Ada Tiga Hal Penting Agar Otsus Beri Manfaat Baik untuk Papua

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ada tiga hal penting yang akan menjadi tantangan dalam penerapan otonomi khusus (Otsus) Papua yaitu ketika dana Otsus digunakan.

Ketiganya adalah pengawasan, pendampingan dan sanksi yang harus menjadi perhatian dan tak boleh diabaikan.

Hal tersebut diungkapkan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Pamungkas, Jumat 16 Juli 2021.

“Dari sisi pengawasan maka bagaimana memastikan dana otsus digunakan sesuai dengan peruntukannya,” ujar Cahyo.

Hal itu menjadi penting untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dana yang merugikan masyarakat.

Sedangkan dalam hal pendampingan untuk membantu kesulitan dan mengatasi kendala dalam implementasi dana otsus.

Sementara penjatuhan sanksi hukuman harus jelas jika tata kelola dana otsus tidak sesuai dengan peraturan.

Ketiga hal itu perlu menjadi perhatian pemerintah atas peningkatan proporsi dana otsus, mengingat selama ini mekanisme pengawasan serta tata kelola dianggap belum maksimal.

Namun dia menilai positif peningkatan dana otsus menjadi 2,25 persen yang diikuti dengan perubahan mekanisme, yakni satu persen bersifat umum dan 1,25 persen berbasis kinerja.

Sementara perihal pembentukan badan khusus untuk mengawasinya perlu diatur dengan jelas mengingat bisa terjadi persinggungan antara UU Otsus dan peraturan perundangan lainnya.

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

MBG Dikawal Para Ahli, Masa Depan Gizi Anak Makin Terjamin

Oleh: Alexander Royce*)Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi salah satu kebijakan strategispemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengahberbagai tantangan pembangunan, mulai dari stunting, kesenjangan akses panganbergizi, hingga kebutuhan peningkatan kualitas generasi muda menuju Indonesia Emas 2045, kehadiran MBG menunjukkan komitmen negara untuk memastikan setiap anakIndonesia mendapatkan hak yang sama atas asupan gizi yang berkualitas. Pemerintahterus memperkuat tata kelola dan pengawasannya dengan melibatkan para ahli gizi, tenaga kesehatan, akademisi, hingga berbagai pemangku kepentingan agar manfaatnya semakin optimal dan tepat sasaran.Dukungan terhadap MBG juga datang dari kalangan akademisi dan praktisi gizi. Ahli Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB Departemen Gizi, Lesda Lybaws, menilai program MBG merupakan langkah yang efektif untuk memutus rantai stunting...
- Advertisement -

Baca berita yang ini