Dokter Saling Ribut, Iwan Fals: Ke Dukun Aja Kali Ya

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Musisi senior, Iwan Fals mengkritik dokter-dokter yang belakangan saling ribut dan menjadi viral. Dia menyiratkan, kepada siapa lagi harus percaya saat sedang sakit.

Belakangan viral soal sosok bernama Lois yang mengaku seorang dokter. Dia menjadi perbincangan karena mengaku tak percaya dengan Covid-19.

Selain itu, Lois menyebut mereka yang disebut meninggal karena Covid-19 disebabkan karena obat. Sosok Lois ini juga pernah tampil di acara talk show Hotman Paris.

Dalam acara yang juga dipandu Melaney Ricardo itu, pernyataan Lois dinilai mengada-ada. Apalagi Melaney adalah salah satu penyintas Covid-19.

Pernyataan kontroversial Lois juga membuat salah satu dokter yang juga influencer, dokter Tirta berang. Dia membongkar sosok di balik Lois. Dokter Tirta menyebut, Lois tak bisa lagi disebut sebagai dokter karena Surat Tanda Registrasi (STR) dirinya suda tidak aktif di IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sejak 2017.

Perdebatan antar sesama dokter membuat Iwan Fals buka suara. Dia tiak tahu lagi harus percaya sama siapa saat sakit.

“Usaha manusia untuk sehat luar biasa, enggak ada yang ingin sakit. Kalau sakit ya ke dokterlah. Tapi belakangan ini dokter-dokter bertengkar dan viral lagi, ya tambah sakitlah manusia,” tulis Iwan, di akun Twitter-nya.

“Apa ke dukun aja kali ya, semoga dapat dukun asli bukan palsu, dan sudah barang tentu berdoa. Yang kompak dong dok,” katanya.

Saat ini sosok Lois sudah ditangkap kepolisian terkait pernyataannya yang tak percaya dengan Covid-19.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini