5 Film Tentang Kehidupan di Sekolah yang Menginspirasi

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tahun ajaran baru 2020/2021 ini telah dimulai, Senin 13 Juli 2020. Di tengah pandemi COVID-19 ini, sekolah-sekolah yang ada di zona hijau sudah diizinkan melakukan kegiatan belajar mengajar tatap muka.

Eits, tapi masih terbatas ya, baru jenjang SMP dan SMA. Itupun harus memenuhi protokol kesehatan demi mencegah penyebaran virus corona yang kini masih mewabah di Indonesia.

Sudah beberapa bulan para siswa di Indonesia belajar di rumah. Pastinya banyak banget yang kangen belajar di sekolah dan bertemu dengan teman-teman deh.

BACA JUGA: 4 Film Terbaik tentang Mars, Cocok Ditonton Akhir Pekan

Bagi yang udah bosen belajar di rumah sabar dulu ya! Mendin nonton 5 film bertemakan pendidikan di Indonesia yang bisa menginspirasi untuk lebih semangat belajar.

1. Laskar Pelangi (2008)

Laskar Pelangi adalah salah satu film yang cukup sukses di eranya. Film yang dirilis pada 2008 ini menceritakan tentang 10 anak yang bersekolah di sebuah pondok sekolah dasar, di Belitong.

Bersetting pada tahun 1970-an, di fiml ini kita bisa melihat tokoh Ikal (Zulfani pasha), Lintang (Ferdian), Mahar (Verrys Yamarno), Harun (jeffry Yanuar), Sahara (Dewi Ratih) dan anak-anak lainnya.

Sekolah mereka, SD Muhammadiyyah, selalu berada di bawah ancaman penutupan karena tidak memiliki banyak siswa. Tetapi para siswa juga memiliki harapan, yang datang dalam bentuk dua guru yang luar biasa.

Mereka juga berhasil meraih berbagai prestasi yang menjadi semangat untuk terus bersekolah dan menyelamatkan sekolah mereka. Tapi, di atas segalanya, ada pesan moral yang terkandung bahwa harta bukanlah sesuatu yang penting di dunia.

2. Negeri 5 Menara (2012)

Film ini mengisahkan tentang Alif (Gazza Zubizareta), seorang anak sederhana yang baru saja lulus SMP di Maninjau. Bersama sahabatnya Randai (Sakurta Ginting), Alif ingin melanjutkan SMA di kota Bandung dan kemudian masuk ke Kampus idamannya, ITB.

Namun mimpi tinggal mimpi ketika Amaknya (Lulu Tobing) menginginkan Alif untuk masuk ke Pondok Madani, sebuah pesantren di sudut Ponorogo, jawa Timur. Walau pada awalnya Alif tidak mau, akhirnya Alif memenuhi pinta orang tuanya, walau dengan setengah hati.

Saat Alif tiba di Pondok Madani bersama Ayah (David Chalik), hatinya makin remuk. Tempat itu benar-benar makin ‘kampungan’ dan mirip penjara di matanya. Tapi, Alif menguatkan hati untuk mencoba menjalankan setidaknya tahun pertama di Pondok Madani ini.

Namun, seiring berjalannya waktu, Alif mulai bersahabat dengan teman-teman satu kamarnya, yaitu Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Atang (Rizky Ramdani) dari Bandung, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan, dan Dulmajid (Aris Putra) dari Madura. Mereka berenam selalu berkumpul di menara masjid dan menamakan diri mereka Sahibul Menara alias para pemilik menara.

Suasana kian menghangat di kelas pertama, saat Alif disentak oleh teriakan penuh semangat dari Ustad Salman (Donny Alamsyah): Man Jadda Wajada! Artinya, Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. “Mantra” ini lah yang menambah semangat dan kegigihan keenam anak itu.

Para sahibul menara selalu berpikir visioner dan bercita-cita besar. Mereka masing-masing memiliki ambisi untuk menaklukan dunia. Dari tanah Indonesia, Amerika, Eropa, Asia hingga Afrika. Dibawah menara Madani, mereka berjanji dan bertekad untuk bisa menaklukan dunia dan mencapai cita-cita; Dan menjadi orang besar yang bisa bermanfaat bagi banyak orang.

3. Sokola Rimba (2013)

Sokola Rimba menceritakan tentang perjuangan Butet Manurung (diperankan oleh Prisia Nasution) selama menjadi pengajar bagi masyarakat Suku Anak Dalam yang dikenal dengan sebutan Orang Rimba atau lebih populer dengan sebutan Orang Kubu di pedalaman hutan Bukit Duo Belas, Jambi.

Butet menjadi pengajar bagi masyarakat Dalam yang dikenal sebagai Orang Rimba. Suatu ketika ia terkena demam malaria di tengah hutan, hingga datanglah seorang anak yang tidak dia kenal menyelamatkannya, yang bernama Nyungsang Bungo.

Bungo diam-diam telah memperhatikan Butet sebagai guru pengajar. Bungo rupanya ingin belajar membaca lantaran dia membawa gulungan kertas berisi cap jempol kepala adatnya.

Gulungan kertas itu adalah sebuah surat persetujuan orang desa mengeksploitasi tanah adat mereka. Yang penasaran dengan kisahnya bisa nonton di situs penyedia film ya!

4. MARS: Mimpi Ananda Raih Semesta (2016)

Film ini mengisahkan tentang Tupon, wanita tua di kaki Gunung Kidul, tanpa kenal lelah membesarkan Sekar Palupi untuk terus sekolah. Sang ibu yang buta huruf yang selalu membawa Sekar Palupi melihat alam semesta.

Tupon selalu menunjukan lintang lantip (bintang yang cerdas), planet Mars. Ia selalu bilang bahwa Sekar bisa ke sana dengan ilmu pengetahuan.

Tupon yang lahir sebagai perempuan desa yang lugu yakin dan tak mau menyerah untuk menyekolahkan Sekar Palupi. Ia bahkan rela menjual harta bendanya agar anaknya bisa sekolah dan tidak berakhir seperti dirinya.

Hingga akhirnya, Sekar pun bisa bersekolah dan mampu melanjutkan sekolahnya hingga ke perkuliahan. Sekar mampu meraih gelar master dalam bidang astronomi di Oxford Univeristy, Inggris.

Saat ia kembali ke Indonesia, ia tidak sabar untuk bertemu sang ibu dan menceritakan pengalamannya bersekolah di luar negeri.

Malangnya, saat ia kembali rumah, rumah terlihat sepi. Ia pun lari ke rumah kakeknya dan menanyai keadaan ibunya. Ternyata, ibunya sudah lama meninggal tanpa Sekar tau.

5. Jembatan Pensil (2017)

Film ini menceritakan tentak empat anak Sekolah Dasar bernama Inal, Aska, Nia dan Ondeng. Mereka berjuang mencari pendidikan dari guru mereka di sebuah sekolah gratis.

Dua diantaranya, Inal dan Ondeng sama-sama memiliki kekurangan fisik dan mental. Inal adalah anak tuna netra, sedangkan Ondeng terbelakang secara mental.

Keterbatasan yang mereka miliki tak pernah sedikitpun melunturkan niat mereka mencari pendidikan. Ondeng, dengan cacat mentalnya, punya bakat menggambar sketsa yang kemudian rutin ia lakukan untuk mengisi hari-harinya.

Suatu hari, jembatan rapuh itu akhirnya rubuh saat keempatnya melintas. Musibah ini tak lantas mematahkan semangat mereka bersekolah. Mereka bercita-cita membangun kembali jembatan yang setiap hari mereka lalui itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Konsistensi Negara Mengawal Keadilan dan Percepatan Pembangunan Papua melalui Otonomi Khusus

