Berkunjung ke Yuasa Pusat Pembuatan Kecap Tradisional Jepang

Baca Juga

MATA INDONESIA, TOKYO – Rasa asin-manis dan citarasa umami membuat hampir semua makanan terasa lebih enak dan memuaskan jika menggunakan kecap.

Umami atau MSG alami di Jepang. Sederhananya, umami adalah rasa gurih yang khas dan berbeda dari empat rasa dasar yang dapat dikenali oleh lidah — manis, asam, pahit, dan asin.

Rasa gurih umami inilah yang menginspirasi pembuatan MSG komersil yang selama ini Anda konsumsi. Pada zaman sekarang, MSG dibuat bukan dari pengolahan kaldu rumput laut melainkan dari fermentasi pati, gula tebu, dan molase (produk sampingan dari gula tebu atau gula bit).

Nah, bagaimana asal mula rahasia cita rasa kuliner Jepang itu. Bagaimana awalnya?

Berawal di kota Yuasa, sebuah pelabuhan di pantai barat Semenanjung Kishu di Prefektur Wakayama. Inilah tempat kelahiran kecap Jepang pertama kali, yaitu pada akhir abad ke-13.

Kecap tercipta ketika biksu Budha Jepang bernama Shinchi Kakushin seorang kepala biara di Kuil Kokoku-ji dekat Yuasa membawa resep untuk membuat makanan Miso Kinzanji yang terbuat dari kacang kedelai utuh.

Makanan ini terdiri dari berbagai biji-bijian lain (seperti barley dan beras) dan sayuran. Biji dan sayuran ini mengalami proses fermentasi di sebuah gentong besar yang mengalami penekanan dengan batu berat di atasnya.  Hasilnya, cairan yang sangat lezat. Itulah cita rasa umami.

Proses pembuatan kecap ini turun temurun dilakukan warga Yuasa yang hanya berpenduduk 1.000 orang. Desa ini penuh dengan 90 pabrik kecap. Hampir satu toko kecap untuk setiap 10 rumah.

Pemerintah Jepang melindungi kota ini dan tidak mengembangkannya menjadi sebuah pemukiman yang luas. Dari sejak berdiri hingga sekarang, warganya hanya bekerja untuk membuat kecap, kuliner warisan dari Dinasti Song Tiongkok.

Selain menjadi wilayah produksi kecap, desa ini juga menjadi tempat wisata dan pemberhentian rute ziarah

Kadocho

Pada 1841, penduduk setempat mengadaptasi proses pembuatan Miso Kinzaniji yaitu Kadocho. Produk kecap yang mereka hasilkan sangat mirip dengan jenis aslinya seperti yang mungkin Anda temukan di manapun di Jepang.

Terbuat dengan peralatan kayu kuno dan alat besi. Untuk mendapatkan rasa yang umami hanya membutuhkan kedelai kukus dan gandum panggang yang halus dan bercampur dengan Koji Kin atau spora jamur. Seperti biasa farmentasi dengan cara menutupnya dalam sebuah ember besar selama tiga hari dengan suhu dingin. Barulah campuran kedelai dan gandum ini berkecambah. Campuran ini kemudian menjadi gula.

Untuk menjadikan rasanya kompleks seperti Miso Kinzaniji, adonan ini kemudian masuk ke dalam tong kayu dengan air segar dan garam. Lalu difermentasi setidaknya 1,5 tahun. Kecap kadocho bertekstur kental dengan rasa yang kaya

Ketatnya persaingan kecap tradisional yang harganya kira-kira dua sampai tiga kali lebih mahal daripada kecap produksi massal membuat pembuat kecap tradisional gulung tikar. Mereka bersaing pada harga dan kualitas standard kecap.

Reporter: Fadila Aliah Hakim

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Mendukung Instensifikasi Respons Dini Menekan Dampak PHK terhadap Masyarakat

*) Oleh : Prinsa AlisaDinamika perekonomian global yang masih diwarnai ketidakpastian memberikantantangan tersendiri bagi dunia usaha dan sektor ketenagakerjaan di Indonesia. Dalam situasi tersebut, pemerintah terus menunjukkan komitmennya untuk melindungimasyarakat melalui berbagai langkah strategis guna mengantisipasi dan meminimalkan dampak pemutusan hubungan kerja (PHK). Upaya intensifikasirespons dini yang dilakukan pemerintah patut mendapatkan dukungan dari seluruhelemen masyarakat karena menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas ekonominasional sekaligus melindungi kesejahteraan para pekerja dan keluarganya.Langkah respons dini yang diperkuat pemerintah menunjukkan adanya kesadaranbahwa potensi PHK harus diantisipasi sebelum berkembang menjadi permasalahansosial dan ekonomi yang lebih besar. Melalui pemantauan kondisi industri secaraberkelanjutan, penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, sertakomunikasi yang lebih intensif dengan pelaku usaha, pemerintah berupayamendeteksi berbagai potensi risiko sejak awal. Pendekatan ini menjadi penting karenapenanganan yang cepat dan tepat dapat mengurangi dampak yang dirasakan oleh pekerja maupun sektor usaha.Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Dirjen PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (KemnakerRI), Indah Anggoro Putri menjelaskan pemerintah terus mendorong berbagaikebijakan yang bertujuan menjaga keberlangsungan dunia usaha agar tetap mampumempertahankan tenaga kerjanya. Berbagai insentif, kemudahan berusaha, hinggaupaya menjaga iklim investasi terus dilakukan untuk menciptakan ruang tumbuh bagisektor industri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokuspada penanganan dampak setelah PHK terjadi, tetapi juga berupaya mencegahterjadinya PHK melalui penguatan daya tahan ekonomi dan dunia usaha.Selain itu, pengembangan program peningkatan keterampilan dan pelatihan kerjamenjadi salah satu bentuk nyata respons pemerintah dalam menghadapi perubahankebutuhan pasar tenaga kerja. Transformasi ekonomi dan perkembangan teknologimenuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang semakin adaptif. Melalui berbagaiprogram pelatihan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemerintahberupaya memastikan bahwa pekerja Indonesia tetap memiliki daya saing dan peluang kerja yang luas di tengah perubahan ekonomi yang berlangsung cepat.Dukungan terhadap respons dini pemerintah juga penting karena dampak PHK tidakhanya dirasakan oleh individu yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga memengaruhikondisi ekonomi keluarga dan masyarakat sekitar. Ketika lapangan kerja dapatdipertahankan dan risiko PHK dapat ditekan, daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Stabilitas konsumsi rumah tangga pada akhirnya akan mendukung pertumbuhanekonomi nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilanlangkah pemerintah dalam melakukan mitigasi risiko ketenagakerjaan akanmemberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.Pakar demografi dan ketenagakerjaan terkemuka dari Universitas Gadjah Mada(UGM), Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan di tingkat daerah, penguatan respons dinidapat membantu pemerintah daerah dan pelaku usaha mengambil langkah antisipatifyang lebih efektif. Informasi yang diperoleh lebih cepat memungkinkan berbagai pihakmenyiapkan solusi sebelum terjadi gejolak ketenagakerjaan yang lebih besar. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam memastikan setiap kebijakan dapat berjalansecara optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap langkah pemerintah juga perlu diwujudkan melalui partisipasi aktifberbagai pemangku kepentingan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini