Fotografer Kerajaan Mengenang Hasil Foto Terakhir Ratu Elizabeth II yang Diambil Secara Spontan

Baca Juga

MATA INDONESIA,LONDON –  Fotografer kerajaan Samir Hussein merefleksikan foto Ratu Elizabeth II yang ia ambil secara candid.

Hussein sering memotret keluarga kerajaan dalam tur ke luar negeri dan pada acara resmi di Inggris. Dia hadir di perayaan Queen’s Platinum Jubilee pada bulan Juni. Perayaan tersebut sebagai acara untuk memperingati 70 tahun ratu bertakhta. Itu menjadi terakhir kali moment ia memotret ratu.

Hussein mengatakan salah satu foto yang terakhir ia ambil dari ratu adalah foto di Trooping the Colour, parade ulang tahun raja di London yang juga memperingati Platinum Jubilee.

Melalui Insider ia mengatakan “ Terakhir kali saya memotret Ratu Elizabeth II adalah pada perayaan Jubilee pada bulan Juni. Ternyata ini akan menjadi perpisahan besar terakhirnya dengan Inggris dan saya sangat senang bisa memotretnya pada kesempatan yang menggembirakan dan dia bisa menyaksikan semuanya.”

Penampilannya saat berada di balkon Istana Buckingham menghasilkan beberapa foto kerajaan yang klasiknya. Salah satunya adalah fotonya bersama cicitnya Pangeran Louis.

Louis adalah putra bungsu Pangeran William dan Kate Middleton. Dia berdiri di samping ratu ketika keluarga keluarga ratu menyaksikan flypast Jubilee di atas istana Buckingham.

Dan muncul lah beberapa reaksinya seperti melambaikan tangan dan menutupi telinganya. Foto tersebut membuat kerajaan dunia merasa gemas sekaligus geli.

Hussein mengatakan bahwa foto ini merupakan salah satu hasil jepretannya yang paling menonjol saat perayaan Jubilee. Reaksi Pangeran Louis terhadap flypast sangat lucu dan ratu tersenyum. Ia mengaku mengambil semua fotonya dengan tenang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Pembangunan Papua Bukti Nyata Keberpihakan Pemerintah kepada Masyarakat Adat

Oleh : Fransiskus NawipaPembangunan di Papua terus menunjukkan arah yang semakin berpihak kepada masyarakat adatsebagai bagian utama dari proses kemajuan nasional. Berbagai kebijakan pembangunan yang dijalankan pemerintah tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga diarahkan untuk menghadirkan manfaat nyata bagi kehidupan orang asli Papua. Pendekatantersebut menjadi bukti bahwa pemerintah berupaya memastikan pembangunan berjalan secarainklusif, berkeadilan, serta menghormati identitas sosial dan budaya masyarakat adat yang telahlama menjadi bagian penting dari kehidupan di Tanah Papua.Keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat adat Papua tercermin dari berbagai program pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari pembangunaninfrastruktur, penguatan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hinggapembukaan akses pelayanan publik di wilayah-wilayah terpencil. Kehadiran jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, sekolah, dan sarana pendukung ekonomi lainnya telah membuka ruang barubagi masyarakat Papua untuk berkembang dan meningkatkan taraf hidupnya. Pembangunan tersebut tidak hanya mempercepat konektivitas antarwilayah, tetapi juga memperluas aksesmasyarakat terhadap berbagai peluang ekonomi dan pelayanan sosial yang sebelumnya sulitdijangkau.Dalam konteks pembangunan Papua, pemerintah juga menunjukkan keseriusan untukmenempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama pembangunan. Pendekatan ini menjadisangat penting mengingat Papua memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda dengandaerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, pembangunan tidak dapat dilakukan denganpendekatan sepihak ataupun sekadar mengejar target investasi dan proyek strategis semata. Pembangunan harus mampu menghadirkan rasa memiliki bagi masyarakat adat sehingga merekamerasa dilibatkan dalam proses perubahan yang terjadi di daerahnya.Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Paulus Waterpauw, menegaskan bahwa pembangunan Papua harus menempatkan manusia, khususnyaorang asli Papua, sebagai pusat utama pembangunan. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwakeberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya nilai investasi atau jumlah proyekyang dibangun, tetapi dari sejauh mana masyarakat merasakan dampak positif dalam kehidupansehari-hari. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus dibangun di atas prinsip dialog, penghormatan terhadap masyarakat adat, dan keterlibatan aktif warga dalam setiap kebijakan pembangunan.Pendekatan dialog yang terus dikedepankan pemerintah dalam pembangunan Papua menjadilangkah strategis untuk membangun kepercayaan masyarakat. Dialog yang dilakukan secaraterbuka dan manusiawi mampu menciptakan ruang komunikasi yang sehat antara pemerintah dan masyarakat adat. Dengan komunikasi yang baik, masyarakat dapat memahami manfaatpembangunan, peluang ekonomi yang muncul, hingga dampak jangka panjang yang dapatmeningkatkan kesejahteraan generasi Papua di masa depan. Pendekatan ini juga menjadi bentukpenghormatan terhadap hak sosial dan budaya masyarakat adat yang selama ini menginginkanpembangunan berjalan tanpa menghilangkan identitas lokal mereka.Pembangunan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini