Ini Kebiasaan Sarapan yang Bikin Kamu Gampang Lelah

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Makan pagi atau sarapan memang kaya manfaat, salah satunya sebagai sumber energi. Sarapan layaknya ‘bahan bakar’ untuk mengisi energi setelah tidur malam dan memulai aktivitas sepanjang hari.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang melewatkan sarapan karena terburu-buru atau gak sempat. Gak cuma itu, masih sering juga ditemukan beberapa kebiasaan saat sarapan yang tidak disadari berdampak buruk bagi kesehatan tubuh.

Salah satu dampaknya ternyata bisa bikin tubuh jadi mudah lelah loh. Bukannya lebih berenergi karena sudah sarapan, kamu malah jadi kecapekan pada siang hari.

Dikutip dari sumber, setidaknya ada enam kebiasaan saat sarapan yang tanpa disadari bikin tubuh gampang lelah. Apa saja itu? Yuk, simak!

1. Terlalu Banyak Minum Kopi

Biasanya, minuman berkafein seperti kopi jadi teman makan pagi yang paling cocok ya. Namun, jika kamu mengkonsumsinya terlalu banyak, justru bikin kamu gampang lelah di siang hari.

Kafein dalam kopi bisa membuat tubuh cepat lelah jika dikonsumsi berlebihan. Selain itu, kamu juga bisa mudah stres, gugup, cemas dan mudah marah jika terlalu banyak mengkonsumsi kopi di pagi hari.

2. Tidak Mengkonsumsi Karbohidrat yang Cukup

Tahukah kamu tubuh yang tidak mendapatkan cukup karbohidrat bisa membuatmu lesu? Nah, hal ini menjadi alasan mengapa asupan karbohidrat sangat penting saat sarapan.

Tapi, bukan sembarangan karbohidrat loh. Agar tubuh tidak gampang lelah dibutuhkan karbohidrat kompleks. Karbohidrat dengan serat tinggi seperti roti gandum, oatmeal dan granola nyatanya memiliki lebih banyak nutrisi dan lebih lama dicerna tubuh sehingga dapat memberi energi lebih lama.

3. Kurang Minum Air Putih

Minum air putih jangan menunggu haus. Saat pagi hari pun kamu perlu mengkonsumsi air putih yang cukup. Sebab, jika asupan air putihmu kurang, kamu bisa dehidrasi dan menjadi penyebab kelelahan pada siang hari dan sakit kepala ringan.

Maka dari itu, selalu konsumsi air putih yang cukup saat sarapan pada pagi hari. Selain itu, minum air putih minimal delapan gelas per hari juga akan menjaga tubuh tetap fit.

4. Porsi Sarapan Terlalu Sedikit

Siapa yang lebih banyak makan malam ketimbang sarapan? Itu kesalahan besar loh. Ada baiknya, kamu memperbanyak porsi sarapan ketimbang makan malam ya.

Porsi sarapan yang cukup dan bergizi dapat memberi energi untuk beraktivitas seharian. Sarapan dengan porsi mini dan seadanya tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tubuh.

Dengan demikian, tambahkan lagi porsi makan pagimu agar kamu lebih berenergi ya.

5. Mengkonsumsi Makanan Sisa Kemarin

Pernahkah kamu menyimpan sisa makanan saat makan malam dan berencana mengkonsumsinya lagi di pagi hari? Ternyata hal itu pantang kamu lakukan loh.

Pasalnya, jika kamu sarapan dengan makanan sisa semalam, maka bisa bikin tubuhmu cepat lelah. Hal ini disebabkan makanan sisa atau yang dipanaskan biasanya kekurangan nutrisi meski sudah disimpan sebaik mungkin.

Gak cuma bikin lelah, sarapan dengan makanan sisa semalam bisa bisa mengganggu sistem pencernaan dan menyebabkan kenaikan berat badan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Efisiensi MBG Tanpa Mengurangi Kualitas Gizi Penerima Manfaat

Oleh : Andika PratamaProgram Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintahdalam membangun sumber daya manusia Indonesia yang sehat, unggul, dan berdaya saing. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai instrumen pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakangenerasi produktif yang akan menentukan masa depan bangsa. Oleh karena itu, langkahpemerintah melakukan efisiensi anggaran MBG perlu dipahami sebagai upaya memperkuatkeberlanjutan program, bukan sebagai bentuk pengurangan komitmen terhadap kualitas layanangizi bagi masyarakat.Belakangan, pemerintah melakukan penataan ulang tata kelola dan anggaran MBG. Kebijakantersebut diproyeksikan mampu menghemat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga sekitar Rp1 triliun setiap bulan atau mencapai Rp12 triliun dalam setahun. Efisiensitersebut dilakukan melalui berbagai langkah strategis, mulai dari moratorium pendirian SatuanPelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru, penataan insentif operasional, hingga penyempurnaansasaran penerima manfaat agar lebih tepat guna dan tepat sasaran.Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, menjelaskan bahwa efisiensidilakukan melalui perbaikan tata kelola program sehingga anggaran negara dapat digunakansecara lebih optimal. Menurutnya, fokus pembangunan ke depan akan diarahkan pada wilayahtertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta kelompok masyarakat yang paling membutuhkanintervensi gizi. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak sedang mengurangiesensi program MBG, melainkan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh kelompokyang memiliki tingkat kerentanan tertinggi.Dalam perspektif kebijakan publik, efisiensi tidak identik dengan pengurangan kualitas. Sebaliknya, efisiensi merupakan instrumen untuk memastikan setiap rupiah anggaranmemberikan dampak maksimal bagi masyarakat. Selama ini, tantangan utama dalam program-program berskala nasional bukan hanya soal besarnya anggaran, tetapi juga efektivitas distribusidan ketepatan sasaran. Fokus baru MBG yang mengutamakan ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak usia dinimerupakan keputusan yang didasarkan pada pertimbangan ilmiah dan kebutuhan kesehatanmasyarakat. Kelompok-kelompok tersebut merupakan fase kritis dalam pembangunan kualitassumber daya manusia. Kekurangan gizi pada masa kehamilan dan usia dini dapat menimbulkandampak jangka panjang, termasuk stunting, gangguan perkembangan kognitif, hingga penurunanproduktivitas pada masa dewasa. Dengan mengarahkan intervensi kepada kelompok yang paling rentan, pemerintah berupaya memastikan bahwa manfaat program dapat menghasilkan dampakkesehatan yang lebih besar.Langkah efisiensi juga mencerminkan komitmen pemerintah terhadap prinsip akuntabilitasfiskal. Dalam situasi kebutuhan pembangunan yang semakin beragam, setiap program harusmampu menunjukkan efektivitas penggunaan anggarannya. Menteri Keuangan Purbaya YudhiSadewa menegaskan bahwa efisiensi yang dilakukan bukanlah bentuk pemotongan sepihakterhadap program MBG, melainkan berasal dari inisiatif internal Badan Gizi Nasional yang melihat adanya ruang optimalisasi dalam pelaksanaan program. Pernyataan tersebut pentingkarena menunjukkan bahwa efisiensi lahir dari proses evaluasi teknis yang dilakukan olehpelaksana program sendiri.Lebih jauh, efisiensi yang dilakukan dapat membuka ruang fiskal bagi pemerintah untukmemperluas jangkauan manfaat program pada masa mendatang. Dana yang berhasil dihematdapat dialokasikan untuk memperkuat kualitas bahan pangan, meningkatkan pengawasandistribusi, memperluas cakupan layanan di daerah terpencil, maupun mendukung program pembangunan lainnya yang memiliki keterkaitan langsung dengan peningkatan kesejahteraanmasyarakat..Penataan jumlah SPPG juga menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan efektivitasprogram. Dengan jumlah titik pelayanan yang telah melampaui target awal, pemerintah perlumemastikan bahwa seluruh fasilitas yang ada beroperasi secara optimal dan mampu memenuhistandar pelayanan yang ditetapkan. Pendekatan ini akan membantu menghindari pemborosansumber daya sekaligus memperkuat kualitas pengawasan terhadap pelaksanaan program di lapangan.Di sisi lain, masyarakat perlu melihat kebijakan efisiensi ini secara objektif dan proporsional. Keberhasilan suatu program sosial tidak semata-mata diukur dari besarnya anggaran yang dikeluarkan, melainkan dari sejauh mana manfaat yang diterima masyarakat sasaran. Apabiladengan anggaran yang lebih efisien pemerintah mampu menjangkau kelompok rentan secaralebih tepat, menjaga kualitas makanan bergizi, serta meningkatkan efektivitas distribusi, makatujuan utama program tetap dapat tercapai bahkan dengan hasil yang lebih optimal.Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya menjaga keberlangsungan MBG, tetapi jugamemastikan kualitas gizi yang diberikan tetap memenuhi standar kesehatan yang telahditetapkan. Transparansi pengelolaan anggaran, penguatan sistem pengawasan, keterlibatanpemerintah daerah, serta partisipasi masyarakat akan menjadi faktor penting dalam menjagakepercayaan publik terhadap program ini. Evaluasi berkala juga perlu terus dilakukan agar setiapkebijakan penyesuaian dapat didasarkan pada data dan kebutuhan riil di lapangan.Pada akhirnya, efisiensi MBG harus dipandang sebagai bagian dari upaya pemerintahmembangun program yang lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Dengan tatakelola yang semakin baik, fokus pada kelompok rentan, serta komitmen menjaga kualitas gizipenerima manfaat, program MBG dapat terus menjadi instrumen penting dalam mencetakgenerasi Indonesia yang sehat dan berkualitas. Efisiensi yang dilakukan bukanlah penguranganmanfaat, melainkan langkah strategis untuk memastikan bahwa setiap anggaran yang digunakanbenar-benar menghasilkan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan masa depan bangsa.*Penulis adalah Pengamat Sosial
- Advertisement -

Baca berita yang ini