Minews.id, Kota Kupang – Kalau ngomongin Pemilu 2029 sekarang, mungkin rasanya masih jauh di depan mata. Tapi kalau kita lihat big picture-nya, tahun itu bakal jadi momen pembuktian buat generasi kita di NTT. Kita bukan lagi cuma jadi “pelengkap” atau sekadar target pasar kampanye yang dikasih konten joget-joget di TikTok sambil pakai kain tenun biar kelihatan merakyat.
Di 2029, suara Gen Z adalah penentu arah kebijakan Flobamora untuk satu dekade ke depan. Pertanyaannya sederhana tapi nyelekit: Apakah kita sudah siap secara isi kepala, atau cuma siap jempol doang buat nge-scroll konten politik tanpa tahu substansinya?
Selama ini, banyak dari kita yang alergi sama kata “politik” karena dianggap kotor dan penuh drama orang tua berebut kursi. Padahal, segala hal yang kita keluhin setiap hari di NTT—mulai dari sulitnya lapangan kerja yang bikin kakak-adik kita harus merantau jadi PMI, biaya UKT yang makin mencekik, sampai masalah krisis air dan stunting yang nggak kunjung tuntas—itu semua adalah produk kebijakan politik. Inilah kenapa pendidikan politik itu hukumnya “wajib fardu” buat kita. Kita butuh kompas untuk melawan arus post-truth dan manipulasi narasi sentimental di media sosial. Kita nggak mau lagi cuma jadi objek yang diperebutkan suaranya pas kampanye, lalu dilupakan begitu saja saat mereka sudah duduk di kursi empuk kekuasaan.
Kita butuh strategi baru: pindah dari sekadar penonton FYP ke aksi nyata. Pendidikan politik bagi mahasiswa NTT nggak boleh lagi kaku seperti seminar satu arah yang membosankan. Kita butuh literasi digital yang “deep” untuk membedah mana politisi yang punya solusi konkret dan mana yang cuma jago gimmick. Kampus-kampus di NTT harus berani jadi laboratorium demokrasi, tempat kita bebas membedah visi-misi tanpa rasa takut. Lebih dari itu, pendidikan politik terbaik adalah terlibat langsung dalam advokasi isu lokal, mulai dari hak masyarakat adat hingga transparansi anggaran daerah.
Sebagai penutup, kita harus sadar bahwa suara kita adalah investasi leher ke atas. Jangan sampai suara mahal kita hanya ditukar dengan kaos partai, sembako, atau janji manis yang expired-nya cuma sampai hari pencoblosan. Pemilu 2029 bukan cuma soal siapa yang jadi pemimpin, tapi soal bagaimana aspirasi kita sebagai pewaris NTT ini benar-benar didengar. Yuk, mulai sekarang lebih aware dan skeptis terhadap informasi yang masuk. Demokrasi kita butuh otak kita, bukan cuma jempol kita. Saatnya Gen Z NTT pegang kendali, bukan cuma jadi pengikut tren!
Penulis: Jublina Bubu (Mahasiswa Prodi Politik FISIP Undana)

