Kedinginan dan Kelaparan Hantui Para Migran di Bosnia

Baca Juga

MATA INDONESIA, INTERNASIONAL – Lebih dari seribu migran dibiarkan tidur dalam keadaan dingin yang menusuk tulang, setelah kamp mereka di Bosnia barat laut terbakar. Para migran ini berasal dari Asia, Timur Tengah, bahkan Afrika Utara.

Sebagai catatan, setidaknya 10 ribu migran terjebak di Bosnia. Mereka berharap dapat menginjakkan kaki di negara-negara kaya di Eropa, memiliki kehidupan baru, dan masa depan yang menjanjikan. Sayang, kenyataan tak selalu manis seperti apa yang diimpikan.

Pada Rabu (23/12), kebakaran menghancurkan kamp di perumahan Lipa yang ditempati sekitar 1,200 migran. Pihak kepolisian dan pejabat PBB mengatakan kebakaran disebabkan oleh para migran yang tidak senang dengan penutupan sementara kamp.

Sebab rencananya, Kamp Lipa -yang dibuka musim semi lalu sebagai tempat penampungan sementara selama musim panas yang berjarak 25 km dari Bihac, akan ditutup pada hari yang sama untuk perbaikan musim dingin. Tetapi pihak berwenang Bosnia tidak memberikan kepastian tentang di mana mereka akan dipindahkan.

Puluhan migran pria terlihat hanya mengenakan pakaian tebal untuk melindungi tubuh mereka dari dinginnya malam tanpa alas maupun tenda. Dalam foto yang beredar terlihat mereka membuat api unggun, sementara asap masih mengepul dari sebidang tanah yang terbakar pada Kamis (24/12) pagi waktu setempat.

Migran lain mencoba mendirikan tenda nilon dan tidur dengan pakaian lengkap di  atas tanah yang membeku. Sebagian besar dari mereka berjalan melewati hutan menuju kota Bihac, dekat perbatasan Kroasia. Namun, menghindari area yang ditandai dengan peringatan tentang ranjau darat yang tersisa dari perang Bosnia tahun 1990-an.

“Saya tidak dapat tidur, saya duduk sepanjang malam,” kata Bylal, migran asal Pakistan, menambahkan bahwa dia akan menunggu untuk melihat apakah pemerintah akan menyediakan tempat penampungan baru bagi mereka, melansir Reuters.

Pemerintah pusat menginginkan para migran untuk sementara waktu kembali ke kamp Bira di Bihac, yang ditutup pada Oktober. Akan tetapi, otoritas lokal tidak setuju dengan mengatakan bahwa bagian lain Bosnia juga harus berbagi beban krisis migran.

“Tolong buka kamp Bira agar semua orang pergi ke sana. Sangat bagus di sana. Di sini dingin, kami tidak bisa tinggal di sini, kami tidak punya makanan, kami lapar,” kata Yasin, migran yang juga dari Pakistan.

Uni Eropa yang mendukung Bosnia dengan dana sebesar 60 juta Euro untuk menangani krisis migran dan menjanjikan 25 juta Euro lebih, telah berulang kali meminta pihak berwenang untuk mencari alternatif dari kamp Lipa yang tidak sesuai. Pihak Uni Eropa juga memperingatkan akan terjadinya krisis kemanusiaan.

“Kami mendesak … pihak berwenang untuk mengatasi pertimbangan politik dan untuk sementara waktu membuka kembali pusat Bira di Bihac,” kata Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Danantara, PSEL, dan Masa Depan Pengelolaan Sampah Indonesia

*) Oleh: Citra Ningrum OktaviaPemerintah tengah menghadapi salah satu tantangan paling mendesak dalampembangunan nasional, yakni darurat sampah perkotaan yang selama bertahun-tahun berjalan tanpa penyelesaian menyeluruh. Timbunan sampah yang terusmeningkat tidak lagi sekadar persoalan kebersihan lingkungan, melainkan telahmenjadi ancaman serius bagi kesehatan publik, kualitas ekosistem, hingga ketahananenergi nasional. Di tengah situasi tersebut, langkah pemerintah menggandengDanantara Indonesia untuk mempercepat pembangunan fasilitas PengolahanSampah menjadi Energi Listrik (PSEL) merupakan keputusan strategis yang menunjukkan keberanian negara keluar dari pola lama pengelolaan sampah yang stagnan. Penandatanganan nota kesepahaman pembangunan PSEL di enam lokasibersama 13 pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa pemerintah tidak lagi bekerjadengan pendekatan parsial, tetapi mulai membangun sistem pengelolaan sampahyang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.Lebih jauh, penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentangpercepatan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrikmemperlihatkan adanya keseriusan politik pemerintah dalam membenahi tata kelolasampah nasional. Menko Pangan, Zulkifli Hasan menegaskan bahwa regulasitersebut telah mendorong langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untukbergerak lebih cepat dalam pembangunan PSEL. Target pembangunan sedikitnya 25 lokasi PSEL dalam dua hingga tiga tahun ke depan bukan hanya ambisi administratif, melainkan kebutuhan nyata untuk mengatasi kedaruratan sampah di puluhankabupaten dan kota. Selama ini, banyak proyek pengolahan sampah tersendat akibatbirokrasi panjang, lemahnya koordinasi antarlembaga, dan ketidakjelasan pembagiankewenangan. Karena itu, penyederhanaan prosedur serta pembagian peran yang jelas antara pemerintah, Danantara, dan pihak-pihak terkait menjadi fondasi pentingagar proyek strategis ini tidak kembali terjebak pada pola lamban yang merugikanmasyarakat.Selain itu, keterlibatan Danantara Indonesia memberi dimensi baru dalampembiayaan dan tata kelola proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia. Selama ini, pengelolaan sampah kerap dipandang sebagai sektor yang minim nilai ekonomisehingga tidak menarik bagi investor besar. Padahal, di berbagai negara maju, pengolahan sampah telah berkembang menjadi industri energi hijau yang bernilaitinggi dan berkelanjutan....
- Advertisement -

Baca berita yang ini