Teka Teki Kematian Misterius Gianni Vercase

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Bagi para pecinta Fashion tentu tahu brand bernama Versace. Kurang lengkap rasanya jika berbicara mengenai brand ini tapi tidak membahas Gianni Vercase. Seorang top desainer pemilik brand ternama ini sudah meraih kesuksesan sejak ia masih muda. Namun tidak bernasib baik dan kematiannya sungguh misterius.

Gianni Versace lahir di Reggio Calabria, Italia pada 2 Desember 1946. Ia lahir di keluarga desainer. Ibunya Francesca adalah seorang pembuat gaun. Versace kecil sangat tertarik dengan Yunani kuno. Inilah salah satu faktor kenapa brandnya memiliki logo kepala medusa. Ia sempat mengenyam pendidikan Bahasa Latin dan Kebudayaan Yunani di Liceo Classico Tommaso Campanella. Namun darah Fashion yang mengalir di tubuhnya membuatnya tidak pergi jauh dari dunia Fashion. Setelah lulus dari pendidikan, ia mulai pelatihan di bisnis jahit menjahit milik ibunya.

Pada 1972 tepatnya saat ia berusia 26 tahun, Versace memutuskan untuk pindah ke Milan. Saat itu ia bekerja sebagai freelance desainer untuk beberapa label di Italia seperti, Complice, Callaghan dan Genny. Setelah beberapa tahun tepatnya pada 1978, ia memberanikan diri untuk melakukan pameran atas desain-desainnya di Pallazo della Permanente Art Museum of Milan.

Gianni Vercase
Gianni Vercase

Di tahun yang sama juga, ia menggelar peragaan busana dan juga memutuskan membuka butik atas namanya di kawasan Via Della Spiga. Ia buka bisnis tersebut bersama dengan saudaranya, Santo yang menjabat sebagai Presiden dan saudarinya, Donatella yang menjabat sebagai Wakil Presiden sekaligus desainer. Kemampuannya luar biasa. Pelanggannya orang-orang top. Mulai dari penyanyi Elton John, Madonna, bahkan Putri Diana. Hanya dalam kurun waktu 10 tahun namanya sangat terkenal di dunia fashion. Bahkan ia berhasil mendapatkan keuntungan sekitar 800 juta USD.

Sehari sebelum kematiannya Ia masih berada di Paris untuk pameran busana dari koleksi Atelier Versace Fall 1997 bersama dengan Naomi Campbell. Setelah tampil sukses di Paris, Versace bersama dengan pacar prianya Antonio D’Amico langsung pulang ke rumahnya yang berada di Florida.

Pada 15 Juli 1997, Ia bangun dan menjalani aktivitas biasanya. Sekitar jam 8.30 pagi ia pergi ke news café untuk bersantai dan juga membeli beberapa majalah. Sepulangnya dari sana, tepat didepan rumahnya ada seorang asing yang langsung menembaknya sebanyak dua kali di kepala dan langsung melarikan diri setelahnya. Antonio yang mendengar suara tembakan di depan rumahnya langsung keluar dan saat itu ia melihat Versace yang sudah tergeletak di tanah dan berlumuran darah. Ia dikabarkan meninggal di Rumah Sakit Jackson Memorial pada jam 9.21 pagi.

Karena Versace bukanlah orang biasa, polisi adakan penyelidikan terhadap pembunuhnya. Setelah penyelidikan mendalam, akhirnya muncul seorang pria berumur 27 tahun bernama Andrew Cunanan. Ia merupakan buronan orang pihak kepolisian karena kasus pembunuhan. Sebelum membunuh Versace, Cunanan membunuh 4 orang lainnya. Sayangnya ia memilih bunuh diri 9 hari setelah kematian Versace. Sampai sekarang tidak ada yang tahu motif dari pembunuhan Cunanan. Ada dugaan Cunanan sakit hati karena Vercase menolaknya saat ia menghampiri dan mengajaknya kenalan.

Gambaran kejadian itu tayang kembali pada pertengahan bulan Januari 2018 di stasiun televisi FX. Produser Eksekutif Ryan Murphy mengangkat kisah pembunuhan desainer Gianni Versace, pemilik rumah mode Versace menjadi mini seri. Tayangan tersebut berjudul “The Assasination of Gianni Versace.”

