Meghan Markle Takkan Hadir di Pemakaman Pangeran Philip

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Istri pangeran Harry, Meghan Markle takkan menghadiri pemakaman pangeran Philip. Wanita asal Amerika Serikat itu sedang mengandung anak kedua.

Pangeran Philip meninggal dunia pada Jumat 9 April 2021 di Kastil Windsor di usia 99 tahun. Rencananya, beliau akan dimakamkan pada 17 April mendatang.

Berdasarkan keterangan juru bicara kerajaan, pangeran Harry akan terbang ke Inggris dari Amerika Serikat untuk menghadiri pemakaman kakeknya itu. Tapi, Meghan tak bisa hadir karena tidak mendapat izin dari dokter terkait kondisinya yang sedang hamil.

“The Duke of Sussex berencana hadir di pemakaman. The Duchess of Sussex disarankan oleh dokter tidak melakukan perjalanan jauh. Jadi, duke akan datang ke pemakaman,” bunyi pernyataan kerajaan Inggris, dikutip dari People, Senin 12 April 2021.

Harry dikabarkan sudah tiba di Inggris dan menjadi yang pertama kali kembali ke tanah kelahirannya sejak memutuskan keluar dari anggota kerajaan sekitar satu tahun lalu.

Ini juga menjadi pertama kalinya Harry berjumpa dengan anggota kerajaan usai wawancara kontroversialnya bersama Oprah Winfrey beberapa waktu lalu.

Dalam upacara pemakaman nanti, dibatasi hanya 30 orang yang bisa hadir berdasarkan peraturan pemerintah Inggris di tengah pandemi Covid-19. Hanya keluarga inti, termasuk anak dan cucu, yang bisa hadir di upacara pemakaman di St George chapel.

Meski hubungan Harry dan keluarga kerajaan sedang kurang baik, pria berusia 36 tahun itu dikenal sangat dekat dengan kakeknya. Pangeran Philip berperan besar pada perkembangan Harry dan kakaknya, William, setelah ibunya, Putri Diana, meninggal dunia di 1997.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini