Film yang Dibintangi Rhoma Irama dan Masih Digandrungi Hingga Kini

Baca Juga

MATA INDONESIA, JAKARTA – Ternyata, Rhoma Irama lebih dulu terjun ke dunia film dari pada ke dunia musik. Ia dikenal sebagai bintang film anak-anak.

Selama menjadi musisi ia tidak pernah meninggalkan dunia perfilman. Tak heran, lagu-lagunya pun dijadikan soundtrack film yang dibintanginya.

Selain sukses di dunia musik, ia juga sukses di dunia film. Tak hanya menjadi pemain saja, ia pun turut dalam pembuatan film-filmnya, menulis naskah dan cerita yang ditulis sendiri.

Penikmat filmnya juga tak kalah jauh dengan lagunya. Hampir semua film yang dibintanginya selalu disukai banyak orang dan selalu laku.

Bahkan saat itu film sedang diproses, tapi sudah ada yang memesannya. Film-filmnya pun lebih dari 10.

Berikut beberapa film yang terkenal dan masih dinikmati oleh penggemarnya hingga saat ini.

1. Berkelana I (1978)

Film yang disutradarai Yung Indradjaya berdurasi 121 menit bercerita tentang Subrat (Rachmat Hidayat). Seorang pengusaha dan ayah dari Rhoma (Rhoma Irama) di Bandung yang menginginkan anaknya menjadi sarjana ekonomi.

Rhoma mengikuti keinginan ayahnya sambil menekuni kegemarannya dalam bermusik. Namun, ayahnya tidak menyukai Rhoma bermusik, sehingga sering terjadi perdebatan.

Puncaknya, gitar kesayangan Rhoma dihancurkan dan diusir dari rumah. Rhoma memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan mengaku sebagai Budi.

Ia hidup dan bergaul sebagai pengamen. Ketika salah satu temannya sakit parah dan membutuhkan biaya besar, ia mencoba meminta bantuan kepada ayahnya, namun ditolak.

Tak ada acara lain, ia menjambret tas Ani (Yati Octavia) yang sedang disuruh ayahnya untuk mengurus surat-surat rumah. Setelah membayar perawatan temannya, ia mengembalikan surat penting ke Ani.

Temannya pun tidak tertolong. Ani jatuh simpati, begitu juga orangtuanya. Akhirnya Budi dijadikan sopir untuk Ani. Hubungan cinta mulai tumbuh.

Sementara itu, Subrata mengikuti kata istrinya untuk melamar Ani sebagai istri Rhoma. Dari pernikahan ini orangtua Rhoma berharap ia bisa berubah.

Niat baik ini diterima oleh ayah Ani, Surya (Sukarno M. Noor). Namun, Ani menolak. Ani ketahuan bercinta dengan Budi. Budi pun diusir.

2. Berkelana II (1978)

Disutradarai oleh Sapto Boesono. Meskipun film ini disutradarai oleh orang yang berbeda, namun jalan ceritanya tetap dilanjutkan mengikuti film sebelumnya.

Mengisahkan Budi yang terusir tertabrak seorang pengendara motor. Teman-temannya yang saat masih mengamen dulu menemukan Budi terluka.

Budi dibawa ke rumah pondokan dan dirawat mereka. Ani terus berusaha mencari Budi sampai akhirnya ia menemukan Budi.

Hubungan mereka terjalin secara diam-diam. Namun, akhirnya ayahnya Ani mengetahui hubungan mereka.

Budi memutuskan untuk mengajak teman-temannya untuk berhenti mengamen, karena menurutnya musik bukan alat untuk meminta-minta. Budi memilih menjadi sopir taksi dan teman-temannya memilih pekerjaan lain.

Suatu hari, seorang penumpang taksi mendengar Budi menyanyi. Penumpang itu memiliki alat musik dan menawarkannya ke Budi.

Teman-temannya saat menjadi pengamen dulu diajak Budi untuk membentuk bernama Soneta yang jadi terkenal. Keluarganya yang di Bandung melihat sampul majalah yang berisi dirinya.

Ia meminta tolong ke ayah Ani untuk menemui orang yang bernama Budi. Keluarga Ani terkejut mengetahui Budi adalah Rhoma.

3. Begadang (1978)

Sosok Ani kembali muncul di film ini, namun dengan cerita yang berbeda. Berawal dari teman-teman Rhoma yang sering nongkrong sampai malam, mereka bernyanyi dan ada yang berjudi.

Tetangganya sering mengeluh yang tak lain adalah orangtua Ani (Yatie Octavia) dan orangtua Heri (Billy Argo) sebagai hakim. Rhoma digambarkan sebagai anak dari janda miskin, ia sering menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.

Salah satu temannya mengajukan usul agar melamar ke studio rekaman dan berhasil. Rekamannya pun meledak dan nasib Rhoma berubah.

Ia pun dituduh sebagai penjahat hingga pada akhirnya penjahat yang sebenarnya ketahuan. Kemudian, Rhoma berbahagia bersama Ani.

