Cinta Laura Belum Mau Nikah, Kenapa Ya?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTACinta Laura akan genap usia 28 tahun pada 17 Agustus mendatang. Tapi, hingga kini dia belum kepikiran untuk menikah.

28 tahun adalaha usia yang sudah matang bagi perempuan untuk menikah. Tapi, aktris keturunan Jerman itu justru mengaku belum kepikiran ke arah sana.

Di channel YouTube The Hermansyah A6, Cinta membeberkan alasannya belum ingin menikah dalam waktu dekat. Sudah bisa ditebak, dia masih ingin fokus ke karier.

“Aku punya pandangan hidup sendiri yang mungkin enggak sesuai dengan kebanyakan orang di Indonesia. Aku merasa our twenties is a time for us to explore, explore dalam arti dalam pekerjaan, ya. Tapi, when I say explore, what I mean is aku masih sangat-sangat mementingkan karier aku dan kehidupan profesional aku di atas yang lain,” kata Cinta.

“Aku punya filosofi yang sangat kuat, yaitu, kalau kita belum bahagia dengan diri kita sendiri, kita belum merasa puas, bagaimana kita bisa ngebahagiain orang lain, gitu. Buat aku, aku tidak akan merasa lebih utuh karena orang lain. Aku harus utuh dengan sendirinya. Baru, dua orang yang merasa komplit dan utuh bisa memenuhi satu sama lain karena mereka sudah punya kehidupan sendiri yang membuat mereka bahagia,” ujarnya.

Cinta mengaku mendapat dukungan dari keluarga terutama mama yang tak mempermasalahkan dengan keinginan menunda nikah demi karier. Tapi, bukan berarti Cinta tak mau menikah atau tak punya anak. Hanya saja, dia belum bepikir ke arah sana.

“Aku sangat open untuk kemungkinan suatu hari ingin settle down, ingin punya keluarga sendiri, but it’s definitely not now karena aku masih merasa, bukan secara mental, ya, tapi secara energi, secara ambisi, secara keinginan hidup, tuh, aku masih merasa enggak di atas umur 17 tahun,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini