Begini Fakta Putri Diana yang Diidolakan Rakyat Inggris

Baca Juga

MATA INDOENSIA, JAKARTA – Generasi era 80 dan 90-an tentu tahu tentang sosok Putri Diana atau akrab dikenal Lady Diana.  Istri dari Pangeran Charles ini memang memiliki pesona dan aura yang dikagumi masyarakat.

Tak cuma sebagai istri dari seorang Pangeran Inggris, Putri Diana juga merupakan sosok idola yang dicintai rakyatnya, karena sifatnya yang rendah hati, sederhana dan lemah lembut.

Pada hari ini, tepat tanggal 31 Agustus tahun 1997 silam, Putri Diana meninggal dunia akibat kecelakaan mobil di Paris, Perancis bersama sang kekasih Dody al-Fayed. Meski telah tiada, sosok Putri Diana tetap dikagumi tak hanya oleh masyarakat Inggris. Tapi juga oleh seluruh masyrakat di dunia. Buat kamu yang juga mengidolakan sosok Putri Diana, ada fakta-fakta yang mungkin belum kamu ketahui tentang dirinya. Yuk simak.

1. Pernah Ingin Menjadi Ballerina

Kebanyakan anak perempuan memang ingin menjadi seorang ballerina. Tak terkecuali Putri Diana. Sejak kecil, Diana belajar menari balet karena ingin menjadi penari balet profesional.

Namun sayang, keinginannya harus terhenti lantaran postur tubuhnya yang terlalu tinggi untuk menjadi seorang balerina. Dikutip dari sumber, kabar tak mengenakan itu juga diungkapkan oleh sang guru balet, Anne.

Ia mengatakan Diana adalah sosok yanhg menyukai kebebasan dari bergerak dan menari. Oleh karena itu, hal tersebut sangat disayangkan bisa menghancurkan mimpi Diana.

2.Pernah Dikeluarkan dari Sekolah

Siapa yang sangka sosok selembut seperti Putri Diana juga pernah dikeluarkan dari sekolah loh. Kabarnya, Putri Diana dikeluarkan dari sekolah pada usia 16 tahun. Pasca kejadian itu, ia melanjutkan studinya dengan masuk ke boarding school di sisa masa pendidikannya.

3. Anak Broken Home

Masa lalu Putri Diana tak seindah putri-putri kerajaan pada umumnya. Ia sudah menjadi anak broken home sejak usianya masih sangat kecil.

Orang tua Putri Diana, Francess Shand Kydd dan Edward John Spencer telah bercerai sejak Putri Diana umur 7 tahun. Hal itu disebabkan hubungan kedua orang tuanya yang tak baik dan penuh dengan kekerasan.

4. Mengubah Janji Pernikahannya

Saat mengucapkan janji pernikahannya bersama Pangeran Charles, ia mengubah beberapa kosa kata dari ucapannya. Saat seharusnya Putri Diana mengatakan ‘obey’ yang berarti menuruti, menjadi kata ‘love him, comfort him, honor, and keep him, in sickness and healthiness.’

Diketahui, hal yang dilakukan Putri Diana saat pernikahannya ini menjadi contoh dan kemudian diterapkan oleh Kate Middleton dan Megan Markle dengan mengganti kata ‘obey’ sebagai janji pernikahannya.

5. Mendidik Anak Senormal Mungkin

Mungkin banyak putri-putri kerajaan berdarah biru akan mendidik putra putri mereka sedisiplin mungkin khas didikan kerajaan. Namun, lain hal dengan Putri Diana.

Diketahui, sejak dulu Diana mengingankan mendidik kedua putranya Pangeran William dan Pangeran Harry senormal mungkin. Ia ingin putra-putranya tetap merasakan kehidupan masyarakat pada umumnya, speerti makan di restoran, nonton bioskop, pergi ke taman dan sebagainya.

6. Memiliki Hubungan Terlarang dengan Bodyguardnya

Gonjang ganjing rumah tangga Putri Diana dan Pangeran Charles memang bukan lagi rahasia publik. Isu-isu Pangeran Charles yang berselingkuh dengan mantan kekasihnya Camilla terendus sampai keseluruh dunia. Namun, tak banyak yang tahu, Putri Diana pun pernah terlibat cinta terlarang dengan bodyguard pribadinya pada tahun 1985.

Dilansir dari sebuah sumber, menyebutkan bahwa Diana pada saat itu benar-benar jatuh cinta dengan pengawalnya sendiri yang bernama Barry. Bahkan ia rela melepaskan segalanya demi bisa hidup Bersama Barry. Namun hal tersebut tak terwujud karena Barry meninggal dalam kecelakaan motor pada tahun 1987.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini