Eks Personel Girlband Atomic Kitten Operasi Pengecilan Payudara

Baca Juga

MATA INDONESIA, LONDON – Mantan personel girlband Atomic Kitten, Kerry Katona, memutuskan untuk melakukan operasi pengecilan payudara. Dia mengaku menderita dengan ukurannya yang terlalu besar.

Via Instagram, Kerry memposting bagian dadanya. Dia mengatakan, akan segera melakukan operasi pengecilan payudara agar tak lagi mengalami sakit punggung.

“Saya melakukan operasi pengecilan payudara. Terima kasih kepada @maurino_jofilly, karena ukurannya sudah lebih besar dari kepala saya,” tulis Kerry.

Maurino Joffily adalah spesialis bedah plastik. Kini, wanita berusia 40 tahun itu merasa lega karena ukuran payudaranya jauh lebih normal.

“Rumah baru, payudara baru! Kalian para wanita pasti tahu rasanya. Punggung saya terasa sangat sakit. Jadi, @maurino_joffily membuat ukurannya jadi lebih kecil,” lanjut Kerry.

Sebelumnya, Kerry mengabarkan sudah membeli rumah baru untuk keluarganya. Dia membagikan kebahagiaannya bisa membeli rumah sendiri setelah sebelumya dinyatakan bangkrut.

Rumah baru Kerry seharga 2 juta poundsterling. Di dalamnya ada enam kamar tidur, bioskop, dan kolam renang.

“Setelah kehilangan semuanya 13 tahun lalu dan harus menyewa, akhirnya saya mampu membeli rumah sendiiri. Saya membagikan kabar ini karena selama beberapa tahun terakhir rasanya ingin bunuh diri. Tapi saya tak menyerah. Jika saya bisa membalikkan keadaan dan bangkit, semua orang juga pasti bisa,” ungkapnya.

Kerry pernah dinyatakan bangkrut dua kali dalam kurun waktu lima tahun. Dia juga harus bergelut dengan ketergantungan obat-obatan di masa lalu. Kini semuanya membaik dan dia hidup bahagia bersama tunangan dan keluarganya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini