Hari Kucing Sedunia, Ini Rekomendasi Film soal Si Meong

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Hari ini, 8 Agustus 2021, diperingati sebagai hari kucing sedunia. Berikut ini rekomendasi beberapa film soal hewan berbulu yang menggemaskan itu.

Hari Kucing Sedunia (disebut juga Hari Kucing Internasional) adalah hari untuk merayakan persahabatan antara manusia dengan kucing yang dirayakan hampir di seluruh dunia pada tanggal 8 Agustus setiap tahunnya.

Perayaan ini pertama kali dicetuskan oleh International Fund for Animal Welfare (IFAW) dan beberapa kelompok hak asasi hewan pada tahun 2002 untuk memperbaiki kesejahteraan kucing-kucing yang ada di seluruh dunia.

Nah, untuk merayakan hari kucing sedunia yang kebetulan jatuh di hari libur, berikut rekomendasi beberapa film soal kucing:

  1. Keanu (2016)
    Film bergenre action komedi ini menceritakan kisah unik loh, pasalnya film garapan Peter Atencio ini mengisahkan perang antar geng yang dikarenakan kucing.

Kisah ini bermula dari Rell yang berpatah hati, kemudian ia menemukan seekor kucing yang bernama Keanu di depan rumahnya. Namun, selang beberapa waktu, Keanu tiba-tiba hilang setelah rumah Rell dirampok.

  1. Pet Semetary (2019)
    Film yang diadaptasi dari novel karya Stephen King, yakni ‘Pet Sematary’ ini mengisahkan tentang hantu kucing.

Ini menceritakan tentang Louis dan kucing yang bernama Church. Ketika keluarga Louis pindah ke rumah baru, Church tewas ditabrak truk. Keesokan harinya, Church kemudian muncul kembali dalam kondisi hidup dan sehat, namun dengan kepribadian yang lebih ganas dan berbahaya.

  1. Nine Lives (2016)
    Film ini mengadaptasi tentang kepercayaan sebuah reinkarnasi. Film ini bercerita tentang Tom Brand, seorang pengusaha sukses yang nyaris saja meregang nyawa. Tubuhnya jatuh koma, namun jiwanya masuk ke dalam tubuh kucing yang baru saja ia beli. Kemudian ia berusaha memberitahu keluarganya terkait identitasnya, dan akan merebut kembali perusahaannya.
  2. Puss in Boots (2011)
    Saat film Shrek 2 dirilis di tahun 2004, dunia dibuat terpesona oleh penampilan seekor kucing oranye yang kocak dan imut bernama Puss in Boots. Ia kembali muncul di film Shrek the Third (2007) dan Shrek Forever After (2010).

Atas banyaknya permintaan, DreamWork pun merilis film solo ‘Puss in Boots’ di tahun 2011. Film ini mengisahkan petualangan Puss sebelum ia bertemu Shrek. Ia adalah buronan yang dituduh merampok Kota San Ricardo. Ia harus mencari akal untuk membersihkan nama baiknya.

  1. Garfield: The Movie (2004)
    Siapa yang tidak kenal Garfield? Kucing gendut berwarna oranye yang malas dan suka makan lasagna. Bukan cuma itu, dia juga jail dan cemburuan. Garfield awalnya adalah tokoh kucing dalam komik strip. Setelah 26 tahun sejak komik pertama diluncurkan, film Garfield pun dirilis.

Garfield cemburu berat dengan pendatang baru di rumahnya, anjing bernama Odie. Anjing ini cerdas dan lucu. Karena talentanya, Odie diincar oleh produser acara televisi. Garfield kemudian mengetahui ada niat busuk di balik perekrutan Odie.

Ia harus turun tangan langsung untuk menyelamatkan Odie. Garfield memang tidak suka dengan Odie, tapi bukan berarti ada orang lain yang boleh menyakitinya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini