Dua Suku yang Bentrok di Wouma Akhirnya Sepakat Berdamai

Baca Juga

MATA INDONESIA, WAMENA – Akhirnya kedua suku yang bertikai di Wouma, kini telah sepakat berdamai. Kesepakatan itu ditandatangani pada Sabtu 15 Januari 2022.

Perdamaian ini difasilitasi tiga pemerintah daerah yakni Jayawijaya, Lanny Jaya, dan Nduga, beserta TNI/Polri.

Perdamaian ditandai dengan penandatangan kesepakatan perdamaian yang berisikan lima poin.

Salah satunya kedua pihak berjanji tidak akan mengulangi tindakan tersebut. Kedua pihak juga berjanji akan menjaga keamanan, kenyamanan, dan keharmonisan di Jayawijaya. Apabila pernyataan tersebut dilanggar maka kedua belah pihak siap diproses hukum.

”Atas nama masyarakat kabupaten Nduga, saya ingin sampaikan bahwa saya tidak mau perang terus. Masyarakat kabupaten Lanny Jaya, Nduga, dan Jayawijaya adalah generasi kita di pegunungan, jangan sampai ada yang mati lagi, karena perang,” ujar Yuri Lokbere, perwakilan masyarakat Nduga.

Dirinya berharap tidak ada lagi pertikaian seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, ia meminta warga untuk focus bekerja dan sekolah untuk membangun daerah masing-masing.

Di tempat yang sama, Bupati Lanny Jaya Befa Yigibalom mendukung penuh kesepatakan damai kedua belah pihak yang bertikai.

”Saya sampaikan terimakasih, karena hari ini dalam waktu Tuhan kita sudah selesaikan semua hal yang menjadi pergumulan kita selama hampir satu minggu ini,” katanya.

Menurutnya, apa yang telah terjadi beberapa hari lalu biar menjadi masa lalu, dan masyarakat harus optimis untuk kebaikan masa depan.

“Poin-poin yang sudah disepakati tadi kami akan sosialisasikan ke suluruh gereja di Lanny Jaya. Tidak ada orang yang berhak menghilangkan nyawa orang, tidak ada suku yang hebat disini, kita semua sama. Jadi di seluruh pegunungan tengah Papua tidak ada lagi bunuh membunuh,” ujarnya.

Bupati Nduga Wentius Nimiangge mengatakan semua masyarat La Pago asal usulnya dari Jayawijaya, sehingga intelektual harus bersatu untuk menjadi tolak ukur bagi masyarakat.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak mudah terpengaruh hal negatif, namun focus menempuh pendidikan.

“Masyarakat harus dengar, kalau masih kepala batu ada ancaman penjara maksimal 15 tahun ada di pasal 338,  karena ini negara hukum,” katanya.

Masyarakat Lanny Jaya dan Nduga adalah satu keluarga sehingga jika ada masalah harus bicarakan dengan baik, karena menurutnya keluarga itu tidak bisa dibeli dengan uang.

Perdamaian yang berlangsung di Makodim 1702/Jayawijaya ini selain dihadiri pemerintah, TNI/Polri, DPRD masing-masing kabupaten, dan pewakilan kedua kelompok warga yang bertikai, perdamaian ini juga disaksikan langsung para tokoh masyarat, tokoh adat, tokoh agama, dan perwakilan pegiat HAM yang sejak awal bersama-sama mengawal terwujudnya perdamaian tersebut.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Aksi OPM Merusak Pendidikan dan Menghambat Kemajuan Papua

Oleh: Petrus Pekei* Papua adalah tanah harapan, tempat masa depan generasi muda bertumbuh melalui pendidikan, kerja keras, dan persaudaraan. Setiap upaya yang mengganggu ketenangan dan merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat Papua sejatinya berseberangan dengan cita-citabesar tersebut. Karena itu, penguatan narasi damai dan dukungan terhadap kehadiran negara menjadi energi utama untuk memastikan Papua terus melangkah maju. Di tengah dinamikakeamanan, bangsa ini menunjukkan keteguhan sikap bahwa keselamatan warga sipil, keberlanjutan pendidikan, dan pembangunan berkeadilan adalah prioritas yang tidak dapatditawar. Peristiwa kekerasan yang menimpa pekerja pembangunan fasilitas pendidikan di Yahukimomenggugah solidaritas nasional. Respons publik yang luas memperlihatkan kesadarankolektif bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan Papua. Sekolah bukan sekadarbangunan, melainkan simbol harapan, jembatan menuju kesejahteraan, dan ruang aman bagianak-anak Papua untuk bermimpi. Ketika ruang ini dilindungi bersama, optimisme tumbuhdan kepercayaan terhadap masa depan kian menguat. Dukungan masyarakat terhadap langkahtegas aparat keamanan merupakan bentuk kepercayaan pada negara untuk memastikan rasa aman hadir nyata hingga ke pelosok. Narasi persatuan semakin kokoh ketika tokoh-tokoh masyarakat Papua menyampaikanpandangan yang menyejukkan. Sekretaris Jenderal DPP Barisan Merah Putih Republik Indonesia, Ali Kabiay, menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dan keberlanjutanpembangunan, khususnya pendidikan. Pandangannya menekankan bahwa stabilitas adalahprasyarat utama bagi kesejahteraan, dan negara perlu bertindak tegas serta terukur agar ketenangan sosial terjaga. Ajakan kepada masyarakat untuk tetap waspada, memperkuatkomunikasi dengan aparat, dan menolak provokasi menjadi penopang kuat bagi ketertibanbersama. Sikap serupa juga disuarakan oleh...
- Advertisement -

Baca berita yang ini