Awas Ini Penyakit Tidur Berjalan atau Sleepwalking

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tidur berjalan atau dalam bahasa medisnya disebut dengan somnabulisme adalah kondisi ketika seseorang yang sedang tidur namun dia dapat berjalan atau melakukan aktifitas lainnya. Banyak orang memahami bahwa sleepwalking hanya kondisi orang yang berjalan dalam tidurnya.

Namun ternyata seseorang yang mengalami sleepwalking bisa saja melakukan aktifitas seperti makan, membuka mulut, membuka lemari, bahkan keluar rumah dalam kondisi tidak sadar. Dilansir dari web kesehatan SehatQ, menjelaskan bahwa sleepwalking terjadi selama periode tidur NREM (nonrapid eye movement), yakni sekitar 1-2 jam setelah tertidur.

Secara umum, penderita yang sering mengalami tidur berjalan ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan tidak menimbukan bahaya karena sleepwalking terjadi hanya beberapa saat saja. Jika seseorang mengalami sleepwalking, matanya akan terbuka, padahal ia sebenarnya masih tertidur.

Bila kamu mengajaknya berbicara, orang tersebut akan menjawab dengan jawaban yang tidak jelas. Para ahli menyarankan untuk tidak membiarkan orang yang sedang sleepwalking dan harus segera membangukan orang tersebut dengan cara yang pelan dan tidak mengagetkan.

Penyebab sleepwalking belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini kerap sekali dipengaruhi oleh faktor genetik, yang berarti jika orangtua, kakak, atau adik satu darah yang memiliki kebiasaan sleepwalking, kamu juga memiliki kemungkinan untuk mengalaminya.

Sleepwalking atau tidur berjalan juga dapat dipicu oleh kurangnya tidur, stres, trauma, terlalu banyak meminum alkohol, narkoba, efek samping obat sedatif, dan mengalami gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea dan restless legs syndrome. Umumnya, sleepwalking atau tidur berjalan tidak memerlukan pengobatan khusus.

Namun bila sleepwalking muncul karena gangguan kesehatan lainnya, penyakit tersebut harus diatasi terlebih dulu guna meminimalkan terjadinya tidur berjalan. Jadi pastikan tidak ada penyakit yang menyebabkan sleepwalking, dengan menjalani pemeriksaan medis.

Reporter: Nining Melani

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini