Covid-19 di Semarang Bikin Orang Malas Nikah

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEMARANG – Selama pandemi Covid-19, jumlah pernikahan di Semarang menurun drastis. Kebanyakan alasannya, para calon mempelai menunda prosesi akad saat virus masih merajalela.

“Penurunannya sangat drastis ketimbang kondisi normal,” kata Kepala Kemenag Kota Semarang Muhdi Zamur, Rabu 24 Juni 2020.

Biasanya, bulan Juni adalah musimnya menikah di Semarang. Namun, kebanyakan pasangan memilih menunda pernikahan karena khawatir tertular Covid-19.

Selain itu, alasan lainnya adalah imbauan dari Kemenag bahwa batas tamu dalam pernikahan hanya tak lebih dari 20 orang saja, ditambah penerapan protokol Covid-19 yang harus dijalankan.

“Mungkin itu yang membuat jumlah izin nikah jadi berkurang banyak,” ujar Muhdi.

Data pada Januari 2020, pernikahan yang digelar di kantor KUA masih mencapai 172 orang dan yang menggelar prosesi diluar KUA sebanyak 388 orang. Jumlah itu masih meningkat pada bulan Februari ada sekitar 209 orang di kantor KUA dan di luar KUA ada 662 orang.

Di bulan Maret, lanjutnya jumlah pernikahan di KUA ada 190 orang dan diluar KUA ada 168 orang. Kemudian semakin menurun pada April hanya ada total sebanyak 172 orang, dan pada Mei 73 orang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini