Inggris Minta Junta Militer Serahkan Kekuasaan

Baca Juga

MATA INDONESIA, NAYPYIDAW – Pemerintah Inggris meminta junta militer Myanmar untuk menyerahkan kekuasaan terhadap pemerintah terpilih. Negeri Ratu Elizabeth juga terkejut dengan penggunaan kekuatan mematikan oleh pasukan keamanan Myanmar terhadap para demontran, terutama di kota Hlaingthaya.

“Kami menyerukan penghentian segera kekerasan ini dan rezim militer menyerahkan kembali kekuasaan kepada mereka yang dipilih secara demokratis oleh rakyat Myanmar,” kata Duta Besar Inggris untuk Myanmar, Dan Chugg, melansir Reuters.

Pada 11 Maret 2021, Amnesty Internasional mengatakan bahwa militer Myanmar menggunakan senjata perang dan kekuatan mematikan dalam tindakan kerasnya terhadap para demonstran yang menolak kudeta.

Amnesty menuduh militer menggunakan senjata yang cocok untuk medan perang untuk membunuh pengunjuk rasa. Dikatakan bahwa mereka berada di tangan unit-unit yang dituduh oleh kelompok hak asasi telah bertahun-tahun melakukan kekejaman terhadap kelompok etnis minoritas, termasuk Muslim Rohingya.

Junta militer Myanmar mengatakan pihaknya mengambil alih kekuasaan setelah tuduhan penipuan dalam pemilu 8 November yang dimenangkan oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi secara telak, 83 persen suara.

Namun, tuduhan junta militer terkait kecurangan dalam pemilu ditepis oleh komisi pemilihan Myanmar. Meski begitu, juta militer telah berjanji akan menggelar pemilihan umum baru, namun belum menetapkan tanggal pasti.

Aung San Suu Kyi ditahan sejak kudeta awal Februari dan menghadapi setidaknya empat dakwaan, termasuk penggadaan radio walkie-talkie secara ilegal serta melanggar protokol virus corona.

Jauh dari Hlaingthaya, setidaknya 16 kematian dilaporkan di tempat lain di Myanmar, termasuk di kota kedua Mandalay dan di Bago, di mana televisi pemerintah MRTV mengatakan seorang petugas polisi meninggal karena luka di dada setelah konfrontasi dengan pengunjuk rasa.

Sebelumnya, Inggris menyarankan warganya yang berada di Myanmar untuk segera meninggalkan negara tersebut. Pemerintah Inggris khawatir dengan perlakuan junta militer yang kian represif terhadap para demonstran.

“Kantor Luar Negeri, Persemakmuran & Pembangunan menyarankan warga negara Inggris untuk meninggalkan negara itu dengan cara komersial, kecuali ada kebutuhan mendesak untuk tinggal,” kata Kementerian Luar Negeri Inggris dalam sebuah pernyataan, melansir Arab News (12/3).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Anggaran Pendidikan Naik, Bukan Turun: Meluruskan Isu MBG dan APBN 2026

Oleh : Dr. Ahmad Budidarma, S.Kom, MM Penelaah Teknis Kebijakan Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemdikdasmen Belakangan ini, ruang publik diramaikan oleh narasi bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah “menggerus” anggaran pendidikan. Isu tersebut menyebar luas di media sosialdan sebagian ruang diskusi publik, memunculkan kekhawatiran bahwa komitmen negara terhadap sektor pendidikan tengah mengalami penurunan. Kekhawatiran ini tentu dapatdipahami. Pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa; setiap perubahan alokasi anggaranselalu sensitif dan mudah memicu respons emosional. Namun, bila kita merujuk pada dokumen resmi pemerintah dalam Rancangan APBN 2026 serta penjelasan yang disampaikan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, fakta yang muncul justru sebaliknya: anggaran pendidikan tahun 2026 mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah tetap menjaga amanat konstitusi untuk mengalokasikan sekurang-kurangnya 20 persen dari total belanja negara untuk fungsi pendidikan. Artinya, secara normatif dan fiskal, komitmen tersebut tetap terpelihara. Kenaikan ini juga tercermin pada pagu anggaran Kementerian Pendidikan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini