Ajib, ‘Spider-Man: No Way Home’ Film Terlaris Keenam Sepanjang Masa

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES -‘Spider-Man: No Way Home’ membuat pencapaian luar biasa di tengah pandemi Covid-19 sebagai film terlaris keenam sepanjang masa.

Sejak diputar pertama kali di bioskop, ‘Spider-Man: No Way Home’ meraih pendapatan 1,69 miliar Dolar AS atau sekitar 24,2 triliun Rupiah.

Pencapaian itu mengalahkan ‘Jurassic World’ (1,76 miliar Dolar AS dan ‘The Lion King’ (1,66 miliar Dolar AS) yang tadinya ada di posisi enam dan tujuh film terlaris sepanjang masa.

Tentu saja apa yang dicapai ‘Spider-Man: No Way Home’ jauh lebih hebat karena diputar di tengah pandemi Covid-19 dimana masih banyak orang takut pergi ke bioskop di beberapa negara dan tidak termasuk di Cina, pasar terbesar film-fil, Hollywood.

‘Spider-Man: No Way Home’ berada di belakang lima film terlaris sepanjang masa, yakni ‘Avatar’ (2,8 miliar Dolar AS), ‘Avengers: End Game’ (2,7 miliar Dolar AS), ‘Titanic’ (2,2 miliar Dolar AS), ‘Star Wars: Episode VII – The Force Awakens’ (2,06 miliar Dolar AS), dan ‘Avengers: Infinity War’ (2,04 miliar Dolar AS).

‘Spider-Man: No Way Home’ adalah film ketiga Tom Holland berperan sebagai pahlawan laba-laba. Uniknya lagi, dua pemeran Spider-Man terdahulu, Tobey Maguire dan Andrew Garfield juga main.

Selain itu, ada juga vilain dari film Spider-Man terdahulu, mulai dari Green Goblin, Sandman, Doctor Octopus, dan Electro.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini