Ini Arti Masing-Masing Bulan di Kalender Islam

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Seperti halnya penanggalan masehi, kalender Islam juga terdiri dari 12 bulan dengan penamaan bulan yang memiliki arti masing-masing.

Berikut arti nama-nama bulan dalam kalender Islam;

1. Bulan Muharram
Artinya yang diharamkan atau yang menjadi pantangan. Pada bulan itu Umat Islam dilarang berperang karena bisa menumpahkan darah manusia.

2. Bulan Shafar
Shafar artinya kosong. Kata itu menggambarkan saat Mekkah kosong ditinggal penghuni lelakinya karena pada bulan itu mereka pergi meninggalkan rumah untuk merantau, berniaga dan berperang, sehingga pemukiman mereka kosong dari orang laki-laki.

Namun, kaum jahiliyah menghembuskan isu bahwa bulan itu ada bulan sial. Pendapat itu pun segera diluruskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Bulan Rabi’ul Awal
Kata itu berasal dari rabi’ (menetap) dan awal (pertama). Makna sepenuhnya adalah kembalinya kaum lelaki yang merantau. Bisa juga disebut sebagai awal lelaki menetap di rumah.

Di bulan ini banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam seperti Nabi Muhammad Saw lahir, diangkat menjadi Rasul, melakukan hijrah, dan wafat, semua pada bulan Rabi’ul Awal.

4. Bulan Rabi’ul Akhir
Rabiu’ulakhir artinya masa menetap pada lelaki untuk terakhir atau penghabisan. Penamaan itu tidak terlepas dari peristiwa alam musim rabi‘ atau musim semi yang terjadi di Jazirah Arab.

Di musim itu rerumputan menghijau, tanaman tumbuh subur, dan pepohonan banyak yang berbuah.

Beberapa peristiwa besar yang terjadi pada bulan Rabiul Akhir di antaranya adalah turunnya Surat al-Hasyr (pengusiran). Turunnya surat tersebut dilatarbelakangi oleh upaya pembunuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dilakukan oleh kaum Yahudi bani Nadhir. Merekalah kaum yang pertama dikumpulkan dan diusir dari Madinah.

5. Bulan Jumadil Awal
Berasal dari kata jumadi (kering) dan awal (pertama). Penamaan itu karena di bulan tersebut merupakan awal musim kemarau, di mana mulai terjadi kekeringan.

6. Bulan Jumadil Akhir
Arti kata itu berarti musim kemarau yang penghabisan.

7. Bulan Rajab
Artinya: mulia. Sebab, bangsa Arab zaman dulu sangat memuliakan bulan itu antara lain dengan melarang berperang.

8. Bulan Sya’ban
Penamaan Sya’ban karena orang-orang Arab pada bulan ini lazimnya berkelompok mencari nafkah. Peristiwa penting bagi umat Islam yang terjadi pada bulan ini adalah perpindahan kiblat dari Baitul Muqaddas ke Ka’bah (Baitullah).

9. Bulan Ramadhan
Ramadhan artinya: sangat panas. Bulan Ramadhan merupakan satu-satunya nama bulan yang tersebut dalam Al-Quran. Bulan itu memiliki keutamaan, kesucian, dan aneka keistimewaan.

Peristiwa penting pada bulan itu seperti: Allah menurunkan ayat-ayat Al-Quran pertama kali, ada malam Lailatul Qadar, bulan ini ditetapkan sebagai waktu ibadah puasa wajib, pada bulan ini kaumn muslimin dapat menaklukan kaum musyrik dalam perang Badar Kubra dan pada bulan ini juga Nabi Muhammad saw berhasil mengambil alih kota Mekah dan mengakhiri penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaum musyrik.

10. Bulan Syawwal
Syawwal berarti kebahagiaan. Maksudnya kembalinya manusia ke dalam fitrah (kesucian) karena usai menunaikan ibadah puasa dan membayar zakat serta saling bermaaf-maafan.

11. Bulan Dzulqa’dah
Berasal dari kata dzul (pemilik) dan qa’dah (duduk). Jadi nama itu berarti waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab dahulu. Pekerjaan sehari-hari mereka pun banyak dihabiskan dengan duduk-duduk di rumah.

12. Bulan Dzulhijjah
Kata itu berarti yang menunaikan haji. Sebab pada bulan itu warga Arab terutama umat Islam menunaikan ibadah haji.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mendukung Instensifikasi Respons Dini Menekan Dampak PHK terhadap Masyarakat

*) Oleh : Prinsa AlisaDinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian memberikantantangan tersendiri bagi dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam situasi tersebut, pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk melindungimasyarakat melalui berbagai langkah strategis guna mengantisipasi dan meminimalkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Upaya intensifikasirespons dini yang dilakukan pemerintah patut mendapatkan dukungan dari seluruhelemen masyarakat karena menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonominasional sekaligus melindungi kesejahteraan para pekerja dan keluarganya.Langkah respons dini yang diperkuat pemerintah menunjukkan adanya kesadaranbahwa potensi PHK harus diantisipasi sebelum berkembang menjadi permasalahansosial dan ekonomi yang lebih besar. Melalui pemantauan kondisi industri secaraberkelanjutan, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, sertakomunikasi yang lebih intensif dengan pelaku usaha, pemerintah berupayamendeteksi berbagai potensi risiko sejak awal. Pendekatan ini menjadi penting karenapenanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi dampak yang dirasakan oleh pekerja maupun sektor usaha.Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (KemnakerRI), Indah Anggoro Putri menjelaskan pemerintah terus mendorong berbagaikebijakan yang bertujuan menjaga keberlangsungan dunia usaha agar tetap mampumempertahankan tenaga kerjanya. Berbagai insentif, kemudahan berusaha, hinggaupaya menjaga iklim investasi terus dilakukan untuk menciptakan ruang tumbuh bagisektor industri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokuspada penanganan dampak setelah PHK terjadi, tetapi juga berupaya mencegahterjadinya PHK melalui penguatan daya tahan ekonomi dan dunia usaha.Selain itu, pengembangan program peningkatan keterampilan dan pelatihan kerjamenjadi salah satu bentuk nyata respons pemerintah dalam menghadapi perubahankebutuhan pasar tenaga kerja. Transformasi ekonomi dan perkembangan teknologimenuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang semakin adaptif. Melalui berbagaiprogram pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintahberupaya memastikan bahwa pekerja Indonesia tetap memiliki daya saing dan peluang kerja yang luas di tengah perubahan ekonomi yang berlangsung cepat.Dukungan terhadap respons dini pemerintah juga penting karena dampak PHK tidakhanya dirasakan oleh individu yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga memengaruhikondisi ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ketika lapangan kerja dapatdipertahankan dan risiko PHK dapat ditekan, daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Stabilitas konsumsi rumah tangga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhanekonomi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilanlangkah pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko ketenagakerjaan akanmemberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.Pakar demografi dan ketenagakerjaan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada(UGM), Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan di tingkat daerah, penguatan respons dinidapat membantu pemerintah daerah dan pelaku usaha mengambil langkah antisipatifyang lebih efektif. Informasi yang diperoleh lebih cepat memungkinkan berbagai pihakmenyiapkan solusi sebelum terjadi gejolak ketenagakerjaan yang lebih besar. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalansecara optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap langkah pemerintah juga perlu diwujudkan melalui partisipasi aktifberbagai pemangku kepentingan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini