Marshel Widianto Beli Konten Porno Dea OnlyFans, Celine Evangelista: Kenapa Nggak Minta Foto Aku Aja? Gratis

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Celine Evangelista menggoda Marshel Widianto di Instagram. Dia kecewa karena pria berusia 25 tahun itu membayar untuk konten Dea OnlyFans, alih-alih meminta foto dirinya secara gratis.

Marshel terseret di kasus Dea OnlyFans. Komika itu membeli konten porno tersebut dengan alasan ingin membantu Dea yang sedang kesulitan ekonomi.

Pria kelahiran Tanjung Priok itu sudah menjalan pemeriksaan selama hampir empat jam di Polda Metro Jaya, Kamis 7 April 2022. Status Marshel sebagai saksi, tapi bukan tak mungkin bisa dijadikan tersangka.

Celine, yang dekat dengan Marshel setelah bersama-sama main di program televisi yang sama, kecewa dengan pria berambut keriting itu karena membayar mahal untuk membeli konten Dea OnlyFans. Padahal, dia bersedia memberi foto-foto untuk Marshel secara gratis.

“Lagi BT ama Ayang. Kenapa nggak minta foto aku aja sih. Kan aku banyak stock bisa kasih gratis,” tulis Celine.

Tapi, foto yang dimaksu Celine bukan foto syur. Melainkan foto-foto dirinya saat main kelereng.

“Banyak stock foto unyu-unyu aku main kelereng maksudnya yang. Tolong tag-in ayang aku dong guys,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini