Akhirnya Muncul ke Publik, Begini Penampilan Artis Lidya Pratiwi Usai 14 Tahun Mendekam di Penjara

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Artis Lidya Pratiwi dikabarkan sudah bebas dari penjara sejak beberapa waktu lalu. Lidya juga kabarnya telah mengganti namanya menjadi Maria Eleanor sejak Desember 2013 silam.

Namun sejak bebas, dirinya belum pernah sekalipun menampakkan diri di hadapan kamera. Hingga akhirnya, wajah artis yang terlibat kasus pembunuhan itu perdana muncul dalam tayangan Selebrita Expose Trans7.

Dalam tayangan itu, terungkaplah penampilan terkini Lidya Pratiwi usai 14 tahun mendekam di penjara. Terlihat Lidya awalnya mengenakan masker dan agak canggung di depan kamera.

Namun akhirnya artis yang kini berusia 33 tahun itu mau menunjukkan wajahnya. Ia sempat melempar senyum ke arah kamera.

Penampilan Lidya ternyata tak banyak berubah. Ia masih terlihat cantik. Meski tubuhnya terlihat agak lebih berisi. “(Kabarnya) Baik. Terimakasih ya sudah mencari kabar aku yah. Makasih loh. Mohon doanya,” kata Lidya Pratiwi, dikutip dari tayangan Selebrita Expose, Sabtu, 29 Agustus 2020.

Lidya masih enggan bercerita banyak soal dirinya usai terbebas dari penjara. Ia ingin mempersiapkan mental lebih dulu sebelum akhirnya benar-benar ‘go public’.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Strategi 3B dalam Program MBG Bangun SDM Unggul

Oleh: Citra Kurnia Khudori)* Pembangunan sumber daya manusia yang unggul tidak dapat dilepaskan darikualitas gizi sejak awal kehidupan. Karena itu, intervensi gizi pada ibu hamil, ibumenyusui, dan balita (3B) menjadi langkah penting untuk memastikan generasimasa depan tumbuh sehat dan optimal. Dalam konteks tersebut, strategi 3B dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)menjadi pendekatan yang relevan dan tepat sasaran. Fokus pada kelompok rentanini menegaskan bahwa peningkatan kualitas SDM harus dimulai dari fase paling awal dalam siklus kehidupan manusia. Perhatian terhadap periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) menjadi kuncidalam upaya mencegah stunting sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak. Jika kebutuhan gizi terpenuhi sejak masa kehamilan hingga balita, fondasi bagilahirnya generasi yang produktif dan berdaya saing akan semakin kuat. Hal tersebut senada dengan penyampaian Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, yang mengatakan bahwa 1.000 HPK merupakan fondasi utama dalam membentukkualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.  Ia menuturkan, fase sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun Adalah masa emas yang tidak bisa terulang. Investasi terbaik bagi masa depan bangsa adalahmemastikan setiap anak memperoleh gizi, kesehatan, dan pengasuhan yang...
- Advertisement -

Baca berita yang ini