Karier Modelling Nafa Salvana, Dari Warung Pecel Lele Sampai Milan Fashion Week

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Usai kehebohan Paris Fashion Week, kini salah satu model Indonesia juga viral di media sosial. Ia adalah Nafa Salvana yang kisahnya dibahas di sosial media.

Melalui sebuah cuitan akun di media sosial, Nafa adalah model yang mengikuti ajang Milan Fashion Week. Fakta menariknya, ia dahulu tidak memiliki basic modelling. Mengejutkannya lagi, Nafa ternyata direkrut oleh salah satu agensi model ketika ia sedang makan di warung pecel lele!

Fakta tersebut kemudian dikonfirmasi sendiri oleh Nafa melalui akun Twitternya @chewmocca.

“Huhu terimakasih banyaakk. Tapi emang iya, ketemu agency pas lagi makan di pecel lele deket kampus.”

Saat dihampiri oleh agensi, Nafa hanya mengenakan pakaian biasa seperti anak muda pada umumnya. Di dalam cuitannya, ia mengaku bahwa ia hanya menggunakan kaos sebagai atasan dan celana jeans saja.

Meskipun Nafa tidak memiliki basic modelling sama sekali, Nafa mengatakan bahwa ia memang tertarik dan tahu beberapa supermodel. Nafa juga memiliki look wajah dan postur tubuh yang memang cocok untuk menjadi model atau model material.

Saat dihampiri oleh agensi Who Knows di warung pecel lele, ia diwawancara langsung oleh Raihan Fahrizal. Nafa tahu bahwa Raihan Fahrizal adalah model pria Indonesia pertama yang mengikuti ajang runway YSL. Itulah mengapa ia langsung yakin bahwa ia benar-benar direkrut oleh agensi model asli, bukan abal-abal.

Agensi Who Knows ternyata bekerja sama dengan agensi internasional The Claw Models yang berbasis di Milan-Paris. Melalui agensinya, ia kemudian bisa terhubung dengan The Claw Models Milan. Ia pun menjadi model di agensi tersebut pada Desember 2021.

Nafa sendiri adalah warga Karawang, Jawa Barat. Sebelum memulai karir modelnya, Nafa adalah seorang mahasiswa jurusan DKV di Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung.

Setelah kisahnya viral, ada beberapa netizen yang bertanya mengenai nasib pendidikannya. Nafa kemudian menjelaskan bahwa sebelum berangkat ke Milan Fashion Week, Nafa sudah membicarakan mengenai hal ini kepada pihak kampus dan Program Studinya.

Ternyata ia mendapat sambutan positif dan dukungan dari dosen-dosennya. Bahkan jika terasa terlalu terbebani antara kuliah dengan job modelnya, ia diasarankan mengambil cuti oleh dosennya. Nafa mengungkapkan bahwa salah satu pekan mode terbesar di dunia yang digelar pada Februari lalu, Milan Fashion Week, merupakan debut dirinya di atas panggung fashion.

Reporter: Dinda Nurshinta

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Langkah Koordinatif Ditempuh Untuk Jaga Stabilitas Rupiah

*) Oleh: Dinda ParamitaNilai tukar rupiah selalu menjadi salah satu indikator yang paling sensitif terhadapperubahan kondisi ekonomi global. Ketika ketidakpastian meningkat akibat gejolakgeopolitik, kebijakan moneter negara maju, maupun pergeseran arus modal internasional, tekanan terhadap mata uang negara berkembang hampir tidakterhindarkan. Dalam konteks tersebut, langkah cepat dan terkoordinasi yang dilakukan pemerintah bersama otoritas ekonomi menjadi faktor penting untuk menjagastabilitas dan membangun kepercayaan pasar. Karena itu, berbagai kebijakan yang saat ini ditempuh menunjukkan bahwa Indonesia tidak tinggal diam menghadapitantangan eksternal yang terus berkembang.Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwapemerintah telah mengidentifikasi tekanan utama terhadap rupiah berasal daridinamika aliran modal global. Pelemahan nilai tukar bukan semata-mata dipengaruhifaktor domestik, melainkan juga merupakan konsekuensi dari perubahan perilakuinvestor internasional yang cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih amandi tengah ketidakpastian dunia. Oleh sebab itu, kesepakatan koordinatif antarapemerintah, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan untuk meredam capital outflow menjadi langkah tepat. Sinergi antarlembaga menjadi fondasi penting agar respons kebijakan berjalan efektif dan tidak bergerak sendiri-sendiri.Koordinasi tersebut mencerminkan kematangan tata kelola ekonomi nasional dalammenghadapi tekanan pasar. Pengalaman berbagai krisis sebelumnya menunjukkanbahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dijaga hanya dengan satu instrumen kebijakan. Dibutuhkan harmonisasi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan agar mampu menciptakan efek penguatan yang saling melengkapi. Dalam situasi saat ini, langkah pemerintah memperkuat koordinasi justru mengirimkan sinyal positif bahwapengambil kebijakan memiliki kesamaan pandangan dalam menjaga stabilitasekonomi nasional.Di sisi lain, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan bahwa arusmasuk dana asing mulai terlihat di pasar domestik. Indikasi tersebut menjadi kabarbaik karena menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih memilikidaya tarik di mata investor...
- Advertisement -

Baca berita yang ini