MATA INDONESIA, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menunjukan capaian positif industri dari sisi investasi.
Pada tahun 2021, perusahaan anggotanya berhasil mengelola total dana investasi sebesar Rp 530,71 triliun. Jumlah tersebut naik 5,3 persen dari tahun 2020 yang jumlahnya sebesar Rp 504,87 triliun.
“Hal ini tentunya seiring dengan kinerja industri yang membaik pada tahun 2021,” kata Ketua Bidang Aktuaria dan Management Risiko AAJI Fauzi Arfan Rabu 9 Maret 2022.
Arfan merinci, portofolio reksadana mendominasi dengan total 31 persen. Kemudian, investasi saham sebesar 28 persen, dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 21 persen.
Ia mengatakan, hasil investasinya tumbuh sebesar 44,7 persen menjadi Rp 26,01 triliun pada tahun 2021. Sementara, jumlahnya pada tahun 2020 sebesar Rp 17,97 triliun.
Arfan mengungkapkan, pertumbuhan kinerja hasil investasi asuransi jiwa karena pengaruh pertumbuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ia mencatat, pertumbuhan IHSG tumbuh sebanyak 10,1 persen dibandingkan tahun 2020.
“Pada dasarnya, persentase tersebut belum mencapai angka anjuran 30 persen dari pemerintah. Kekurangan penempatan dana investasi di produk SBN ini karena keterbatasan produk yang tersedia,” kata Arfan.
Ia menambahkan, pada tahun 2021, total penempatan dana pada instrumen saham dan reksa dana mencapai total Rp 316,56 triliun atau meningkat sebesar 2,3 persen.
Dalam laporan kinerja keuangan 2021, AAJI mencatat pendapatan industri sebesar Rp 241,17 triliun.
Angka tersebut tumbuh 11,9 persen dari pendapatan tahun 2020.
AAJI juga memaparkan, industri asuransi jiwa di Indonesia meraih total pendapatan premi sebesar Rp 202,93 triliun atau tumbuh sebesar 8,2 persen.