Oleh: Manta Wabimbo *) Papua bukan sekadar wilayah administratif di ujung timur Indonesia, melainkan ruangstrategis tempat negara menguji komitmennya terhadap keadilan pembangunan. SejakOtonomi Khusus Papua diberlakukan pada 2001 dan diperkuat melalui Undang-UndangNomor 2 Tahun 2021, arah kebijakan pemerintah semakin tegas: menghadirkan pendekatanpembangunan yang afirmatif, terukur, dan berpihak pada Orang Asli Papua. Dalam kontekstersebut, Otsus tidak lagi dapat dipahami sebagai kebijakan sementara, melainkan sebagaiinstrumen jangka panjang untuk mengoreksi ketimpangan struktural yang diwariskan olehsejarah dan kondisi geografis. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan kesinambungan dan penguatanterhadap agenda Otsus. Hal ini tercermin dari intensifikasi koordinasi antara pemerintah pusatdan kepala daerah seluruh Papua yang dilakukan secara langsung di Istana Negara. Langkahtersebut menandakan bahwa Papua tidak diposisikan sebagai wilayah pinggiran, melainkansebagai prioritas nasional yang membutuhkan orkestrasi kebijakan lintas sektor. Pemerintahpusat tidak hanya menyalurkan anggaran, tetapi juga memastikan bahwa desainpembangunan Papua selaras antara pusat dan daerah. Salah satu capaian yang paling nyata dari implementasi Otsus adalah percepatanpembangunan infrastruktur dasar. Jalan penghubung, bandara perintis, dan fasilitas logistiktelah membuka isolasi wilayah yang selama puluhan tahun menjadi penghambat utamapembangunan. Infrastruktur ini tidak semata menghadirkan konektivitas fisik, tetapimenciptakan fondasi ekonomi baru yang memungkinkan distribusi barang lebih efisien danmenurunkan beban biaya hidup masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan infrastrukturmenjadi wujud kehadiran negara yang konkret dan dirasakan langsung oleh rakyat. Dampak lanjutan dari keterbukaan akses tersebut terlihat pada penguatan ekonomi lokal. Pemerintah mendorong agar aktivitas produksi masyarakat Papua, baik di sektor pertanian, perikanan, maupun usaha mikro, dapat terhubung dengan pasar yang lebih luas. Otsusmemberi ruang fiskal bagi daerah untuk merancang kebijakan ekonomi yang sesuai dengankarakter lokal, sekaligus menjaga agar manfaat pembangunan tidak terkonsentrasi padakelompok tertentu. Pendekatan ini menegaskan bahwa agenda pemerintah di Papua berorientasi pada pemerataan, bukan sekadar pertumbuhan angka statistik. Pada saat yang sama, Otsus Jilid II menempatkan pembangunan sumber daya manusiasebagai prioritas strategis. Program afirmasi pendidikan, termasuk beasiswa bagi siswa danmahasiswa asli Papua, menjadi investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depanPapua. Otsus telah membuka ruang mobilitas sosial yang sebelumnya sulit dijangkau, sekaligus membangun rasa percaya diri generasi muda Papua untuk berkompetisi secaraglobal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pendidikan adalah kunci utamakemandirian Papua di masa depan. Di sektor kesehatan, kebijakan Otsus juga menunjukkan wajah negara yang protektif. Pemerintah memastikan bahwa akses layanan kesehatan bagi Orang Asli Papua tidak lagiterhambat oleh keterbatasan biaya dan fasilitas. Penguatan rumah sakit daerah, distribusitenaga kesehatan, serta jaminan kesehatan khusus bagi OAP mencerminkan pendekatanpembangunan yang berorientasi pada hak dasar warga negara. Dalam kerangka yang sama, pemberdayaan ekonomi perempuan Papua melalui dukungan usaha mikro menjadi strategipenting untuk memperkuat ketahanan keluarga dan ekonomi lokal. Keunikan Otsus juga tercermin dalam pengakuan terhadap struktur sosial dan politikmasyarakat Papua. Keberadaan Majelis Rakyat Papua serta mekanisme afirmasi politik bagiOrang Asli Papua merupakan bentuk penghormatan negara terhadap identitas dan hakkolektif masyarakat adat. Tokoh agama Papua, Pdt. Alberth Yoku, menekankan bahwa Otsusmemberikan ruang bagi orang Papua untuk menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri, selama dijalankan dengan semangat kolaborasi dan kejujuran. Perspektif ini menegaskanbahwa Otsus bukan ancaman bagi integrasi nasional, melainkan penguat persatuan berbasiskeadilan. Pemerintah juga menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki tata kelola Otsus. Pembentukan Badan Pengarah Percepatan Otonomi Khusus Papua yang dipimpin langsungoleh Wakil Presiden merupakan sinyal kuat bahwa pengawasan dan efektivitas menjadiperhatian utama. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian secara konsisten menekankanpentingnya sinkronisasi program antara kementerian dan pemerintah daerah agar dana Otsusbenar-benar menghasilkan dampak nyata. Langkah ini menjawab kritik lama tentangfragmentasi kebijakan dan memperlihatkan kemauan politik pemerintah untuk melakukankoreksi. Ke depan, tantangan implementasi tentu masih ada. Namun dengan peningkatan alokasianggaran Otsus menjadi 2,25 persen dari Dana Alokasi Umum nasional serta pengawasanyang semakin ketat, fondasi pembangunan Papua kian kokoh. Yang dibutuhkan kini adalahkonsistensi pelaksanaan dan kepemimpinan daerah yang berorientasi pada pelayanan publik. Papua hari ini adalah Papua yang sedang bergerak maju. Mendukung Otsus berartimendukung agenda besar negara dalam menyempurnakan keadilan pembangunan danmemperkuat persatuan nasional. Ketika Papua tumbuh melalui jalur yang damai, inklusif, danberkelanjutan, Indonesia sedang meneguhkan dirinya sebagai bangsa besar yang tidakmeninggalkan satu pun wilayahnya dalam perjalanan menuju kemajuan. *) Analis Kebijakan Publik
- Advertisement -

Baca berita yang ini