Kebiasaan Bernapas Melalui Mulut, Bolehkah?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Pada umumnya manusia bernapas melalui hidung. Namun ada keadaan tertentu terkadang mengharuskan bernapas lewat mulut. Seperti ketika hidung tersumbat atau sedang melakukan aktivitas olahraga.

Alasan seseorang bernapas melalui mulut bisa karena terbiasa, atau memang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Misalnya pada penderita sleep apnea.  Mereka bernapas lewat mulut ketika tidur di malam hari.

Selain itu, terdapat banyak kondisi dan faktor risiko mengapa seseorang bernapas melalui mulut. Misalnya alergi, asma, pilek kronis, septum hidung yang miring, pembesaran amandel, mengisap jari, dan polip sinus.

Bila terlalu sering dilakukan, khawatir bisa mengganggu kesehatan. Sebenarnya, apa saja bahaya bernapas melalui mulut?

Dilansir dari Hallo Sehat, bernapas lewat mulut membantu paru-paru meraup lebih banyak oksigen dengan lebih cepat ketimbang lewat hidung. Dengan begitu, udara bisa langsung mengalir ke otot-otot tubuh.

Tetapi, jika hal ini dilakukan terus menerus akan menimbulkan masalah kesehatan. Penjelasan dalam studi jurnal The Layngoscope, bernapas dengan mulut bisa berakibat buruk untuk kesehatan karena tidak ada organ khusus di dalam mulut yang berfungsi menghangatkan, menyaring dan melembapkan udara yang masuk.

Hal tersebut berakibat udara yang masuk ke dalam mulut langsung mengalir ke saluran napas tanpa ada saringan. Kondisi ini yang bisa menjadi penyebab masalah pernapasan akibat infeksi bakteri, virus, jamur, maupun parasit.

Selain itu, kebiasaan bernapas lewat mulut akan membuat bagian dalam mulut kering. Dampak negatif lain jika Anda terbiasa bernapas lewat mulut dalam jangka panjang lainnya adalah suara serak, merasa capek setelah bangun tidur, dan muncul lingkaran hitam di bawah mata.

Hidung merupakan benteng pertahanan pertama tubuh untuk menyaring benda asing dari luar. Termasuk kuman, polusi, dan racun dari udara yang terhirup. Di dalam hidung, terdapat rambut-rambut halus yang berfungsi membersihkan udara dari partikel asing. Setelah melalui proses penyaringan, udara akan bergerak melalui saluran hidung dan berubah menjadi lebih hangat dan lembap sebelum sampai ke paru-paru.

Terjadinya pemanasan suhu ini bertujuan agar saluran napas dan paru-paru tetap bersih dan tidak ikut mengering karena aliran udara.

Udara yang lebih hangat mampu menjaga elastisitas paru untuk menyerap dan menyimpan oksigen dengan lebih baik.

Tertulis dalam ulasan ilmiah The Health Benefits of Nose Breathing, bernapas dengan hidung merangsang produksi nitrit oksida yang mampu meningkatkan kemampuan paru menyerap oksigen. Dan mengedarkannya ke seluruh jaringan serta organ tubuh.

Nitrit oksida juga membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi dan penyakit karena jamur, virus, parasit, hingga bakteri.

Bernapas lewat hidung lebih baik dari mulut. Namun, bukan berarti tidak boleh sama sekali bernapas lewat mulut. Sesuaikan saja dengan keadaan hidung. Apakah hidung Anda sedang mengalami masalah kesehatan seperti pilek atau hidung tersumbat.

Reporter : Alyaa

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini