Yuk, Kenali Wright Bersaudara!

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Wright bersaudara adalah penemu pesawat terbang. Tokoh ini sangat terkenal dalam industri penerbangan. Wright bersaudara terdiri dari dua orang kakak beradik, Orville Wright dan Wilbur Wright. Kedua kakak beradik itu pada awalnya mengelola sebuah toko di Dayton, Ohio. Toko tersebut menjual dan memperbaiki sepeda motor.

Mereka anak dari Milton Wright yang bekerja sebagai seorang pendeta kristiani dan Susan Catharine Wright. Orville dan Wilbur memiliki saudara yang bernama Reuchlin Wright, Lorin Wright, Otis Wright, Ida Wright, Katharine Wright.

Wright bersaudara hidup bersama orang tuanya yang sering berpindah-pindah. Namun, akhirnya mereka menetap di Lowa, Amerika Serikat. Wright bersaudara menghabiskan masa kecil mereka sama seperti anak kecil kebanyakan bersekolah dan bermain. Wilbur dan Orville memiliki kegemaran yang berbeda.

Wilbur senang berselancar sedangkan Orville senang mengumpulkan logam yang tak terpakai, kemudian dijualnya. Mereka berdua juga pandai menciptakan sesuatu yang bernilai jual. Seperti Wilbur berhasil menciptakan mesin pelipat koran sementara Orville menciptakan layang-layang.

Awal ketertarikan Wright Bersaudara dalam penerbangan ketika ayahnya membawakan mainan berupa ‘helikopter’. Mainan itu sebenarnya bernama gasing cina. Terbuat dari gabus, bambu, dan kertas, serta tenaga oleh karet gelang untuk memutar bilahnya. Model ini didesain oleh perintis penerbangan Prancis Alphonse Pénaud. Terpesona oleh mainan dan mekaniknya, Wilbur dan Orville akan mengembangkan kecintaan seumur hidup pada aeronautika dan terbang.

Wilbur adalah anak yang cerdas, rajin belajar, dan berprestasi di sekolahnya. Ia membuat rencana untuk kuliah di Universitas Yale setelah lulus sekolah menengah. Pada musim dingin tahun 1885-86, sebuah kecelakaan mengubah jalan hidup Wilbur. Wilbur terluka parah dalam pertandingan hoki es, ketika tongkat pemain lain mengenai wajahnya.

Meskipun sebagian besar lukanya sembuh, insiden itu membuat Wilbur depresi. Ia tak dapat ijazah sekolah menengahnya dan membatalkan rencana untuk kuliah. Wilbur menghabiskan waktunya di rumah untuk membaca buku di perpustakaan keluarganya dan merawat ibunya yang sakit.

Wilbur dan Orville adalah satu-satunya anggota keluarga Wright yang tak kuliah dan menikah. Setelah kematian ibu mereka, Orville menghabiskan waktu musim panas untuk mempelajari perdagangan percetakan. Lalu, membujuk Wilbur untuk bergabung dengannya dalam mendirikan toko percetakan.

Mesin cetak ini adalah salah satu indikasi pertama dari kemampuan teknis luar biasa Wright bersaudara dan pendekatan unik mereka untuk memecahkan masalah dalam desain mekanis.

Pada tahun 1889 para frater memulai surat kabar mereka sendiri, West Side News. Wilbur mengedit koran, dan Orville adalah penerbitnya. Tahun 1892, Wilbur dan Orville membuka toko penjualan dan reparasi sepeda. Serta mereka mulai membuat sepeda dalam skala kecil pada tahun 1896. Mereka meminyaki roda sepeda sendiri dan memasang sejumlah mesin ringan di toko tersebut. Keuntungan dari percetakan dan pengoperasian sepeda akhirnya untuk mendanai eksperimen penerbangan Wright bersaudara dari tahun 1899 hingga 1905.

Selain itu, pengalaman merancang dan membangun mesin kayu, kawat, dan pipa logam yang ringan dan presisi merupakan persiapan yang ideal untuk pembangunan mesin terbang.

Pada tahun 1899, Wright bersaudara mulai mengarahkan usahanya untuk menciptakan pesawat yang bisa terbang. Empat tahun kemudian, setelah melakukan serangkaian percobaan yang luar biasa gigih, akhirnya mereka berhasil menciptakan pesawat terbang pertama.

Percobaan peluncuran pesawat tahun 8 Agustus 1903 di Kitty Hawk. Mereka menyaksikan Orvile mengemudikan pesawat Flyer. Mengangkasa selama 12 detik. Kemudian pesawat tersebut turun kembali setelah mencapai 37 meter dari tanah.

Penerbangan tersebut merupakan penerbangan pesawat yang pertama dalam sejarah. Pesawat tersebut pada awalnya dinamai Wright Flyer, tetapi sekarang lebih populer dengan nama “Kitty Hawk”. Pesawat Flyer yang asli kini terdapat di Museum Dirgantara di Washington DC, Amerika Serikat.

