Dua Lipa Dapat Gugatan untuk Lagu ‘Levitating’ yang Kedua Kalinya

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Belum selesai dengan tuntutan tuduhan pelanggaran hak cipta dengan band reggae, Artikal Sound System. Kini Dua Lipa kembali terjerat dengan masalah yang sama untuk lagunya yang berjudul ‘Levitating’.

Melansir dari Billboard, kali ini gugatan tersebut diajikan oleh para penulis lagu L. Russell Brown dan Sandy Linzer.

Dua penulis lagu ini menglaim bahwa Dua Lipa telah ‘menjiplak’ melodi pembuka lagu ‘Levitating’ dari lagu mereka yang sudah rilis sejak 1979 yang berjudulkan ‘Wiggle and a Giggle All Night dan lagu ‘Don Diablo’ yang rilis pada 1980.

Penulis lagu tersebut mengungkapkan bahwa Dua memang sebelumnya pernah mengakui dulunya sering dengan sengaja meniru era-era lampau. Dua juga mengambil inspirasi dari lagu-lagu lawas agar menciptakan musik yang terdengar retro.

Namun tampaknya Dua malah disebut telah menjiplak kreasi mereka tanpa memberikan atribusi yang layak. Serta pihak dari Dua Lipa dianggap telah mengabaikan hak kepemilikan intelektual milik penggugat.

Sementara itu, sebelumnya Dua juga digugat atas pelanggaran hak cipta atas lagu yang sama dengan band Artikal Sound System pada minggu lalu. Baca selengkapnya di sini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Koperasi Merah Putih dan Pemerataan Manfaat APBN bagi Rakyat

Oleh : Siti Fatimah Rahma*Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu terobosan strategis dalam memperkuatpemerataan manfaat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga ke tingkat akarrumput. Dalam konteks pembangunan nasional, tantangan utama bukan semata pada besarnyaalokasi anggaran, melainkan pada efektivitas distribusi dan dampaknya terhadap kesejahteraanmasyarakat. Oleh karena itu, pendekatan berbasis desa melalui koperasi menjadi instrumenpenting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan negara benar-benar dirasakanoleh rakyat secara langsung, merata, dan berkelanjutan.Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skema pembiayaan KoperasiMerah Putih dirancang secara hati-hati agar tidak membebani APBN secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa meskipun sebagian dana bersumber dari alokasi dana desa, kebijakan initetap memberikan nilai tambah karena mendorong efisiensi ekonomi di tingkat lokal. Pendekatanini memperlihatkan bahwa pengelolaan fiskal tidak hanya berorientasi pada pengeluaran, tetapijuga pada penciptaan manfaat jangka panjang yang dapat memperkuat fondasi ekonomi nasional.Lebih lanjut, Purbaya memaparkan bahwa kondisi fiskal tetap terjaga seiring denganmeningkatnya pendapatan negara, terutama dari sektor komoditas seperti batu bara dan minyak. Hal ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan akselerasi belanja di awal tahunsebagai strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. Dengan demikian, percepatan belanja tidak dipandang sebagai risiko, melainkan sebagai instrumen kebijakan untukmengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah.Dari sisi pembiayaan, penggunaan skema pinjaman melalui perbankan Himbara menjadi langkahinovatif untuk memitigasi risiko fiskal. Pemerintah tidak langsung menanggung beban besarsebagaimana dalam skema Penyertaan Modal...
- Advertisement -

Baca berita yang ini