Gisel Jadi Tersangka, Komnas Perlindungan Anak Sarankan Hak Asuh Gempi ke Gading Marten

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Kasus video panas yang dibuat Gisella Anastasia dan Michael Yukinobu De Fretes masih jadi perbincangan hangat. Sejumlah pihak pun mulai angkat suara atas kasus yang menimpa penyanyi 30 tahun itu.

Tak terkecuali Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait. Lewat sebuah video yang diunggah akun Instagram @lambe_turah, Aris mengatakan soal hak asuh Gempi di tengah kasus ibunya ini.

“Hak asuh untuk sementara Gisel mengasuh anaknya bisa dicabut dan diserahkan kepada Gading,” ucap Aris dalam video itu pada Jumat, 1 Januari 2020.

Aris mengatakan hal tersebut dilakukan demi kebaikan sang anak, Gempit Nora Marten.

“Oleh karena itu Komnas Perlindungan Anak merekomendasikan kepada Gisel untuk menyerahkan anak itu kepada Gading, dan Gading juga bisa mengajukan hak asuh itu,” katanya.

Di akhir video, Aris pun mengatakan bahwa tindakan yang dilakukan Gisel tidak terpuji. Dan ia berharap tidak ditiru oleh ibu-ibu yang lain.

“Peristiwa seperti ini jangan ditiru oleh ibu-ibu yang lain,” ucap Aris.

Gisella Anastasia dan Micheal Yukinobu De Fretes mengakui sebagai pemeran video panas yang viral beberapa waktu lalu. Hal itu diikuti dengan penetapan Gisel dan Michael sebagai tersangka kasus video pornografi.

Sementara itu, nasib Gempita pun juga dibicarakan warganet. Mereka turut prihatin dan memberi dukungan untuk gadis kecil itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini