Guru, Pahlawan Perisai Kemerdekaan di Sepanjang Masa

Baca Juga

MATA INDONESIA, – Guru, kata yang tepat menggambarkan bahwa mereka lah sang pahlawan dan penopang pilar-pilar kokoh pembangunan masa depan bangsa.

Tiada kata yang tepat dan jelas untuk menggambarkan sebesar apapun besar pengorbanan guru merupakan suatu bentuk pengabdian yang tidak pernah ada kata habisnya.

Di Indonesia, banyak sekali pejuang pendidikan yang tidak pernah kita lupakan sumbangsih dan karya yang tiada terhitung nilainya bagi fondasi nilai-nilai pendidikan sejak Indonesia meraih kemerdekaan. Sebut saja, pendiri Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara atau dikenal Suwardi Suryaningrat dengan tiga pilar Pendidikan yang dipakai hingga saat ini yaitu ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang berarti (“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”).

Nama lain yang kita kenal sebagai pejuang pendidikan di masa kemerdekaan adalah Raden Ajeng Kartini dengan filosofi emansipasi wanita dalam memperjuangan pemerataan pendidikan di Indonesia. Lalu, siapa pejuang pendidikan di era milenial? Jawabannya adalah guru.

Guru dalam konteks umum dan kita tidak dapat menyebut satu persatu siapa saja. Namun, dalam kehidupan sehari-hari hingga kita belajar dari masa pendidikan TK hingga jenjang perguruan tinggi kita memerlukan guru yang kita kenal mengajarkan nilai-nilai universal sebagai living heroes dalam setiap jengkal kehidupan sehari-hari. Kita perlu mengingat dan menyadari bahwa sebenarnya kita hanya menjadi audience (penonton) di negeri sendiri jika hanya berpikir Indonesia tidak pernah menghasilkan guru-guru berkualitas selain pahlawan di masa lalu.

BIla kita menilik ke belakang, pahlawan merupakan pendiri atau pelopor pendidikan, akan tetapi keberadaan guru jika tidak dianggap maka tidak ada pula tongkat estafet untuk memajukan pendidikan maka sama saja kita tidak akan melihat para presiden berdiri untuk membangun dan melanjutkan Indonesia sebagai negara maju dengan beragam potensi menuju Indonesia Emas 2045.

Peran guru sangatlah sentral bagi kokohnya pendidikan di era milenial dan menuju revolusi industri 4.0 atau dikenal industry 4.0. Berbagai pengenalan melalui metode pembelajaran baik di sekolah formal dan non-formal merupakan kontribusi nyata guru untuk mengajarkan peserta didik agar meraih prestasi di lintas sektor di masa mendatang.

Warisan Pendidikan

Pengenalan kita akan pahlawan tidak selalu berasal dari glorifikasi dan pemujaan terhadap tokoh-tokoh tertentu. Biarlah kita melihat generasi milenial mampu melihat peran guru di sekolah sebagai mentor dan tutor untuk menciptakan pahlawan versi mereka tentu dalam koridor sense of belongings bagi mereka untuk meraih cita-cita.

Dalam pengakomodasian warisan pendidikan dari para pahlawan masa lalu tidak akan ada habisnya melihat sejarah namun bila kita melihat perspektif yang lebih luas secara universal maka guru sebagai pahlawan masa kini akan bergerak menciptakan bangsa yang sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Ruang bagi the legacy of heroes (warisan pahlawan) adalah sejarah yang tidak akan terulang.

Guru merupakan profesi yang paling mulia yang menciptakan pemimpin-pemimpin berbagai lini. Tanpa guru seakan ibarat teh tanpa gula yang tidak menghasilkan formulasi untuk memberdayakan pahlawan-pahlawan baru. Kita boleh mengingat kata Nelson Mandela “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world” dimana pendidikan merupakan senjata terbaik untuk mengubah dunia dan semua berasal dari guru.

Dengan konteks guru, kita belajar dari pengalaman para pendidik untuk berakhlak dan bertindak sesuai norma serta tidak hanya mengajarkan bahwa kita mengisi dengan materi ilmu dan wawasan saja, melainkan penuh dengan kesadaran secara intelektual dan emosional. Dikatakan pula, guru membangun konsep kerangka berpikir kreatif dan inovatif dalam sistem belajar yang boleh dikatakan sederhana dan penuh ide-ide baru dalam rangka pengembangan kompetensi anak baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Kita juga perlu mengingat guru itu tidak melulu pendidik yang hanya belajar di sekolah, akan tetapi juga di sekitar kita. Ayah dan ibu kita dapat dikatakan guru karena mengajarkan pengalaman hidup di lingkungan keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat. Dari ayah kita bisa belajar, dari ibu kita bisa belajar, dari guru di sekolah kita bisa belajar. Dimanapun itu, guru formal dan non-formal telah mengajarkan banyak hal di sekeliling kita dan itulah konsep pahlawan milenial di mata seorang guru.

Pahlawan Milenial

Guru merupakan pahlawan milenial yang selalu menciptakan perisai kemerdekaan di setiap spirit pendidikan karakter sepanjang masa di setiap pribadi seseorang. Mereka adalah pahlawan di setiap masa dan kini menjadi pahlawan milenial dimana kita menuai kesuksesan dari setiap pembelajaran yang diajarkan guru oleh landasan filosofis bagi pembentukan spektrum pemimpin di Indonesia.

Momentum hari guru yang diperingati setiap tanggal 25 November lalu yang bertepatan juga dengan Hari Pahlawan pada 10 November menjadi cipta, karsa, dan rasa yang memadu otentifikasi bahwa tujuan guru dalam rangka mendidik dan mengajar pada dasarnya untuk merangkul sebuah karya bagi anak bangsa terlebih di era digitalisasi dewasa ini. Milenial erat kaitannya dengan dunia digital dan globalisasi yang kita lalui.

Namun, seiring perkembangan waktu peran guru mulai dilupakan, tetapi sebagai generasi penerus bangsa kita harus terus mengingat dan mempraktekkan yang menjadi dasar bagi kita untuk mempelajari setiap sendi-sendi kehidupan yang pernah diajarkan oleh guru sebagai pendidik tanpa melupakan jasa mereka sepanjang masa di setiap proses kehidupan.

Penulis: Ricky Donny Lamhot Marpaung

Instagram : @marpaungricky

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Evaluasi Berkala Koperasi Desa Jadi Kunci Keberlanjutan Program Pemberdayaan Ekonomi

Oleh: Firly Tsaqila )*Komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi ekonomi desa terusdiwujudkan melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan MerahPutih sebagai instrumen strategis pemberdayaan masyarakat. Koperasi Desa dirancang bukan sekadar menjadi wadah aktivitasekonomi lokal, melainkan sebagai infrastruktur ekonomi nasional yang mampu memperluas akses masyarakat desa terhadap layanan usaha, distribusi kebutuhan pokok, pembiayaan produktif, hingga penguatankesejahteraan berbasis komunitas. Sehingga evaluasi berkala menjadi elemen penting agar implementasiprogram berjalan tepat sasaran, adaptif terhadap tantangan lapangan, dan mampu memberikan manfaat berkelanjutan.Langkah cepat Kementerian Koperasi dalam merespons berbagaimasukan masyarakat menunjukkan keseriusan pemerintah menjagakualitas pelaksanaan program ini. Berbagai sorotan yang muncul di ruangpublik dipandang sebagai bentuk partisipasi konstruktif yang justrumemperkuat proses pembenahan. Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai perhatian masyarakatterhadap kondisi dan kesiapan Kopdes Merah Putih merupakan bagiandari pengawasan publik yang sangat dibutuhkan untuk memastikanprogram berkembang sesuai tujuan awal.Menurut Ferry, setiap laporan, masukan, dan perhatian masyarakatmenjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi kementerian untukmelakukan koreksi secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa pemerintahmemandang keterlibatan publik sebagai bagian dari mekanismepengawasan yang memperkuat akuntabilitas tata kelola. Denganketerbukaan terhadap kritik, pemerintah menunjukkan pendekatan adaptifdalam memastikan program ini terus mengalami penyempurnaan.Pendekatan evaluatif ini penting karena skala program Kopdes MerahPutih sangat luas dan menyentuh langsung berbagai aspek kehidupanekonomi desa. Pemerintah tidak menempatkan evaluasi sebagai responsatas persoalan semata, melainkan sebagai instrumen manajemen modern yang memungkinkan setiap kelemahan terdeteksi lebih awal untuk segeradiperbaiki. Dengan demikian, proses pembenahan dapat dilakukan secarasistematis tanpa mengganggu tujuan besar pembangunan ekonomi desa.Ferry juga menekankan bahwa pemerintah akan terus menyelaraskankoordinasi lintas lembaga agar evaluasi yang dilakukan menghasilkanlangkah perbaikan konkret. Kolaborasi antara kementerian, pengelola koperasi, dan masyarakat diyakini menjadi kunci agar setiap temuanlapangan dapat segera ditindaklanjuti secara efektif. Pendekatan inimencerminkan keseriusan pemerintah membangun tata kelola koperasiyang terbuka dan responsif.Di sisi lain, penguatan evaluasi juga tampak dari keterlibatan berbagaiinstitusi pendukung. Badan Pengawas Obat dan Makanan melalui Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mempertegas peran pengawasan distribusi obat danpangan dalam ekosistem Kopdes Merah Putih. Kehadiran BPOM memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspekkelembagaan koperasi, tetapi juga memastikan kualitas layanan dankeamanan produk yang sampai kepada masyarakat desa.BPOM menyiapkan sistem pengawasan yang menjangkau hingga level desa, termasuk melalui pelibatan puluhan ribu kader terlatih. Langkah inimenjadi bukti bahwa evaluasi program dilakukan secara terintegrasidengan penguatan kapasitas pengawasan di lapangan. Pemerintahmemahami bahwa keberlanjutan koperasi tidak dapat dilepaskan dariterjaminnya standar mutu, keamanan, dan keandalan distribusi produk.Kepala BPOM menilai pengawasan distribusi obat dan pangan di koperasidesa membutuhkan mekanisme yang presisi karena cakupan wilayahyang luas menuntut sistem kendali yang kuat. Oleh sebab itu, pemerintahterus merancang skema baru agar distribusi tetap terkendali sekaligusmenjangkau masyarakat secara merata. Upaya ini memperlihatkanorientasi evaluasi yang tidak berhenti pada identifikasi masalah, melainkan diarahkan pada inovasi kebijakan.Pandangan mengenai pentingnya evaluasi berkala juga diperkuat ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa pengawasanberlapis sangat diperlukan mengingat fungsi Kopdes Merah Putihmencakup aspek komersial, sosial, hingga layanan distribusi strategis. Menurutnya, pembagian peran pengawasan lintas lembaga akanmemperkuat akuntabilitas sekaligus meminimalkan potensipenyimpangan.Dipo menekankan pentingnya audit independen secara berkala sebagaiinstrumen untuk mendeteksi potensi moral hazard sejak dini. Ia jugamemandang bahwa tata kelola internal yang kuat harus ditopang olehrekrutmen pengelola profesional yang tetap berbasis komunitas lokal. Keterlibatan warga desa dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memilikisehingga keberlanjutan koperasi terjaga secara alamiah.Pandangan Dipo sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan evaluasi sebagai fondasi penguatan kelembagaan. Pemerintah memahami bahwa keberhasilan program tidak cukup diukurdari jumlah koperasi yang terbentuk, tetapi dari kualitas operasional, efektivitas layanan, dan dampak nyata terhadap kesejahteraanmasyarakat.Koperasi Desa Merah Putih diproyeksikan menjadi simpul distribusi hasilpertanian, penyalur barang strategis, penyedia layanan keuangan, hinggapenggerak aktivitas ekonomi produktif di tingkat akar rumput. Denganperan sebesar itu, evaluasi berkala menjadi syarat mutlak agar setiapfungsi berjalan optimal.Melalui keterbukaan terhadap masukan, sinergi lintas lembaga, sertapenguatan pengawasan berjenjang, pemerintah menunjukkan keseriusanmenjaga keberlanjutan program ini. Evaluasi yang konsisten bukanlahtanda kelemahan, melainkan bukti hadirnya tata kelola modern yang mengedepankan perbaikan berkelanjutan demi memastikan KopdesMerah Putih benar-benar menjadi motor penggerak pemberdayaanekonomi desa di masa depan.*) Pengamat Ekonomi Desa
- Advertisement -

Baca berita yang ini