Prediksi Faisal Basri, Ekonomi Indonesia di Akhir 2019 Berada pada Level 5,0

Baca Juga

MINEWS, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2019 sebesar 5,05 persen secara tahunan. Atau lebih rendah dari realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 yang sebesar 5,07 persen secara tahunan. Sementara pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai 5,3 persen di akhir tahun 2019.

Menanggapi data itu, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi akan sedikit di bawah ekspektasi.

“Dari target APBN pemerintah yang sebesar 5,3 persen, tapi pertumbuhan ekonomi nasional cuma akan mencapai 5,0 persen di akhir 2019,” ujar dia Kedai Tempo Jakarta, Rabu 14 Agustus 2019.

Selanjutnya untuk tahun 2020, kata Faisal akan lebih berat dari 2019, karena sudah ada perkiraan bahwa dua belas bulan ke depan di AS bakal ada resesi atau perlambatan ekonomi. Kata dia, saat ini ekonomi AS masih tumbuh 2,0 persen dan di 2020 kemungkinan bakal minus.

“Dan karena ekonominya AS besar, maka akan buat negara-negara lain akan ikut terdampak. Tapi untuk Indonesia, cuma akan turun sedikit atau berada di bawah harapan yang ditargetkan. Kira-kira 5,1 persen,” kata Faisal.

Selanjutnya dari dalam negeri, Faisal menyoroti potensi sektor penghasil barang dalam negeri yang cuma tinggal 40 persen. Ini berarti penghasil biasa lebih banyak yaitu 60 persen.

“Nah, yang bisa ekspor kan barang atau produk-produk dari aneka industri, pertambangan dan pertanian. Ini karena kinerja menteri sektor penghasil barang itu seperti menteri Pertanian, Pertambangan dan industri manufaktur masih kacau. Ditambah lagi kinerja menteri perdagangan yang malah ikut-ikutan bikin tol khusus untuk mudahkan impor. Lalu ada Menteri Perindustrian atau apa namanya Luhut Panjaitan yang ngurus mobil listrik atau apa saja,” ujarnya.

Ia mengharapkan pada periode kedua pemerintahan Jokowi ini perlu membentuk kabinet yang kuat dan koheren.

“Tak perlu asal comot aja. Biar gak ada Menko segala urusan dan Menko yang tak punya gigi. Harus ada kriteria. Atau bila perlu ajukan nama. Kalo gak ada, ya cari yang lain, yang punya kredibilitas dan rekam jejak yang bagus,” kata Faisal.

Pun ia berkelakar menganjurkan agar Jaksa Agung diambil dari pihak independen hingga partai non koalisi pemerintah, salah satunya ketua umum Gerindra Prabowo Subianto.

“Jaksa Agung tak harus dari Nasdem. Bisa ambil yang lebih netral. Bila perlu ambil Prabowo untuk bisa takut-takutin si brewok (Surya Paloh),” ujar dia.

 

Berita Terbaru

Bansos Pangan Beras dan Minyak Goreng Jadi Penyangga Kesejahteraan Masyarakat

Oleh : Andhika RachmaPemerintah terus memperkuat perlindungan sosial melalui penyaluran bantuan sosial (bansos) pangan berupa beras dan minyak goreng sebagai langkah menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah dinamika ekonomi global dan fluktuasi harga kebutuhan pokok. Program tersebut menjadisalah satu instrumen penting negara dalam memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga, terutama bagi kelompok rentan dan keluarga berpenghasilan rendah. Kehadiran bansos pangantidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga berperan menjagastabilitas sosial dan memperkuat ketahanan pangan nasional.Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersamaPerum Bulog terus mempercepat distribusi bantuan pangan ke berbagai wilayah di Indonesia. Penyaluran bantuan ini menyasar lebih dari 33 juta keluarga penerima manfaat (KPM) denganalokasi bantuan berupa beras dan minyak goreng yang diberikan secara bertahap. Pemerintahmenilai program bansos pangan menjadi langkah strategis untuk mengurangi tekanan ekonomimasyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan di pasar.Program bantuan pangan tersebut juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjagakeseimbangan antara perlindungan sosial dan stabilitas ekonomi nasional. Di tengah tantanganglobal seperti ketidakpastian rantai pasok pangan dunia dan gejolak harga komoditasinternasional, pemerintah berupaya memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadapkebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Bantuan beras dan minyak goreng menjadi bentuknyata kehadiran negara dalam melindungi masyarakat dari dampak inflasi pangan yang dapatmemengaruhi kondisi ekonomi rumah tangga.Pemerintah bahkan telah menyiapkan anggaran mencapai Rp11,92 triliun untuk mendukungpenyaluran bantuan pangan beras dan minyak goreng pada tahun 2026. Anggaran tersebutdigunakan untuk memastikan distribusi bantuan berjalan lancar dan tepat sasaran. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kebijakan tersebutbertujuan memperkuat daya beli masyarakat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.Penyaluran bansos pangan juga menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi nasional. Pemerintah memahami bahwa kenaikan harga bahan pangan dapat memberikan tekananlangsung terhadap masyarakat kecil. Oleh karena itu, distribusi bantuan beras dan minyak goreng dilakukan bersamaan dengan upaya menjaga pasokan pangan nasional tetap aman. Dengan stokcadangan beras pemerintah yang terus diperkuat, Indonesia dinilai memiliki kemampuanmenjaga stabilitas pangan di tengah tantangan global.Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa program bantuan pangan merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada rakyat. Pemerintahberupaya memastikan masyarakat yang membutuhkan dapat memperoleh bantuan secara cepatdan merata. Penyaluran bansos pangan dinilai mampu membantu meringankan bebanpengeluaran rumah tangga, terutama bagi masyarakat dengan pendapatan terbatas yang sangat terdampak oleh perubahan harga kebutuhan pokok.Selain membantu masyarakat penerima manfaat, program bansos pangan turut memberikandampak positif terhadap stabilitas pasar domestik. Ketika distribusi bantuan berjalan efektif, tekanan terhadap lonjakan harga beras dan minyak goreng dapat ditekan sehingga kondisi pasar menjadi lebih stabil....
- Advertisement -

Baca berita yang ini