4. Satria Bergitar (1984)

Film ini yang paling mengenang diingat publik, hingga saat ini Rhoma dijuluki sebagai “Satria Bergitar”. Dikisahkan, di negeri Antioch Gaza, Raja Wasit Aron (WD Mochtar) menyusun kekuatannya untuk merebut kembali tahtanya yang dirampas Abu Garin (Soultan Saladin).

Suatu hari, Raja Wasit kedatangan musafir yang selalu menyandang gitar (Rhoma Irama). Setelah berhasil menunjukkan kekuatannya dan mengobati Putri Tirza, ia berhasil mengajak Raja Wasit dan pengikutnya masuk Islam.

Dengan tipu muslihat, Abu Garin berhasil menyandera Putri Tirza. Rhoma berhasil masuk ke istana Abu Garin dan menyamar sebagai rombongan musik.

Ia berhasil menghibur di acara pernikahan paksa antara Abu Garin dengan Tirza. Akibat penghianatan Banezar (Mathias Muchus), penyamaran Rhoma terbongkar dan terjadi pertarungan sengit di antara keduanya.

Rhoma yang diserahi Batu Mustika, mengajak Abu Garin bertandingan sebagai syarat penyerahan benda itu. Akhirnya, Abu Garin tewas di tangan Rhoma.

5. Pengabdian (1984)

Film ini bercerita Rhoma yang terlalu sibuk dengan musiknya dan membuat istrinya mengalami tekanan batin. Istrinya, Lia, tak pernah menunjukkannya hingga mengalami kebutaan.

Menyadari kondisi istrinya, Rhoma beralih profesi sebagai peternak di desa. Tapi, masalah tak berhenti, tentangan muncul dari peternakan terdekatnya yang merasa akan tersaingi dan terancam dengan keberadaannya.

Perselisihan hingga pertarungan tak terhindarkan, keluarganya menjadi tak tentram. Bahkan, Rhoma harus kehilangan istrinya yang dibunuh oleh kawanan bandit.

Rhoma membuat perhitungan kepada musuhnya dan memutuskan untuk bermusik kembali di Jakarta.

6. Menggapai Matahari I (1986)

Film ini disutradarai oleh Wahab Abdi. Dalam perjalanan pulang, Rhoma dan Tika menikmati pemandangan alam.

Tiba-tiba mobil yang dikemudikan Tika menabrak Selvi, kekasih Indra, hingga tewas. Saat di persidangan Rhoma mengganti Tika sebagai terdakwa karena tak ingin Tika menderita. Rhoma di penjara lima tahun.

Selama Rhoma di penjara, Indra mendekati Tika untuk menjadi kekasihnya. Namun, Tika hanya mau menerima Indra sebagai sahabat.

Sementara itu, Benny Compo, kakak kandung Selvy, berniat menenggelamkan nama Rhoma beserta musik dangdutnya. Karena bertingkah laku baik, Rhoma dikeluarkan dari penjara dalam kurun waktu tiga tahun.

Indra yang dendamnya tak pernah padam kepada Rhoma semakin nekat merayu Tika dan membuat kesalahpahaman antara Rhoma dan Tika.

Saat Rhoma berjalan-jalan mencari penghibur hati, ia melihat kenyataan musik dangdut mendapat gangguan dari Benny dan pengikutnya. Akhirnya, Rhoma mendirikan lagi Soneta Grup untuk membela musik dangdut yang telah dibina. Berkat rujukan teman-temannya, Rhoma menyadari Tika dipaksa oleh Indra dan mereka Bersatu kembali.

7. Menggapai Matahari II (1986)

Masih melanjutkan cerita sebelumnya, berkisah tentang kelanjutan percintaan Rhoma dan Tika (Yati Octavia). Meski Rhoma masuk penjara, Benny Compo (Ikang Fawzi) tak puas, sementara Soneta kocar-kacir. Kelompok musik Benny merajalela dengan musik hingar bingar.

Saat Rhoma bebas, pertentangan itu mengakibatkan permusuhan dua aliran musik yang akhirnya memutuskan duel di atas panggung. Rhoma melemparkan enam lagu.

Benny menyanyikan dua lagu. Soundtrack dari film ini berisikan lima lagu yang dibawakan oleh Rhoma Irama.

8. Nada-Nada Rindu (1987)

Karena kalah saing dalam musik maupun pacar, Ramlan (Pupung Harris) menggunakan cara licik. Camelia Malik alias Mia (Camelia Malik) pasangan duetnya, sukses besar dan berpacaran dengan Rhoma.

Ramlan mengusulkan ke produsernya untuk menarik Mia dari perusahaan rekaman saingannya. Niko, sang produser, menyutujuinya dan Ramlan beraksi dengan berbagai cara.

Suatu hari Ramlan ketahuan dan pergi menyepi ke tempat gurunya. Ia disarankan untuk mengganti nama dan memulainya kembali dari bawah.

Rhoma akhirnya bekerja sama dengan Niko, ini menimbulkan kecemburuan pada Ramlan. Saat di malam pertunjukan Rhoma, Mia membuka kedok Ramlan yang sebenarnya.