Dilansir dari history.com, di Prancis Wilbur menemukan audiens yang jauh lebih bersahabat. Ia melakukan banyak penerbangan publik, dan memberikan tumpangan kepada pejabat, jurnalis, dan negarawan. Pada tahun 1909 Orville bergabung dengan kakaknya di Eropa, begitu pula adik perempuan mereka Katharine.

The Wrights menjadi selebritas besar di sana, dipandu oleh bangsawan dan kepala negara, dan terus-menerus tampil di pers. Keluarga Wrights mulai menjual pesawat mereka di Eropa, sebelum kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1909. Kedua bersaudara ini menjadi pengusaha kaya, mengisi kontrak untuk pesawat terbang di Eropa dan Amerika Serikat.

Wilbur dan Orville selalu berbagi pujian atas inovasi mereka, dan memelihara hubungan dekat sepanjang hidup mereka. Di balik layar, bagaimanapun, ada pembagian kerja. Dengan naluri tajamnya, Wilbur adalah pemikir bisnis dan eksekutif operasi, menjabat sebagai presiden perusahaan Wright.”

Pada tahun 1912 Wilbur jatuh sakit waktu ia sedang dalam perjalanan ke Boston. Lalu, ia didiagnosis menderita demam tifoid dan meninggal pada tanggal 30 Mei di Dayton, Ohio. Setelah Wilbur meninggal dunia Orville masih bertahan hingga akhirnya ia meninggal pada tahun 1948.

Milton Wright menulis dalam buku hariannya, “Hidup yang pendek, penuh konsekuensi. Intelek yang tidak pernah gagal, temperamen yang tidak tergoyahkan, kemandirian yang besar dan sebagai kesederhanaan yang besar, melihat yang benar dengan jelas, mengejarnya dengan mantap, dia hidup dan mati.”

Terdapat fakta unik mengenai Wright bersaudara yaitu, Orville terpilih pertama kali menerbangkan pesawat berkat lemparan koin, ambisi mereka untuk terbang dipicu oleh sebuah mainan, keduanya tak memiliki ijazah sekolah menengah, Wright bersaudara hanya pernah terbang bersama sekali, setelah penerbangan hari pertamanya, pesawat tersebut tak pernah diterbangkan lagi dan Orville ikut dalam kecelakaan penerbangan pertama yang memakan korban jiwa.

Reporter: Azizah Putri Octavina

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Employment from the Village: Koperasi Merah Putih dan Ekonomi Kerakyatan

Oleh : Pratama Dika SaputraGagasan membangun ekonomi nasional dari desa kembali menemukan momentumnya melalui program Koperasi Merah Putih yang digagas pemerintah. Dalam konteks ketimpanganpembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis desa menjadi strategi yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak. Desa bukan lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek utama yang memiliki potensi besar dalammenciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan ekonomi, serta mendorong kemandirian nasional. Program Koperasi Merah Putih menjadi representasi nyata dari upaya tersebut, denganorientasi pada penciptaan employment from the village yang berbasis ekonomi kerakyatan.Target ambisius pemerintah untuk membangun lebih dari 25 ribu koperasi dalam waktu singkatmencerminkan keseriusan dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Presiden Prabowo Subianto menilai bahwa koperasi harus menjadi institusi ekonomi yang nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Oleh karena itu, koperasi dirancang memiliki fasilitaslengkap seperti gudang, alat pendingin, hingga kendaraan distribusi agar mampu beroperasisecara efektif dan efisien. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokuspada kuantitas, tetapi juga kualitas kelembagaan yang mampu menjawab kebutuhan riilmasyarakat desa.Kehadiran koperasi sebagai agregator ekonomi desa memiliki implikasi besar terhadappenciptaan lapangan kerja. Dengan memotong rantai distribusi yang panjang, koperasi dapatmeningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus membuka peluang kerja baru di sektorlogistik, pengolahan, hingga pemasaran. Model ini memungkinkan masyarakat desa untuk tidaklagi bergantung pada pusat-pusat ekonomi di kota, melainkan menciptakan ekosistem ekonomiyang mandiri di wilayahnya sendiri. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi menekanurbanisasi serta mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.Lebih jauh, Koperasi Merah Putih juga dirancang sebagai solusi terhadap persoalan klasik yang dihadapi petani dan nelayan, yakni keterbatasan akses pasar dan pembiayaan. Dengan adanyalayanan simpan pinjam, distribusi pupuk, hingga fasilitas penyimpanan seperti cold storage, koperasi dapat menjadi tulang punggung bagi sektor produktif di desa. Hal ini sejalan denganupaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional, yang sangatbergantung pada optimalisasi potensi daerah.Namun demikian, skala besar program ini juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil. Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengingatkan bahwa keberhasilan koperasi sangatditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini