Aktris Terkenal Korsel Ini Dituduh Buat Klaim Pelecehan Seksual Palsu

Baca Juga

MATA INDONESIA, SEOUL – Seorang aktris terkenal asal Korea Selatan dituduh membuat klaim penyerangan seksual palsu. Wanita yang diberi inisial ‘K’ ini berusia 50-an.

Menurut orang dalam hukum, seorang pria, ‘A’, yang juga berusia 50-an telah mengajukan gugatan terhadap ‘K’. Ini dilakukan karena ‘K’ membuat klaim serangan seksual palsu terhadapnya.

Dikatakan awal tahun ini ‘K’ mengajukan laporan ke polisi yang menuduh ‘A’ berusaha melakukan pelecehan seksual padanya 3 kali dari Juli 2017 hingga September 2019. Polisi telah menolak klaim penyerangan seksual terhadap ‘A’ oleh ‘K’. Sekarang, ‘A’ pun menuntutnya.

‘A’ menyatakan, “Sejak 2016, kami telah berkencan selama 4 tahun, dan saya bahkan memberikan dukungan keuangan senilai 10 juta Won (sekitar Rp126 juta) setiap bulan. Namun, ketika kami putus pada September 2020, dia mengajukan permohonan palsu. Keluhar mengatakan beberapa seks yang mereka lakukan selama hubungan mereka adalah paksaan.”

Laporan mengatakan ini bukan pertempuran hukum pertama antara ‘A’ dan ‘K.’ Pada tahun 2020, ‘A’ menggugat aktris ‘K’ karena menyebarkan informasi palsu tentang serangan seksual kepada saudara perempuan kandungnya dan lainnya.

‘A’ lebih sedih karena telah membuat beberapa ancaman terhadap ‘K’ melalui pesan teks dan menulis komentar jahat tentang dia di forum komunitas jaringan online. ‘K’ juga mengadakan wawancara telepon dengan wartawan, mengklaim dia menderita secara mental karena ‘A menguntit.

Kira-kira siapa yang dimaksud dalam aartikel di atas?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini