hosu Kyoku, yakni Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto Harto dan Maladi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini