Bea Cukai Dorong Ekspor IKM dan UKM Lewat Insentif Fiskal

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA-Nilai ekspor Indonesia ke luar negeri menunjukan kebangkitan secara nasional. Hal itu dibuktikan dengan kontribusi terhadap ekspor nasional dari aktifitas KB-KITE pada tahun ini tepatnya pada Juli 2022 mencapai 36,27 persen.

“Kontribusi terhadap ekspor nasional pada 2020 mencapai 39,53 persen, tahun 2021 mencapai 39,64 persen, sementara untuk tahun ini baru per 32 Juli 2022 sudah mencapai 36,27 persen,” ujar Direktur Fasilitas Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan Untung Basuki

Menurutnya, bila berdasarkan survei yang dilakukan, kontribusi ekspor perusahaan di kawasan berikat KITE bisa mencapai 40 persen di akhir tahun.

Namun, DJBC masih optimis, bila angkanya bisa lebih dari 40 persen tersebut. Dengan nilai ekspor USD 56,99 miliar hingga Juli 2022.

Sebab, bila ekspor nasional secara keseluruhan bisa tumbuh, maka nilai pertumbuhan pun akan terjadi juga pada perusahaan-perusahaan ekspor impor tersebut. Makanya, Dirjen Bea dan Cukai menjaga angka tersebut tetap stabil sampai akhir tahun.

“Kami optimis masih terus tumbuh, karena di kawasan berikat itu kita wajibkan dia hanya boleh menjual lokal maksimal hanya 50 persen, sisanya ekspor,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini