Buat yang Penasaran, Ini Alasan James Gunn Nggak Hadirkan Superman di ‘The Suicide Squad’

Baca Juga

MATA INDONESIA, LOS ANGELES – Sutradara ‘The Suicide Squad’, James Gunn membeberkan alasannya tak menghadirkan tokoh Superman. Ada ada sih sebenarnya?

Selama tahap awal pengembangan film tersebut, Superman dibayangkan sebagai penjahat potensial untuk ‘The Suicide Squad’, tetapi ide itu akhirnya dibatalkan.

Sebagai gantinya, film tersebut menggunakan penjahat DC Comics klasik, Starro the Conqueror sebagai antagonis utama.

Superman memulai menjadi bagian DCEU (DC Extended Universe) di ‘Man of Steel’ pada 2013. Sejak itu, dia selalu menjadi protagonis di beberapa film selanjutnya, seperti ‘Batman v. Superman: Dawn of Justice’ dan ‘Justice League’.

Namun, penerimaan yang buruk terhadap film-film itu akhirnya membuat Warner Bros. mengubah rencana awal mereka, membatalkan sekuel yang dimaksudkan Zack Snyder untuk Justice League dan menghentikan perjalanan Henry Cavill sebagai Clark Kent.

Gunn menjelaskan, krisis identitas seputar peran Superman di DCEU yang membuatnya memilih untuk mengeluarkan karakter tersebut dari ‘The Suicide Squad’.

“Saat itu ada banyak pertanyaan: ‘Siapa Superman di DCEU? Apakah ini di luar DCEU?’ Saya tidak ingin terlalu banyak berurusan dengan itu,” katanya, dikutip dari Screen Rant, Jumat 20 Agustus 2021.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Oleh: Cahya Rumisastro)*Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belummereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalamsituasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan olehBank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetapterjaga.Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen keposisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembalimengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih beradadalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan BelanjaNegara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagaiinstrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar. Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukardalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkansebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global. Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjagastabilitas nilai tukar rupiah...
- Advertisement -

Baca berita yang ini