Ngeri! Ini Deretan Mitos dan Fakta Tentang Petir saat Hujan, Percaya Gak Gaes?

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Petir merupakan fenomena alam yang biasanya terjadi saat hujan turun dan akan muncul berupa kilatan cahaya dan suara gemuruh. Petir terjadi akibat penumpukan energi positif dan energi negatif yang dibuang. Yang berbahaya dari petir adalah kemampuannya yang dapat menyambar benda di sekitarnya termasuk manusia.

Banyak dari kita mengira bahwa petir sangat menyeramkan karena suaranya yang keras. Apalagi, banyak mitos-mitos beredar mengenai petir yang sering muncul saat hujan.

Penasaran seperti apa saja mitos dan fakta petir yang bikin ngeri? Yuk simak!

  1. Petir terjadi di saat hujan saja

Mitos: Kita semua sudah mempercayai bahwa petir akan terjadi di saat turun hujan, terutama hujan lebat. Karena itu banyak orang saat hujan lebat selalu waspada takut adanya sambaran petir.

Fakta: Memang petir sering terjadi di saat turun hujan, tapi tidak selalu. Tanpa adanya hujan, petir bisa saja terjadi. Sama seperti terjadinya hujan di saat langit cerah. Petir pun bisa terjadi tanpa adanya hujan.

  1. Petir akan menyambar tempat yang tinggi

Mitos: Banyak orang percaya bahwa petir akan menyambar benda-benda yang berada di dekatnya, salah satunya adalah tempat yang tinggi karena jarak petir ke tempat yang tinggi begitu dekat.

Fakta: Memang petir bisa menyambar tempat yang tinggi tapi tidak selalu. Petir bisa juga menyambar tempat yang lebih rendah. Misalnya saja petir bisa menyambar pohon yang tidak setinggi gedung bertingkat. Bahkan petir juga bisa menyambar tanah.

  1. Berlindung di bawah pohon saat terjadi hujan

Mitos: Saat kamu sedang berada di luar dan terjadi hujan lebat, kamu pasti akan mencari tempat untuk berteduh. Salah satu tempat darurat yang sering dijadikan area berteduh adalah di bawah pohon. Banyak orang beranggapan bahwa berteduh di bawah pohon akan aman karena daun pada pohon dapat melindungi dari hujan bahkan petir.

Fakta: Walaupun berteduh di bawah pohon dapat membuat kita tidak terlalu basah, tapi nyatanya kita akan tetap bisa terkena sambaran petir juga. Sebuah penelitian menyatakan bahwa penyebab manusia tersambar petir terbanyak kedua di dunia adalah berteduh di bawah pohon.

  1. Petir tidak akan menyambar ke dalam rumah

Mitos: Banyak dari kita beranggapan bahwa saat terjadi hujan lebat, kita akan tetap aman jika berada di dalam rumah karena petir tidak akan bisa menyambar benda-benda di dalam rumah.

Fakta: Memang saat terjadi hujan lebat, petir tidak akan menyambar benda-benda di dalam rumah. Tapi itu hanya benda-benda yang tidak menghantarkan listrik saja.

Benda elektronik seperti televisi, komputer, dan kulkas tetap bisa tersambar petir jika aliran listrik masih menyala.

  1. Jangan memakai baju merah jika tidak ingin tersambar petir

Mitos: Ini merupakan mitos unik yang beredar di masyarakat. Orang yang memakai baju merah akan lebih mudah untuk tersambar petir. Mitos ini banyak dipercaya oleh banyak orang.

Fakta: Sebuah penelitian menyatakan bahwa warna baju tidak akan mempengaruhi kita akan tersambar petir atau tidak, termasuk baju warna merah. Karena baju bersifat isolator yang artinya tidak dapat menghantarkan arus listrik.

Reporter : Nabila Kuntum Khaira Umma

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Tolak Provokasi dalam Unjuk Rasa demi Memperkuat Demokrasi yang Beradab

Oleh: Bima Aditya )*Demokrasi memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat, kritik, maupun dukungan terhadap berbagai kebijakan publik. Kebebasan tersebut merupakan hak konstitusional yang menjadi salah satu ciri utama negara demokrasi. Namun, pelaksanaan hak itu tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab untuk menjaga ketertiban, menghormati hukum, dan mengedepankan etika dalam kehidupan bermasyarakat.Penyampaian aspirasi melalui aksi unjuk rasa menjadi salah satu bentukpartisipasi publik yang diakui dalam sistem demokrasi Indonesia. Kehadiran demonstrasi menunjukkan bahwa masyarakat memilikikepedulian terhadap arah pembangunan bangsa dan tidak bersikap apatisterhadap berbagai persoalan nasional. Karena itu, ruang demokrasi harustetap dijaga agar mampu menjadi sarana penyampaian gagasan yang konstruktif.Di sisi lain, munculnya tindakan provokatif maupun anarkis dalamsebagian aksi demonstrasi berpotensi mengaburkan substansi tuntutanyang ingin disampaikan. Ketika aksi berubah menjadi kerusuhan, perhatian masyarakat tidak lagi tertuju pada pokok persoalan, melainkanpada dampak yang ditimbulkan. Kondisi seperti ini justru merugikansemua pihak karena tujuan utama penyampaian aspirasi menjadi tidak tercapai secara optimal.Demokrasi yang sehat membutuhkan kedewasaan seluruh elemenbangsa dalam mengelola perbedaan pendapat. Perbedaan pandanganmerupakan sesuatu yang wajar karena setiap warga negara memiliki hakuntuk menyampaikan gagasannya. Akan tetapi, perbedaan tidak bolehberkembang menjadi tindakan yang melanggar hukum ataupun memicukonflik sosial yang dapat mengganggu persatuan.Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Menteri KoordinatorBidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril IhzaMahendra. Menurutnya, demokrasi tidak cukup dijalankan melaluiprosedur politik semata, tetapi harus berdiri di atas supremasi hukum, etika, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Yusril menilai tidak ada kelompok yang berhak memaksakankehendaknya kepada pihak lain, termasuk ketika berada pada posisimayoritas. Setiap perbedaan seharusnya diselesaikan melalui komunikasiyang santun dan menghormati martabat sesama warga negara.Yusril juga menjelaskan bahwa hukum dan politik memiliki keterkaitanyang erat dalam kehidupan bernegara. Demokrasi akan berkembangsecara sehat apabila kekuasaan dijalankan berdasarkan hukum, sedangkan hukum tetap menjunjung keadilan, kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Prinsip tersebut menjadifondasi penting dalam menjaga keseimbangan antara kebebasan dan ketertiban.Selain menekankan supremasi hukum, Yusril memandang pembangunandemokrasi Indonesia perlu berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal. Menurutnya, hukum nasional tidak hanya berkembang dari ketentuanformal, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya bangsa, hukum adat, hukumagama, dan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat. Pembaruanhukum memang harus mengikuti perkembangan zaman, tetapi arahperkembangannya tetap perlu mencerminkan karakter bangsa Indonesia.Peran mahasiswa dalam kehidupan demokrasi memang memiliki posisiyang penting. Mahasiswa selama ini dikenal sebagai kelompok intelektualyang menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap berbagai kebijakanpublik. Kritik yang disampaikan diharapkan mampu memperkaya proses pengambilan kebijakan sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah agar terus melakukan perbaikan. Namun, fungsi tersebut akan lebih bermaknaapabila dijalankan melalui cara-cara yang bermartabat, objektif,...
- Advertisement -

Baca berita yang ini