9. Bunga Desa (1988)

Rhoma mencoba mengangkat Ratna (Marissa Hosbach) dari kehidupannya yang gelap. Namun, dihalangi oleh germo yang memperkerjakan Ratna.

Dalam sebuah perkelahian, Ratna tertusuk pisau. Rhoma terguncang dan disarankan istirahat di desa.

Saat di desa, Rhoma jatuh cinta pada Sumi (Ida Iasha). Nasib buruk juga menimpa Sumi, ia diguyur asam belerang hingga wajahnya menjadi rusak.

Saat Rhoma kembali ke kota, ia dikejutkan dengan munculnya sosok wanita yang mirip Ratna dan Sumi.

10. Nada dan Dakwah (1991)

Film ini menceritakan masyarakat Desa Pandanwangi yang mendadak resah karena mendengar kabar desanya akan dibeli oleh seorang konglomerat. Konflik antar penduduk dengan anak buah konglomerat mulai bermunculan.

Konflik itu meluas bukan hanya tanah, tetapi juga masalah moral karena akan didirikan tempat hiburan dan biliar. Pimpinan pesantren daerah tersebut, H. Murad yang dibantu Rhoma, berusaha menyadarkan penduduk untuk tidak menjual tanahnya.

Hingga akhirnya masalah terselesaikan dan berhasil menyadarkan sang konglomerat.

Reporter: Laita Nur Azahra

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru

Renovasi Hunian Layak untuk Papua, Strategi Pemerintah Percepat PemerataanPembangunan

Oleh : Loa Murib Renovasi hunian layak di Papua bukan sekadar program fisik pembangunan rumah, melainkanstrategi besar pemerintah dalam mempercepat pemerataan pembangunan dan meningkatkankualitas hidup masyarakat di Tanah Papua. Di tengah berbagai tantangan geografis, sosial, danekonomi, kebijakan perumahan yang terintegrasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadifondasi penting untuk memastikan bahwa kesejahteraan tidak hanya terpusat di wilayahperkotaan Indonesia bagian barat, tetapi juga menjangkau wilayah timur secara adil danberkelanjutan. Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pembangunan Perumahandan Kawasan Permukiman yang digelar di Kantor Kementerian Dalam Negeri di Jakarta. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan dukungannya terhadap realisasiprogram Tiga Juta Rumah yang menjadi inisiatif Presiden Prabowo Subianto. Program tersebutdinilai strategis karena menyasar kebutuhan dasar masyarakat, terutama kelompokberpenghasilan rendah, melalui penyediaan hunian terjangkau dan layak huni. Dorongan kepada pemerintah daerah untuk memaksimalkan peluang program tersebut menjadisinyal kuat bahwa pembangunan perumahan tidak dapat berjalan parsial. Tito Karnavianmemandang bahwa kepala daerah memiliki tanggung jawab langsung dalam mengangkat harkatdan martabat masyarakat melalui penyediaan hunian yang layak. Dukungan regulatif pun diperkuat dengan kebijakan pembebasan retribusi Persetujuan Bangunan Gedung serta Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, yang harusditetapkan melalui peraturan kepala daerah. Langkah ini menunjukkan bahwa percepatanpembangunan bukan hanya soal anggaran, tetapi juga penyederhanaan birokrasi dankeberpihakan kebijakan. Optimalisasi Mal Pelayanan Publik di daerah juga menjadi instrumen penting untuk memangkaswaktu dan biaya perizinan. Dengan proses yang lebih cepat dan transparan, pembangunan rumahbagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat segera direalisasikan tanpa terhambat proseduradministratif yang berlarut-larut. Pendekatan kolaboratif antara pusat dan daerah inilah yang menjadi kunci agar program nasional benar-benar berdampak nyata di lapangan. Di Papua, respons terhadap kebijakan tersebut tampak progresif. Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi siap menggenjot program bantuanperumahan melalui berbagai skema, mulai dari rumah subsidi, renovasi rumah tidak layak huni, hingga pembangunan rumah susun. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah daerahtidak sekadar menjadi pelaksana, tetapi juga mitra aktif dalam merancang solusi yang sesuaidengan karakteristik sosial budaya masyarakat Papua. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan kebutuhan perumahan di Papua masih cukuptinggi. Kondisi ini tidak terlepas dari realitas sosial di mana satu rumah kerap dihuni olehbeberapa generasi sekaligus. Dalam konteks budaya Papua yang menjunjung tinggi ikatankekerabatan, pola hunian multigenerasi menjadi hal lumrah. Namun di sisi lain, keterbatasanruang dan kualitas bangunan yang belum memadai dapat berdampak pada kesehatan, kenyamanan, serta produktivitas keluarga. Karena itu, target pembangunan dan renovasi rumah di Papua pada 2026 menjadi langkahstrategis. Direncanakan sekitar 14 ribu unit rumah akan dibangun melalui berbagai skemabantuan, dengan tahap awal mencakup sekitar 2.100...
- Advertisement -

Baca berita yang ini