 

Reporter: Desmonth Redemptus Flores So

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Tata Kelola Koperasi Desa Semakin Solid Melalui Pengawasan dan Evaluasi Berkelanjutan

Oleh: Satria Putra )*Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkokoh tatakelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai fondasi barupenguatan ekonomi kerakyatan di tingkat akar rumput. Program inidirancang sebagai instrumen strategis untuk memperluas aksesmasyarakat desa terhadap layanan ekonomi yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, pengawasan danevaluasi berkelanjutan menjadi elemen utama yang memastikan koperasimampu berkembang secara sehat, profesional, dan akuntabel.Penguatan tata kelola koperasi desa menjadi bagian dari agenda besartransformasi perkoperasian nasional yang tengah dijalankan pemerintah. Kementerian Koperasi memandang bahwa keberhasilan pembangunankoperasi tidak cukup hanya bertumpu pada pembentukan kelembagaan, tetapi juga pada kemampuan menghadirkan sistem pengawasan yang adaptif terhadap tantangan zaman. Karena itu, langkah percepatandigitalisasi menjadi pilihan strategis untuk memastikan pengelolaankoperasi berjalan lebih transparan dan efisien.Komitmen tersebut ditunjukkan melalui peresmian Command Center oleh Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, sebagai pusat kendali digital yang difokuskan mendukung penyelenggaraan Koperasi Desa/KelurahanMerah Putih. Kehadiran pusat pengawasan ini menandai babak baru tatakelola koperasi nasional yang berbasis data dan teknologi.Ferry menjelaskan bahwa Command Center dibangun sebagai sisteminformasi terpadu yang mengintegrasikan berbagai data operasionalkoperasi lintas lembaga, termasuk pengelolaan dana bergulir. Menurutnya, sistem tersebut merupakan bagian dari mandat besartransformasi koperasi nasional agar mampu berkembang lebih kompetitifsekaligus menjawab tuntutan modernisasi ekonomi desa.Digitalisasi, menurut Ferry, bukan sekadar pembaruan teknologi, melainkan instrumen untuk memperkuat kontrol kelembagaan. Melaluisistem ini, pelaporan dan pemantauan dapat dilakukan secara lebih cepatdan akurat. Pemerintah dapat menjangkau langsung perkembangankoperasi di berbagai daerah sehingga potensi kendala dapat terdeteksilebih dini.Keunggulan utama Command Center terletak pada kehadiran early warning system yang dirancang untuk mendeteksi persoalan secaracepat. Pendekatan ini memungkinkan langkah korektif dilakukan sebelumpermasalahan berkembang lebih luas. Dengan sistem pencegahan dini, pemerintah memastikan setiap dinamika operasional koperasi dapatdirespons secara terukur dan tepat sasaran.Selain itu, sistem ini memungkinkan pemantauan real-time terhadappelaksanaan pelatihan, aktivitas usaha, hingga perkembangankelembagaan koperasi desa. Model pengawasan berbasis data seperti inimemperlihatkan keseriusan pemerintah dalam membangun sistemevaluasi yang berkesinambungan dan tidak lagi bergantung pada laporanmanual yang seringkali terlambat.Ferry juga menegaskan bahwa penguatan koperasi desa tidak dapatdilakukan secara parsial. Karena itu, Command Center dirancangterhubung dengan berbagai kementerian dan lembaga, termasukKementerian Desa, Kejaksaan Agung, serta lembaga pengelola dana bergulir. Integrasi lintas sektor ini mencerminkan pendekatan kolaboratifpemerintah dalam menciptakan pengawasan menyeluruh.Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam memastikan tata kelolakoperasi berjalan sesuai koridor hukum, administrasi, dan prinsipakuntabilitas publik. Pemerintah memahami bahwa koperasi desamemegang peran strategis dalam distribusi layanan ekonomi masyarakat, sehingga pengawasannya harus dilakukan secara terkoordinasi.Deputi Bidang Kelembagaan dan Digitalisasi Koperasi, Henra Saragih,menilai keberadaan Command Center akan menjadi landasan pentingbagi proses perencanaan, pengawasan, dan evaluasi yang lebih efektif. Iamenekankan bahwa penguatan infrastruktur digital, keamanan data, dankapasitas sumber daya manusia teknologi informasi menjadi syarat utamaterwujudnya ekosistem koperasi modern.Pandangan Hera memperlihatkan bahwa transformasi koperasi yang dilakukan pemerintah tidak bersifat seremonial. Langkah ini dibangunmelalui fondasi teknis yang matang agar sistem pengawasan berjalanberkelanjutan dan mampu menjawab kebutuhan lapangan secara nyata.Dukungan terhadap pendekatan pengawasan berlapis juga datang dariekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli. Ia menilai bahwa karakterKoperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang memadukan fungsi komersialdan sosial membutuhkan pembagian pengawasan lintas otoritas sesuaikewenangannya.Menurut Dipo, pengawasan terhadap aktivitas keuangan sepertipenyaluran kredit idealnya berada di bawah otoritas yang memilikikompetensi khusus di sektor jasa keuangan. Sementara itu, pengawasankelembagaan dan unit usaha tetap relevan berada dalam pembinaanKementerian Koperasi. Pendekatan ini dinilai akan memperkuatakuntabilitas serta mencegah potensi penyimpangan.Dipo juga menekankan pentingnya audit independen secara berkalasebagai instrumen pendukung evaluasi eksternal. Dengan audit...
- Advertisement -

Baca berita yang ini