Cikini dan Rawamangun! Jadi Lokasi Nobar Saturnus 'Dilahap' Bulan Malam Ini

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Woro-woro! Tepat Minggu malam, 8 September 2019, langit Indonesia bakal menyuguhkan fenomena alam antariksa. Fenomena tersebut yakni kemunculan Saturnus di balik Bulan.
Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), fenomena ini disebut sebagai Okultasi Saturnus. Sebuah peristiwa astronomis ketika sebuah benda langit tampak dlintasi benda langit lainnya berdasarkan sudut pandang pengamat.
“Okultasi terjadi ketika objek berukuran relatif lebih besar menutupi atau melintas di depan objek yang berukuran lebih kecil jika diamati dari Bumi,” kata LAPAN di akun Twitter resminya.
Masyarakat pun bisa mengamati secara langsung planet bercincin ini secara bersamaan dengan Bulan, tanpa instrumen tambahan. Nah, untuk menyaksikan kejadian alam ini, ada baiknya kalian mencari posisi kedua objek tersebut di langit.
Kedua benda langit ini cukup mudah dikenali. Artinya, tidak ada kesulitan untuk mencari posisi keduanya. “(Fenomena alam ini) dapat diamati di wilayah Pulau Jawa, Papua, Kalimantan Selatan, dan wilayah di sekitarnya,” kata LAPAN.
Berikut wilayah Indonesia yang bisa nobar detik-detik Okultasi Saturnus malam ini:

Okultasi Saturnus
Okultasi Saturnus

Berita Terbaru

Teknologi dan Infrastruktur Air Menjadi Andalan Menghadapi Tantangan Kemarau

Oleh: Rendra Fathian )*Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah antisipatif dalammenghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebihkering dibandingkan kondisi normal. Tantangan perubahan iklim dan potensi fenomena El Nino mendorong pemerintah untuk mengedepankanpemanfaatan teknologi serta penguatan infrastruktur air sebagaiinstrumen utama dalam menjaga ketahanan masyarakat, keberlanjutansektor pertanian, dan stabilitas pembangunan nasional.Upaya pemerintah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanyaberfokus pada penanganan dampak setelah bencana terjadi, tetapi juga menempatkan mitigasi sebagai bagian penting dari strategi pembangunan. Pendekatan yang berbasis data, teknologi, dan koordinasilintas sektor menjadi fondasi untuk memastikan masyarakat dapatmenghadapi musim kemarau dengan kesiapan yang lebih baik.Peringatan mengenai potensi kemarau yang lebih kering telahdisampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Indonesia berpotensi mengalami fenomena El Nino pada tahun 2026. Prediksitersebut telah disampaikan sejak Maret 2026 dan kemudian diperkuatoleh informasi yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada awal Juni 2026.Menurut Faisal, El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomenayang berbeda, namun keduanya dapat memengaruhi kondisi curah hujandi berbagai wilayah Indonesia. Hasil pemantauan BMKG hingga akhir Mei menunjukkan indeks ENSO telah mencapai angka yang mengindikasikankondisi El Nino, sementara sebagian wilayah Indonesia telah memasukimusim kemarau.Pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan risiko iklim menjadi salah satukekuatan yang dimiliki Indonesia saat ini. Dukungan data dari BMKG, pemantauan satelit, serta sistem peringatan dini memungkinkanpemerintah daerah dan berbagai instansi terkait mengambil keputusanberdasarkan kondisi aktual di lapangan. Pendekatan ini jauh lebih efektifdibandingkan mengandalkan respons setelah dampak kekeringan mulaidirasakan masyarakat.Di Jawa Barat, misalnya,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini