Ilmuwan: Ada Potensi Manusia Keluarkan Bisa Beracun Seperti Ular

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Sekelompok ilmuwan menegaskan bahwa manusia memiliki potensi untuk mengeluarkan racun bisa seperti ular. Hal ini dilatarbelakangi dengan adanya temuan bukti konkret dari hubungan antara kelenjar racun pada ular dan kelenjar ludah pada mamalia.

Mengutip dari Independent, para ilmuwan dari Institut Sains dan Teknologi Okinawa Universitas Pascasarjana (OIST) dan Universitas Nasional Australia mencari gen yang bisa bekerja sama dan berinteraksi dengan gen racun.

Dengan menggunakan kelenjar racun dari ular habu Taiwan, ular pit viper yang ditemukan di Asia dan mengidentifikasi sekitar 3ribu gen yang ada di hewan itu. Hasilnya, seluruh gen kelenjar racun dari ular memainkan peran penting dalam melindungi sel dari stres yang disebabkan oleh produksi banyak protein.

Peneliti ternyarta menemukan genom makhluk lain termasuk mamalia seperti anjing, simpanse, dan manusia. Bahkan, gen pada kelenjar ludah mamalia memiliki pola aktivitas yang mirip dengan yang terlihat pada kelenjar bisa ular.

Maka, para ilmuwan bisa menyimpulkan bahwa kelenjar ludah pada mamalia dan kelenjar racun berbagi inti fungsional kuno.

Sementara National World menginformasikan bahwa banyak racun yang berbeda ke dalam racun mereka dan meningkatkan jumlah gen yang terlibat dalam menghasilkan racun.

Sedangkan mamalia seperti tikus menghasilkan racun yang lebih sederhana yang memiliki kemiripan tinggi dengan air liur.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini