Unggah Foto Bersama Azka dan Nada, Sabrina Chairunnisa Tuliskan Pesan Menyentuh

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Setelah resmi menikah dengan Deddy Corbuzier, Sabrina Chairunnisa tampaknya tengah menikmati peran barunya menjadi istri dan ibu.

Baru-baru ini, dirinya mengunggah foto saat prosesi pernikahannya dengan personel lengkap yaitu dirinya, Deddy Corbuzier, Azka Corbuzier, dan Nada Tarina.

Unggahan pada laman media sosial Instagramnya tersebut memperlihatkan beberapa foto dirinya bersama keluarga barunya dengan berbagai gaya.

Pada unggahan foto tersebut juga dirinya menuliskan pesan tentang arti keluarga untuknya yang berhasil membuat netizen merasa tersentuh.

“Keluarga bukanlah DARAH siapa yang kau bawa, melainkan Siapa yang Kau Cintai & Yang Mencintaimu kembali,” tulisnya.

Unggahan Sabrina Chairunnisa tersebut sontak langsung dipenuhi oleh komentar netizen yang tersentuh dan bahagia melihat kekompakan keluarga baru tersebut.

“Nggak ada bosen-bosennya lihat kebahagian ini, samawa till jannah,” tulis netizen.

“MasyaAllah..keluarga the best pokok nya…selamat ya mba..samawa dan hanya maut yang memisahkan,” sambung netizen.

“Inilah yang namanya keindahan berjodoh,” tambah netizen.

“Ibaratnya Azka versi kecilnya om ded, dan Nada adalah versi kecil kak Sabrina,” timpal netizen.

Diketahui, Deddy Corbuzier dan Sabrina Cahirunnisa telah resmi menikah pada 6 Juni 2022 lalu setelah menjalani hubungan asmara selama 9 tahun.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Sekolah Rakyat, Ruang Perubahan Generasi

Oleh: Jaya Abdi Keningar *) Sekolah Rakyat tidak lahir sebagai proyek pendidikan biasa. Ia hadir sebagai jawaban ataspersoalan yang selama puluhan tahun menjadi simpul ketimpangan pembangunan manusiaIndonesia: kemiskinan ekstrem yang diwariskan lintas generasi melalui keterbatasan aksespendidikan bermutu. Dalam konteks ini, Sekolah Rakyat bukan sekadar institusi belajar, melainkan ruang perubahan, tempat negara secara sadar mencoba memutus rantaiketertinggalan dari hulunya. Berbeda dengan sekolah formal pada umumnya, Sekolah Rakyat dirancang denganpendekatan yang menyentuh akar persoalan sosial. Pendekatan ini menjelaskan mengapaleading sector program ini berada di Kementerian Sosial, bukan semata di kementerianpendidikan. Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, menilai desain tersebut sebagaipilihan kebijakan yang logis karena sasaran utama Sekolah Rakyat adalah kelompok desilsatu dan dua, masyarakat miskin ekstrem yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikanreguler. Menurutnya, orientasi ini menegaskan bahwa pendidikan diposisikan sebagaiinstrumen mobilitas sosial, bukan hanya pemenuhan administratif. Dalam perspektif pendidikan, kebijakan ini mencerminkan pergeseran paradigma negara. Pendidikan tidak lagi dipahami semata sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagaistrategi intervensi struktural untuk memperbaiki kualitas hidup. Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menekankan bahwa tujuan pembangunan bukanlah mengejarstatus negara berpendapatan tinggi, melainkan memastikan rakyat hidup layak, makan cukup, sehat, dan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik. Penempatan Sekolah Rakyat dalamkerangka besar Asta Cita menunjukkan bahwa pendidikan ditempatkan sejajar denganswasembada pangan dan energi sebagai fondasi kedaulatan bangsa. Namun, tantangan terbesar Sekolah Rakyat justru terletak pada kualitas proses belajar itusendiri. Banyak anak yang masuk ke Sekolah Rakyat membawa beban ketertinggalan literasiyang serius. Dalam dialog publik bertema “Menjaga Literasi Sekolah Rakyat” di TVRI,Kepala Perpustakaan Nasional, E. Aminudin Aziz menegaskan bahwa literasi tidak bolehdipersempit hanya pada kemampuan membaca teks, melainkan kemampuan mengolahinformasi secara kritis untuk meningkatkan kualitas hidup. Pandangan ini menegaskan bahwaliterasi adalah inti dari transformasi, bukan pelengkap kebijakan. Di sinilah perpustakaan Sekolah Rakyat mengambil peran strategis. Perpustakaan tidak lagidiposisikan sebagai ruang sunyi penyimpanan buku, tetapi sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar tanpa stigma. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa ketikaperpustakaan dikelola secara aktif, dengan kegiatan membaca bersama, diskusi buku, dan kelas menulis, anak-anak yang semula pasif mulai berani menyampaikan pendapat. Perubahan ini mungkin tidak langsung terlihat dalam angka, tetapi sangat menentukan arahmasa depan mereka. Pendekatan hibrida yang menggabungkan buku cetak dan teknologi digital juga menjadikunci adaptasi Sekolah Rakyat dengan realitas zaman....
- Advertisement -

Baca berita yang ini