Penuh Mistis, Ini Sederet Ritual yang Dilakukan saat Malam 1 Suro

Baca Juga
MATA INDONESIA, JAKARTA – Satu Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro. Tanggal tersebut bertepatan dengan 1 Muharram di kalender Hijriah.
Awal mulanya malam 1 Suro sudah ada di daerah kerajaan Mataram Islam pada masa kejayaan Sultan Agung Hanyokrokusumo yang ingin memperluas ajaran Islam di Jawa dengan memadukan kalender Hijriah dengan kalender warisan Hindu. Malam satu Suro biasanya diperingati setelah Magrib, pada hari sebelum tanggal 1 Muharram atau 1 Suro.
Malam 1 Suro memang dikenal sakral, keramat dan penuh mistis. Masyarakat Jawa percaya malam ini akan datang Aji Saka yang bisa membebaskan manusia dari makhluk gaib. Maka dari itu, pada malam ini banyak ritual-ritual yang dilakukan masyarakat Jawa untuk memperingati malam 1 Suro.
Sedikitnya, ada lima ritual yang dilakukan masyarakat saat tiba malam 1 Suro. Apa saja sih?
1. Siraman
Masyarakat Jawa biasanya menyambut malam 1 Suro dengan beberapa tradisi, salah satunya dengan siraman. Siraman pada malam satu suro merupakan mandi besar menggunakan kembang setaman. Hal ini sebagai bentuk ‘sembah raga’ dengan tujuan menyucikan diri dan juga sebagai tanda dimulainya bulan Sura.
Pada saat melakukan siraman, kamu diharuskan sambal membaca doa dan memohon keselamatan kepada Tuhan agar senantiasa menjaga kita dari segala musibah, bencana, kecelakaan dan hal-hal buruk lainnya. Ritual ini dimulai dengan mengguyur badan dan ujung kepala sebanyak 7 kali. Namun, bisa juga dilakukan 11 kali hingga 17 kali.
Siraman ini lebih baik dilakukan tidak didalam rumah, melainkan langsung di bawah langit. Hal ini bermaksud untuk menyatukan jiwa dan raga dengan alam semesta.
2. Tapa Mbisu (Membisu)
Ritual lainnya yang biasa dilakukan saat malam 1 Suro ialah Tapa Mbis, atau menjaga lisan. Dalam ritual ini, kamu diharuskan untuk menjaga ucapan dan hanya mengatakan hal-hal yang baik saja.
Sebab, konon dalam bulan Sura, doa-doa lebih mudah terwujud. Maka dari itu, jangan sampai pada malam keramat itu ada masyarakat yang mengucapkan hal-hal jelek. Karena bisa saja hal jelek tersebut terwujud karena terucap dari mulut.
3. Berziarah
Di bulan Sura ini, masyarakat Jawa akan lebih menggiatkan berziarah ke makam para leluhur yang telah berjasa. Selain untuk medoakan, ziarah juga sebagai bentuk tanda hormat kita kepada leluhur-leluhur.
Untuk para masyarakat Jawa, makam merupakan tempat yang bersejarah yang bisa dijadikan sebagai sarana penghormatan. Oleh sebab itu, makam-makam para leluhur di suku Jawa sangat dirawat dan dihormati.
4. Sesaji Bunga Setaman
Selain digunakan untuk siaraman, bunga steman juga dipersiapkan di wadah bersih berisi air bening dan diletakkan di dalam rumah. Sama seperti berziarah, ritual ini sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang terhormat dan berjasa.
Selain itu, ritual menyajikan bunga setaman, juga bermakna sesuai dengan bunga-bunga yang disiapkan. Bunga-bunga yang disajikan terdiri dari bunga mawar merah, mawar putih, melati, kantil, dan kenanga. Bunga-bunga tersebut memiliki makna dan doa-doa agung kepada Tuhan yang tersirat di dalamnya.
5. Memandikan Keris
Saat malam 1 Suro, masyarakat Jawa yang memiliki keris akan ‘memanjakan’ barang pusaka tersebut. Mereka percaya kalau keris yang dimandikan pada malam 1 Suro, akan membawa kebaikan dari Tuhan Yang Esa.
Benda pusaka bagi masyarakat Jawa merupakan buah karya cipta dalam bidang seni dan keterampilan para leluhur di masa lampau. Karya tersebut memiliki falsafah hidup yang tinggi sehingga patut dihormati. Dengan demikian, malam 1 Suro menjadi waktu yang baik dan sakeral untuk memandikan benda-benda pusaka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Kepuasan Publik Jadi Indikator Apresiasi terhadap Pemerintahan Prabowo Gibran

