Dosen IPB Pembuat Molotov Resmi Ditahan Polda Metro Jaya

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA - Abdul Basith alias AB, dosen Institut Pertanian Bogor yang kedapatan menjadi seorang perancang dan penyimpan bom molotov untuk menciptakan kerusuhan di Jakarta, resmi ditahan Polda Metro Jaya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut, AB ditahan bersama sembilan tersangka lainnya, yakni S, OS, JAF, AL, NAD, SAM, YF, ALI, dan FEB.

“Penahanan selama 20 hari ke depan dan dapat diperpanjang selama 40 hari,” kata Argo saat dikonfirmasi, Senin 1 Oktober 2019 malam.

Argo menyebut 10 tersangka itu dijerat dengan sejumlah pasal, di antaranya Pasal 169 KUHP dan UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Saat ini polisi masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap para tersangka.

Dalam menjalankan aksinya, kata Argo, 10 tersangka itu memiliki peran yang berbeda-beda. Khusus Abdul Basith, ia diduga berperan sebagai penyimpan bom, karena saat diamankan petugas Sabtu 28 September 2019 lalu, ditemukan barang bukti 28 buah molotov.

“Ada yang disuruh untuk mencari pembuat bom molotov dan ada juga yang sebagai penyimpan bom molotov,” ujar Argo.

Abdul Basith diduga berencana meledakan bom molotov tersebut saat aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI pada Sabtu lalu.

Berita Terbaru

Stabilitas Keamanan dan Pembangunan Papua Kian Kokoh, Film Pesta Babi Tidak Relevan

Oleh: Yulianus Wenda*Stabilitas keamanan merupakan prasyarat utama bagi keberhasilan pembangunan di Papua. Dalam konteks ini, upaya pemerintah untuk mempercepat pembangunanyang inklusif dan berkelanjutan perlu mendapatkan dukungan luas dari seluruhelemen masyarakat. Berbagai program strategis yang saat ini dijalankanmenunjukkan adanya keseriusan negara dalam mendorong pemerataankesejahteraan, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi masyarakat lokal. Namundemikian, di tengah ikhtiar tersebut, munculnya konten-konten yang bersifatprovokatif, seperti film bertajuk “Pesta Babi”, berpotensi mengganggu harmoni sosialdan merusak kepercayaan publik terhadap proses pembangunan yang sedangberjalan.Komitmen pemerintah dalam mendorong pembangunan di Papua terlihat nyatamelalui berbagai kebijakan konkret. Salah satunya adalah program cetak sawah rakyat yang ditargetkan mencapai 30.000 hektare pada tahun ini. Program ini tidakhanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga menjadiinstrumen strategis untuk menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. Pendekatan yang digunakan melalui tahapan survei, identifikasi, dan desainmenunjukkan bahwa pemerintah mengedepankan perencanaan yang matang dan berbasis data. Dengan memperhatikan aspek teknis, sosial, dan potensi konfliklahan, program ini dirancang agar mampu berjalan efektif serta meminimalkanhambatan di lapangan.Lebih jauh, keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat adat menjadi elemenkrusial dalam memastikan keberhasilan program tersebut. Sinergi antara pemerintahpusat dan daerah tercermin dalam koordinasi intensif yang dilakukan untukmempercepat realisasi pembangunan. Pernyataan Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, Hermanto, menegaskan bahwa proses berjalan secara bertahap dan terukur, dengan target yang jelas hingga tahapkonstruksi. Sementara itu, Gubernur Papua Mathius D....
- Advertisement -

Baca berita yang ini