Oleh: Fajar PradiptaKepuasan publik seharusnya tidak hanya dibaca sebagai angka statistik semata, tetapi sebagaicerminan nyata hubungan antara pemerintah dan rakyat yang perlu terus dijaga, bahkanditingkatkan. Dalam konteks pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, tingginya tingkat kepuasan masyarakat dapat dilihat sebagai bentuk apresiasi sekaligusharapan agar kinerja yang telah berjalan selama sekitar satu setengah tahun ini tetap konsistendan adaptif terhadap tantangan zaman. Dengan capaian kepercayaan publik yang menyentuhangka 75,1 persen, publik seolah memberikan sinyal bahwa arah kebijakan pemerintah saatini berada di jalur yang cukup tepat, meskipun tetap membutuhkan evaluasi berkelanjutan.Hasil survei nasional yang dirilis oleh Poltracking Indonesia menunjukkan bahwa tingkatkepuasan terhadap kinerja pemerintahan secara keseluruhan mencapai 74,1 persen. Sementara itu, secara personal, performa Prabowo Subianto sebagai presiden memperolehtingkat kepuasan sebesar 74,9 persen. Angka ini tidak berdiri sendiri, melainkanmerefleksikan persepsi publik terhadap berbagai program prioritas yang telah dijalankanselama setahun terakhir, termasuk upaya menjaga stabilitas ekonomi, penguatan sektorpangan, serta konsistensi dalam menjaga posisi Indonesia di tengah dinamika global yang semakin kompleks.Salah satu program yang paling banyak mendapat sorotan sekaligus apresiasi adalahkebijakan Makan Bergizi Gratis yang dinilai mampu menyentuh langsung kebutuhanmasyarakat. Program ini tidak hanya berfungsi sebagai intervensi sosial, tetapi juga menjadisimbol kehadiran negara dalam menjawab persoalan mendasar seperti gizi dan kesejahteraan. Sebanyak 23 persen responden dalam survei menyebut program ini sebagai kebijakan paling bermanfaat, sebuah angka yang menunjukkan bahwa kebijakan berbasis kebutuhan dasarmasih menjadi prioritas utama di mata publik. Keberhasilan ini juga melengkapi capaian lain pemerintah, seperti pengendalian inflasi pangan dan peningkatan akses bantuan sosial yang lebih merata.Peneliti utama Poltracking Indonesia, Masduri Amrawi, mengungkapkan bahwa tingginyakepuasan publik tidak terlepas dari kontribusi program tersebut yang dinilai memberikandampak nyata. Ia melihat bahwa kebijakan yang bersifat langsung dan dirasakan masyarakatcenderung memiliki daya dorong lebih kuat terhadap persepsi positif publik. Hal ini menjadipelajaran penting bagi pemerintah bahwa efektivitas program tidak hanya diukur dari skala, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakatluas.Lebih jauh, Masduri Amrawi juga menilai bahwa stabilitas tingkat kepuasan publik di tengahkondisi global yang penuh ketidakpastian merupakan capaian tersendiri. Dalam situasigeopolitik yang memanas dan tekanan ekonomi global yang fluktuatif, pemerintah dinilaimampu menjaga kepercayaan masyarakat melalui kebijakan yang relatif responsif danadaptif. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan pemerintah tidak hanya diukur dari program unggulan semata, tetapi juga dari kemampuannya menjaga stabilitas dan rasa aman di tengahmasyarakat.Di sisi lain, survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia juga memberikangambaran penting terkait persepsi publik terhadap sistem demokrasi di Indonesia. Sebanyak73,9 persen responden menilai bahwa sistem politik nasional masih berjalan dalam koridordemokrasi. Angka ini menjadi indikator bahwa legitimasi demokrasi tetap terjaga, meskipunberbagai kritik dan dinamika politik terus berkembang di ruang publik.Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Djayadi Hanan, menilai bahwa kekuatandemokrasi Indonesia masih bertumpu pada mekanisme pemilu yang berjalan serta kebebasanmasyarakat dalam menyampaikan pendapat. Hal ini menjadi fondasi penting dalam menjagastabilitas politik nasional, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Dalam konteks satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, keberhasilan menjaga stabilitaspolitik ini menjadi salah satu faktor yang mendukung tingginya tingkat kepuasan masyarakat.Peneliti Poltracking lainnya, Yoki Alvetro, menjelaskan bahwa survei ini dilakukan denganmetode multistage random sampling yang melibatkan 1.220 responden. Dengan margin of error sebesar kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, hasil survei inidinilai cukup representatif dalam menggambarkan opini publik secara nasional. Pengumpulandata dilakukan melalui wawancara tatap muka pada periode 2 hingga 8 Maret 2026, yang kemudian diverifikasi secara ketat untuk memastikan validitas data.Dalam prosesnya, Yoki Alvetro menegaskan bahwa seluruh data yang masuk telah melaluitahap verifikasi menyeluruh di pusat data, bahkan sebagian sampel juga dilakukanpengecekan ulang sebagai bagian dari kontrol kualitas. Hasilnya menunjukkan tidak adanyakesalahan signifikan, sehingga temuan survei ini dapat dijadikan rujukan dalam membacatren persepsi publik terhadap kinerja pemerintah saat ini.Jika dilihat secara lebih luas, capaian tingkat kepuasan publik ini juga tidak lepas dariberbagai langkah strategis yang telah dilakukan pemerintah selama setahun terakhir. Selainprogram Makan Bergizi Gratis, pemerintah juga mendorong percepatan pembangunaninfrastruktur, digitalisasi layanan publik, serta penguatan sektor UMKM sebagai tulangpunggung ekonomi nasional. Upaya ini secara perlahan membentuk persepsi positif di tengahmasyarakat bahwa pemerintah hadir dan bekerja untuk kepentingan rakyat. Oleh karena itu, mari kita sebagai bagian dari publik tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga turut aktifmengawal jalannya pemerintahan agar tetap berpihak pada kepentingan bersama dan mampumenjawab tantangan masa depan dengan lebih baik.*) Pengamat Politik dan Kebijakan Strategis Nasional
- Advertisement -

Baca berita yang ini